[POV : DEVI]
Jumat sore, pukul 15.00 WIB. Waktu di mana semangat kerja karyawan sudah menguap seperti spiritus yang lupa ditutup. Aku sedang asyik scrolling katalog diskon panci anti-lengket ketika pintu ruangan Pak Bos terbuka. Cahaya ilahi memantul dari kepala botaknya yang licin, menyilaukan satu ruangan Divisi Akunting.
"Devi!" panggilnya menggelegar.
Aku tersentak, HP-ku nyaris masuk ke gelas kopi. "Siap, Pak! Neraca rugi laba aman!"
"Bukan soal neraca. Ini soal Avanza." Pak Bos melempar kunci mobil ke mejaku. Klinting. "Itu mobil rental yang saya pakai buat jemput klien kemarin. Masa sewanya habis jam 7 malam ini. Kamu tolong balikin ke rentalnya ya. Alamatnya saya kirim via WA."
Aku melongo. "Hah? Saya Pak? Tapi Pak... Saya gak bisa nyetir mobil. Saya bisanya nyetir opini publik."
"Alasan!" Pak Bos melotot. "Kamu kan wanita emansipasi! Masa nyetir Avanza matic aja gak bisa? Pokoknya saya gak mau tahu. Mobil itu harus sampai di rental sebelum jam 7, atau kamu yang bayar denda keterlambatannya. Dendanya 500 ribu per jam!"
Pak Bos masuk lagi ke ruangannya, meninggalkan aku yang bengong seperti patung Pancoran. 500 ribu per jam? Gajiku bisa minus! Aku panik. Aku harus cari supir.
Target pertamaku: Mas Hanif. Senior Marketing Analys yang punya aura kebapakan dan hobi menolong gadis yang tersesat (asal gak ketahuan istrinya). Aku lari ke ruangannya. "Mas Haniiiif! Tolongin Devi!"
Hanif yang sedang dikejar target penjualan menatapku lelah. "Apa lagi Dev? Mau minjem duit buat beli Seblak?"
"Bukan! Tolong setirin mobil sewaan balik ke rental. Aku gak bisa nyetir!"
Hanif menggeleng tegas. "Gak bisa Dev. Gue harus closing 3 klien sore ini. Kalau enggak, dapur gue gak ngebul." Melihat wajahku yang mau nangis, Hanif menghela napas. Matanya tiba-tiba berbinar licik. "Tapi... gue tau siapa yang bisa."
"Siapa Mas? Satpam?"
"Bukan. Aryo."
"Aryo? OB?" Aku ragu. "Emang dia bisa nyetir? Dia kan biasanya cuma dorong gerobak sampah."
"Jangan salah," Hanif tersenyum misterius. "Aryo itu punya SIM A. Gue pernah liat dia parkirin mobil tamu dengan presisi milimeter. Lagian, dia lagi nganggur di pantry. Udah sana, minta tolong dia. Dia gak bakal nolak kalau sama lu."
Aku tidak punya pilihan. Denda 500 ribu menghantui. Aku berlari ke pantry.
[POV : ARYO]
Aku sedang mengelap galon air mineral dengan penuh kasih sayang ketika pintu pantry terbuka kasar. Devi wanita pujaan hatiku berdiri di sana. Napasnya memburu, wajahnya merah padam (efek lari atau blush on ketebelan, entahlah), dan matanya menatapku tajam.
"Mas Aryo! Mas Aryo harus tolongin aku! Ini soal hidup dan mati (dompetku)!"
Jantungku, organ bodoh yang tidak punya pendirian ini, langsung berdetak 180 BPM. "A-ada apa Mbak Devi? Ada kecoa terbang?"
"Bukan! Mas Aryo bisa nyetir mobil kan? Tolong anterin aku balikin mobil rental Bos. Sekarang. Please... Mas Hanif bilang kamu bisa."
Aku membeku. Satu mobil dengan Devi? Berdua saja? Di ruang tertutup ber-AC sempit bernama Avanza? Sistem sarafku berteriak: BAHAYA! POTENSI GAGAP DAN SALAH TINGKAH MENINGKAT 1000%! Tapi hatiku berbisik: Ini kesempatan, Yo. Kapan lagi bisa berduaan sama Wanita yang lu cintai tanpa gangguan kerjaan?
"B-bisa sih Mbak. Tapi..."
"Oke sip! Gak pake tapi! Kita berangkat 15 menit lagi! Nih alamatnya!" Devi menyodorkan HP-nya ke wajahku.
