[POV DEVI]
Jumat Pagi, Jam 09.00 WIB. Ruangan Mas Hanif (Analis Marketing ).
"Dev, duduk. Jangan pingsan ya. Siapin jantung lu."
Mas Hanif menyambutku dengan wajah serius. Tirai ruangannya ditutup rapat. Lampu dimatikan. Hanya ada cahaya dari layar monitor PC-nya yang menyala terang. Di mejanya, ada sebungkus popcorn karamel.
"Ada apa Mas? Kita mau nonton film horor? Atau omset turun lagi?" tanyaku cemas.
"Lebih horor dari omset turun. Liat ini."
Hanif menekan tombol Play. Di layar, muncul rekaman CCTV hitam putih. Resolusinya agak burik, ada tulisan CAM 02 - MINIMARKET di pojok kiri atas.
Aku menyipitkan mata. "Ini... Minimarket Fresh deket kantor?"
"Ssst. Liat orang yang ngumpet di balik rak popok itu."
Aku melihat sosok kurus, memakai kaos oblong belel. Itu... ARYO. "Mas Aryo? Ngapain dia? Maling susu?"
"Tunggu dulu."
Tiba-tiba, tiga perampok bersenjata masuk. Pistol, golok, pisau. Jantungku berdegup kencang. "Mas! Itu perampok beneran?!"
"Diem. Liat Aryo."
Dalam video itu, aku melihat Aryo bergerak. Bukan lari ketakutan. Dia bergerak... taktis, penuh strategi, dan berhasil. Ketiga prampok itu tergeletak tidak berdaya. Aryo melumpuhkan semuanya.
Video berakhir dengan Aryo membayar kopi sachet pake uang receh, lalu pergi santai seolah baru aja namatin game Candy Crush.
Aku melongo. Rahangku jatuh sampai lantai. "I-itu... Aryo? OB kita?"
Hanif mengangguk sambil ngunyah popcorn. "Gila kan? Gue dapet rekaman ini dari sepupu gue yang kerja IT di kepolisian. Katanya CCTV aslinya udah dihapus sama kasirnya atas permintaan 'Pahlawan Misterius'. Tapi sepupu gue berhasil recovery datanya."
Otakku berputar cepat. Potongan-potongan puzzle mulai tersusun.
"Mas Hanif..." bisikku gemetar. "Aryo itu siapa sebenernya? Gak mungkin dia cuma OB. Gak mungkin orang gaji UMR punya skill seefektif itu!"
"Nah itu!" Hanif mengebrak meja. "Teori gue: Dia itu Mantan Agen Rahasia yang lagi amnesia. Atau Pembunuh Bayaran yang tobat. Atau... Alien yang lagi riset tentang cara hidup manusia miskin."
"Gue harus selidiki," kataku mantap. Jiwa detektifku (yang biasanya cuma dipake buat stalking mantan) terbakar. "Besok Sabtu libur. Gue bakal buntutin dia."
Hanif nyengir. "Gue dukung. Nih alamat kosan Aryo. Gue dapet dari data HRD pas nyogok admin pake martabak. Hati-hati Dev. Kalau dia beneran agen rahasia, salah langkah dikit, lu bisa jadi kornet."
Sabtu Pagi, Jam 07.00 WIB. Lokasi: Gang Sempit di daerah Jakarta Selatan (Kawasan Padat Penduduk).
Aku, Devi, sudah siap. Penampilanku hari ini:
Kacamata hitam lebar (biar misterius).
Masker kesehatan (biar gak dikenali).
Jaket Hoodie kegedean warna abu-abu (biar menyatu dengan aspal).
Koran bekas (buat properti ngumpet kayak di film kartun).
Aku memarkir motorku jauh di depan minimarket, lalu jalan kaki masuk ke gang kosan Aryo. Baunya... bau got campur nasi uduk. Khas pemukiman warga.
Aku menemukan rumah kos Aryo. Bangunan dua lantai cat hijau lumut yang sudah mengelupas. Aryo di kamar nomor 4 lantai bawah (info valid dari Hanif). Aku bersembunyi di balik tiang listrik beton. Masalahnya: Tiang listriknya kurus, badanku (walau mungil) tetep keliatan nongol kiri kanan. Tapi aku yakin, dengan skill stealth yang kupelajari dari nonton Mission Impossible, aku tidak terlihat.
Jam 07.30 WIB. Pintu kamar nomor 4 terbuka. Aryo keluar. Dia memakai kaos oblong putih yang lehernya udah melar, celana pendek kolor gambar SpongeBob, dan handuk kecil di leher. Rambutnya acak-acakan kayak sarang burung.
"Target terlihat," bisikku pada diri sendiri (pura-pura pake earpiece). "Subjek terlihat... sangat tidak berbahaya. Kolor SpongeBob? Serius?"
Aryo berjalan keluar gerbang kosan. Aku membuntuti dari jarak aman (10 meter). Aku jalan mengendap-endap. Setiap kali Aryo nengok dikit, aku langsung pura-pura baca koran (padahal korannya kebalik).
AKTIVITAS 1: TRANSAKSI RAHASIA?
