Selasa, Jam 23.45 WIB. Lokasi: IndoApril Fresh (Bukan nama sebenarnya). Status: Siaga 1 (Dompet Kritis & Haus Akut).
Malam ini hening. Hanya suara dengungan freezer es krim yang menemani kesendirianku. Aku berdiri di Lorong 3 (Minuman Sachet), menatap deretan kopi instan dengan tatapan nanar seolah sedang memecahkan kode Enigma. Di telapak tanganku, tergenggam recehan hasil mengorek sela-sela sofa pantry kantor tadi sore. Total Aset: Rp 4.500,-.
Otakku berputar melakukan kalkulasi ekonomi mikro yang rumit:
Harga Kopi Cappuccino: Rp 5.000,- (Kurang gopek).
Harga Kopi Hitam: Rp 2.500,- (Cukup, tapi lambungku lagi sensitif).
Harga Air Mineral: Gratis di kantor, tapi kantor udah dikunci.
"Gusti..." gumamku dramatis. "Kurang 500 perak doang. Apa gue harus gadein KTP buat nebus sisa gopeknya?"
Saat aku sedang menimbang-nimbang untuk menyelundupkan satu sachet kopi ke dalam kaos kaki (bercanda, aku jujur), lonceng pintu berbunyi. Tring-Tring!
Tiga orang masuk.
Bukan pembeli yang nyari rokok ketengan.
Mereka masuk dengan formasi taktis segitiga (Delta Formation). Helm full-face tertutup, jaket kulit imitasi yang bau apek, dan senjata di tangan.
"TIARAP SEMUA! INI PERAMPOKAN! KASIR, BUKA BRANKAS ATAU OTAK LU GUE ECER DI LANTAI!" Teriak Si Leader.
Mas Budi, kasir malang yang sedang push rank Mobile Legends, langsung mengangkat tangan, HP-nya jatuh. "Ampun Bang! Jangan tembak!"
Aku bersembunyi di balik tumpukan kardus MamyPoko Pants di ujung lorong. Jantungku berdetak normal. Napasku teratur. Bukan karena aku berani. Tapi karena aku kesal.
Mereka mengganggu transaksiku. Kalau Mas Budi pingsan atau ditembak, tokonya tutup. Kalau tokonya tutup, aku gak bisa ngopi. Dan Aryo Baskara tanpa kopi adalah bencana alam.
Waktu melambat hingga nyaris berhenti.
Dunia di sekelilingku berubah menjadi abu-abu. Hanya target dan objek potensial yang menyala merah. Grid data digital muncul di retinaku, membedah anatomi musuh dan fisika lingkungan.
TARGET ANALISIS:
TARGET 1 (THE LEADER):
Senjata: Pistol Rakitan .38 Special.
Kondisi: Jari telunjuk tegang di pelatuk. Bahu kanan turun (Skoliosis ringan?).
Ancaman: Lethal Range 10 meter. Prioritas Utama.
TARGET 2 (THE MUSCLE):
Fisik: Tinggi 185 cm, Berat 100 kg (Obesitas tipe 1). Massa otot tertutup lemak.
Senjata: Golok Daging.
Kelemahan: Titik berat tubuh tinggi. Lutut kiri diperban (Cedera lama?). Keseimbangan lateral: BURUK.
TARGET 3 (THE PSYCHO):
Fisik: Kurus, wirry. Hiperaktif. Mata merah (Stimulan/Meth).
Senjata: Pisau Lipat.
Lokasi: Menyisir lorong menuju posisiku.
Kelemahan: Tulang rusuk menonjol (kurang gizi). Ambang rasa sakit tinggi, butuh trauma fisik masif untuk melumpuhkan.
INVENTORY (ASET TOKO):
Posisiku : Lorong Frozen Food.
Weapon A: Ayam Utuh Beku (Keras setara Batu Bata).
Weapon B: Minyak Goreng 2 Liter.
Weapon C: Microwave Industrial.
Weapon D: Tabung Gas Butana (Portable).
STRATEGI:
Discombobulate. (Kacaukan).
Lumpuhkan secara fisik. Hancurkan secara mental.
Buat mereka menyesal.
"Mari kita mulai pelajaran anatomi."
Target 3 (Si Psycho) berjalan memasuki lorongku. Dia menjilat bilah pisaunya (menjijikkan).
"Ada tikus ngumpet ya di sini? Keluar lu..."
Jarak: 4 meter.
Waktu kontak: 3 detik.
Aku berdiri di depan Freezer Daging. Aku membuka pintu freezer. Dingin menusuk.
Di sana, teronggok Ayam Negeri Utuh (Whole Chicken) seberat 1.2 kg yang sudah membeku selama 3 minggu. Kerasnya melebihi beton.
[VISUALISASI]
[VISUALISASI - SELESAI]
"Eksekusi."