Aku melihat alamat yang tertera di layar Google Maps. "RENTAL MOBIL BAROKAH JAYA ABADI SENTOSA". Lokasi: Pinggiran kota, daerah perbatasan yang terkenal dengan julukan "Jalur Tengkorak". Jarak tempuh: 2 jam (kalau lancar). Waktu sekarang: 15.30. Estimasi sampai: 17.30 (Maghrib/Gelap).
Otakku langsung masuk mode analisis taktis.
Rute: Melewati Jalan Inspeksi Kalimalang ujung, lalu masuk ke Jalan Raya Perkebunan Tebu yang minim lampu jalan.
Kondisi Jalan: Berlubang, sepi, dan dikenal sebagai zona merah pembegalan motor dan mobil.
Statistik Kriminal: 15 kasus pembegalan dalam 3 bulan terakhir di radius 5 km dari titik drop-off.
Target: Mobil Avanza Veloz terbaru (Mobil sejuta umat, paling laku di pasar gelap/kanibal sparepart).
Penumpang: Aku (Kurus, tampang pas-passan) dan Devi (Wanita, mungil, menarik).
Kesimpulan: KAMI ADALAH SASARAN EMPUK.
"Waduh Mbak..." gumamku. "Ini jalurnya rawan lho. Yakin mau lewat sini sore-sore?"
"Yakin Mas! Udah ikutin aja maps-nya! Yang penting mobil balik sebelum didenda!" Devi tidak peduli. Dia wanita yang nekat kalau urusan duit.
Aku menghela napas. Aku tidak bisa membiarkan Devi masuk ke kandang singa tanpa persiapan. "Oke Mbak. Saya siap-siap dulu sebentar. 10 menit."
Devi pergi ke lobi. Aku mengunci pintu pantry.
Aku membuka lemari penyimpanan alat kebersihan. Aku bukan James Bond yang punya pistol Walther PPK. Aku Aryo, OB yang punya cairan pembersih lantai.
INVENTARIS SENJATA DARURAT:
Aku memasukkan semua "senjata" itu ke dalam tas ransel bututku. Aku juga menyelipkan sebuah cutter besar di saku celana cargo-ku (hanya untuk keadaan sangat darurat).
Aku menatap cermin di wastafel. Wajahku pucat, keringetan. "Aryo, lu bukan mau ngepel. Lu mau perang ngelindungin Tuan Putri."
Aku keluar pantry dengan langkah mantap (walau dengkul gemetar).
[POV: DEVI]
Kami berangkat. Mobil Avanza Veloz hitam itu meluncur membelah kemacetan Jakarta. Aku duduk di kursi penumpang depan, di sebelah Mas Aryo. Jujur, awalnya aku agak ragu. Tapi ternyata Mas Aryo nyetirnya jago banget. Halus. Gak ada rem mendadak. Dia bahkan bisa nyalip kopaja dengan manuver zig-zag yang estetik tapi aman. Ternyata bener kata Mas Hanif, di balik tampang OB-nya yang biasa-biasa saja, Aryo punya skill terpendam.
Suasana di mobil hening. Cuma suara AC menderu dan radio yang memutar lagu galau. Sebagai seorang Ekstrovert sejati, keheningan adalah musuhku. Aku harus ngomong.
"Mas Aryo," panggilku.
Aryo kaget, tangannya mencengkeram setir lebih kuat. "Y-ya Mbak?"
"Kamu kok diem aja sih? Tegang banget kayak lagi bawa presiden."
"Ehh... anu Mbak. Saya lagi... konsentrasi. Mengukur jarak aman dan kalkulasi rasio bensin."
Aku tertawa renyah. "Hahaha! Kamu tuh lucu ya Mas. Ngomongnya kadang kayak ilmuwan. Btw, kamu aslinya mana Mas?"
"Jawa Tengah Mbak."
"Jauh juga ya merantau. Di sini ngekos?"
"Iya Mbak. Kosan petak. Sempit, tapi cukup buat tidur sama simpen koleksi sapu."
Aku terkikik lagi. "Sapu dikoleksi. Eh Mas, tau gak sih, kemaren Si Botak (Pak Bos) itu marah-marah gara-gara Tupperware istrinya ilang di pantry. Padahal yang ngilangin dia sendiri, ketinggalan di mobil klien. Kocak banget mukanya pas dimarahin bininya lewat telepon."