Aryo berhenti di gerobak Bubur Ayam Bang Kumis. Dia ngobrol serius sama tukang buburnya. Aku menajamkan telinga dari balik tong sampah warga.
"Bang, biasa ya. Gak pake kacang. Kerupuknya banyakin. Kuahnya dipisah." "Siap Mas Aryo. Sambelnya?" "Dikit aja. Lambung lagi perih."
Aku mencatat di notes HP:
Kode Rahasia: "Gak Pake Kacang" = Tanpa Jejak?
Kerupuk Dibanyakin = Butuh amunisi tambahan?
Kuah Dipisah = Operasi terpisah?
Lambung Perih = Kode bahaya? Atau dia emang kena maag karena miskin?
Aryo duduk makan bubur. Dia memakan buburnya dengan cara DIADUK. Aku menahan napas. Psikopat. Orang yang mengaduk bubur ayam biasanya punya kecenderungan sosiopat yang tidak stabil. Teoriku makin kuat. Aryo berbahaya.
Setelah makan, dia membayar. Dia mengeluarkan dompet yang sudah sobek ujungnya. Dia menghitung uang receh lama sekali. "Bang, kurang seribu boleh ngutang gak? Besok saya bayar pas gajian." "Yaelah Mas Aryo, utang mulu. Yaudah sono."
Aku mencatat lagi:
Subjek pandai negosiasi finansial. Memiliki jaringan informan (Tukang Bubur) yang solid.
AKTIVITAS 2 : EKSPLORASI MARKAS & SENJATA BIOLOGIS
Jam 09.00 WIB. Aryo kembali ke kosan. Dia keluar lagi membawa ember cucian. Dia menuju tempat laundry kiloan di ujung gang.
Aku mengikutinya lagi. Kali ini aku bersembunyi di balik jemuran tetangga (sempat kebelit daster ibu-ibu, tapi aku berhasil lolos).
Aryo menyerahkan cuciannya. Mbak Laundry memeriksa kantong celana Aryo. "Mas, ini ada bon utang warteg ketinggalan di saku." "Oh iya Mbak, makasih. Jangan ilang, itu bukti sejarah."
Aku mengintip isi ember cuciannya. Siapa tau ada baju taktis anti-peluru? Atau seragam ninja? Ternyata isinya: Kaos kampanye 2019GantiPresiden, kemeja kerja yang kerahnya udah kuning, dan... beberapa celana dalam yang warnanya luntur.
"Mencurigakan," gumamku. "Pasti dia menyembunyikan gear aslinya di tempat lain. Ini cuma decoy (umpan)."
Jam 11.00 WIB. Aryo pergi ke Warnet Game Center yang gelap dan bau rokok. "Nah! Ini dia!" pikirku. "Dia pasti mau kontak markas pusat CIA! Atau nge-hack satelit Pentagon!"
Aku menyusul masuk. Aku menyewa bilik nomor 12, tepat di belakang bilik Aryo (nomor 11). Aku mengintip dari celah sekat. Di layar monitor Aryo terpampang kode-kode rumit. Hitam hijau. Matrix style. Jantungku berdegup. Benar dugaanku! Dia Hacker!
Aku memajukan kepalaku sedikit lagi untuk melihat lebih jelas. Ternyata itu bukan kode nuklir. Itu Layar Discord. Aryo sedang mengetik dengan kecepatan dewa. Chat: "WOY TANK! MAJU DONG GOBLOK! JANGAN AFK! GUE HEALER MANA CUKUP DARAHNYA!"
Dia lagi main Dota 2. Dia main Support. Dan dia dimaki-maki bocah SMP lewat voice chat. "Woy Aryo noob! Uninstal aja lu!" Aryo membalas lewat mic: "Sabar Dek, mouse saya macet, kabelnya digigit tikus semalam."
Aku tepuk jidat. Hacker apaan yang mousenya digigit tikus? Atau... ini cuma kedok? Kode "Mouse Digigit Tikus" mungkin artinya "Ada penyusup"? JANGAN-JANGAN DIA TAU AKU DI SINI?!
Aku panik. Aku langsung log out (rugi 3 ribu padahal baru 5 menit) dan lari keluar warnet.
Jam 16.00 WIB. Matahari sore mulai condong ke barat, membuat bayangan gedung-gedung Jakarta memanjang. Aku sudah membuntuti Aryo seharian penuh, dan hasilnya... NILAI E.
Sekarang, Aryo sudah mandi sore. Dia duduk di kursi plastik reyot di teras kosannya. Sendirian. Aku mengintip dari balik gerobak sampah warga (baunya nauzubillah, aku harus mandi kembang 7 rupa abis ini).
"Ini dia," pikirku. "Momen kebenaran. Biasanya agen rahasia bakal kontak markas pusat jam segini."
Aku menggunakan fitur zoom maksimal di kamera HP-ku (yang lensanya agak burem kena minyak wajah). Aryo mengeluarkan sebuah buku tebal dari tasnya. Apakah itu manual perakitan bom nuklir? Atau daftar target pembunuhan?
Aku menyipitkan mata membaca judulnya: "TEORI RELATIVITAS UMUM" (Karya Albert Einstein). ".
Aku menurunkan HP-ku. "Hah?"