Aku terus bercerita. Tentang Si Botak, tentang Mas Hanif yang takut istri, tentang Mbak Novi HRD yang hobi ghibah, tentang harga Seblak yang makin mahal tapi kerupuknya makin dikit. Aku ngoceh panjang lebar. Mas Aryo cuma jawab: "Oh ya?", "Wah masa Mbak?", "Hehe iya Mbak."
Tapi aku nyaman. Aryo adalah pendengar yang baik. Dia tidak memotong, dia tidak menghakimi, dan sesekali dia melirikku dengan tatapan... lembut. Tatapan yang bikin aku merasa dihargai, bukan cuma sebagai karyawan bawahan.
Satu jam berlalu. Kami sudah keluar dari jalan tol. Masuk ke jalanan pinggiran yang mulai sepi. Pohon-pohon besar mulai mendominasi pemandangan. Matahari sudah mulai turun, langit berubah oranye kemerahan. AC mobil yang dingin dan jok yang empuk (plus rasa capek abis kerja seharian) mulai menyerangku. Mataku berat. Suara Aryo yang bergumam "Awas lubang..." terdengar makin jauh.
"Mas... aku tidur bentar ya... Nanti kalau udah deket bangunin..."
"Iya Mbak. Tidur aja. Aman."
Aku menyandarkan kepala ke jendela (yang sudah diganjal bantal leher punyaku). Dalam hitungan detik, aku sudah berpindah ke alam mimpi.
[POV: ARYO]
Sudah 30 menit Devi tertidur. Jalanan semakin sepi dan rusak. Kami melewati area persawahan dan pabrik-pabrik tua yang sudah tutup. Lampu jalan ada, tapi kebanyakan mati atau kedap-kedip kayak di film horor. Insting waspadaku naik 100%. Mataku rajin mengecek spion tengah dan spion samping. Sejauh ini aman. Belum ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Aku melihat ke samping. Devi. Dia tertidur pulas. Kepalanya miring ke arah jendela mobil sekarang. Mulutnya sedikit terbuka (sedikit banget, masih estetik). Napasnya teratur. Dia terlihat sangat... damai. Hilang sudah imej "Wanita Karir Galak" atau "Petarung Warteg". Yang ada cuma Devi, gadis mungil yang kelelahan mengejar mimpi di ibu kota.
Cahaya matahari sore (Golden Hour) menembus kaca mobil, menerpa wajahnya. Kulitnya bersinar keemasan. Bulu matanya lentik. Ya Tuhan. Cantik banget. Lukisan Monalisa kalah. Gal Gadot lewat.
Setan Bucin di kepalaku berbisik: "Yo, ini momen langka. Abadikan, Yo. Buat wallpaper HP. Buat penyemangat pas lagi capek nyuci WC."
Aku menelan ludah. Jalanan di depan lurus dan kosong. Di sebelah kiri ada bahu jalan yang agak lebar di bawah pohon rindang. Aku menyalakan lampu hazard. Menepikan mobil pelan-pelan. Berhenti. Mesin tetap nyala, AC tetap nyala.
Aku mengambil HP kentang-ku dari saku. Membuka kamera. Tanganku gemetar. Aku merasa seperti stalker kriminal. Tapi dorongan untuk memiliki foto Devi yang peaceful ini terlalu kuat.
Aku mengarahkan kamera ke wajah Devi. Cekrek (Silent Mode). Hasilnya: Agak ngeblur karena tanganku gemeteran. Dan terlalu jauh. Kurang detail.
"Dikit lagi Yo. Zoom dikit. Biar keliatan detail bulu matanya," bisik setan itu lagi.
Aku melepas seatbelt-ku. Aku mencondongkan tubuhku ke arah Devi. Perlahan. Sangat pelan. Aku menahan napas agar tidak membangunkannya. Jarak wajahku dan wajahnya kini hanya 15 cm. Aku bisa mencium aroma parfumnya, vanilla campur stroberi. Wangi surga.
Aku mengangkat HP lagi. Fokus. Di layar HP, wajah Devi memenuhi frame. Sempurna. Jariku siap menekan tombol shutter.
Tiba-tiba... Alis Devi berkerut. Mulutnya berkomat-kamit. "Jangan... lari..." gumamnya dalam tidur.
Aku terpaku. Mimpi buruk?
Detik berikutnya, mata Devi belum terbuka, tapi tangan kanannya bergerak dengan kecepatan kilat. Refleks bawah sadar seorang ahli bela diri yang merasa ada "ancaman" di zona pribadinya.