Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #13

Motor Kesayangan Dicuri

[POV : DEVI

Sabtu Pagi, Jam 08.00 WIB. Matahari Jakarta pagi ini bersinar dengan kepalsuan yang sempurna. Langit biru, burung gereja berkicau di atas kabel listrik yang semrawut, dan udara belum terlalu tercemar oleh dosa-dosa knalpot Kopaja.

Aku, Devi Leona, wanita karier yang di kantor dikenal sebagai "Singa Betina" tapi di kosan hanyalah "Kucing Anggora yang Kehabisan Whiskas", sedang menjalani misi maha penting di hari libur: Membeli Sabun Cuci Muka. Stok sabun mukaku habis total. Tadi pagi aku terpaksa cuci muka pakai sabun batangan dan hasilnya kulitku terasa ketarik seperti baru saja operasi plastik gagal.

Aku mengeluarkan motor kebanggaanku. Honda Beat Pink tahun 2015. Motor ini bukan sekadar kendaraan. Dia adalah saksi bisu perjuanganku di ibukota. Dia saksi aku nangis di helm saat diputusin Samuel. Dia saksi aku teriak-teriak nyanyi lagu galau di jalan layang Non-Tol. Aku membelinya nyicil di mokas, cicilannya lunas dengan keringat, darah, dan bonus tahunan yang tidak seberapa. Namanya "Si Pinky".

Aku memacu Si Pinky menuju minimarket "Indomaret Point" di ujung jalan. Jaraknya cuma 500 meter, tapi aku malas jalan kaki (prinsip warga +62: ke warung depan rumah pun naik motor). Sampai di parkiran, suasana ramai lancar. Di pojok, duduk sesosok makhluk berseragam oranye rompi parkir. Namanya Jono (aku tahu karena dia sering dipanggil itu). Dia sedang asyik menatap layar HP, jarinya menekan-nekan layar dengan nafsu judi online yang membara.

"Titip ya Bang Jono!" teriakku sambil standar samping. Jono tidak menoleh. Matanya terpaku pada slot Zeus. "Yoi Neng. Aman terkendali."

Aku masuk ke dalam minimarket. Hawa dingin AC menyambutku. Aku berjalan ke lorong kosmetik. Memilih-milih sabun muka. "Hmm... yang anti-acne atau brightening ya? Atau yang anti-aging? Duh, tua banget gue." Dilema sabun muka ini memakan waktu tepat 7 menit 45 detik. Setelah membayar (dan menolak tawaran tebus murah minyak goreng), aku melenggang keluar sambil bersenandung lagu NewJeans.

TAPI... Saat pintu kaca otomatis terbuka... Pemandangan di depanku membuat jantungku berhenti berdetak.

Parkiran itu... KOSONG. Di tempat Si Pinky tadi berdiri, kini hanya ada ruang hampa udara. Helm bogo bututku tergeletak pasrah di aspal, menggelinding pelan tertiup angin. Si Pinky hilang. Dan Bang Jono, si tukang parkir Zeus itu, juga lenyap ditelan bumi.

Hening. Otakku memproses informasi ini dengan lambat. Loading... 404 Not Found. Satu detik... Dua detik...

"MOTOR GUEEEE!!!!!!"

Teriakanku memecah keheningan pagi. Nadanya mencapai oktaf tertinggi, membuat seorang ibu-ibu yang lagi beli galon kaget sampai galonnya jatuh menggelinding. Aku berlari ke titik parkir. Meraba-raba udara kosong, berharap ini cuma prank atau ilusi optik David Copperfield. Nihil. Motor itu benar-benar hilang. Aset utamaku. Kakiku. Belahan jiwaku.

"HUAAAAAAA!!! PINKY!!!" Aku jongkok di aspal, menangis meraung-raung. Masa bodoh sama image wanita karier elegan. Sekarang aku cuma gembel yang kehilangan harta karun.

Tanganku gemetar merogoh saku, mengambil HP. Siapa yang harus kuhubungi? Polisi? Prosedurnya lama, keburu motornya dipretelin jadi baut. Papa? Nanti disuruh pulang kampung. Mas Hanif! Senior Marketing yang katanya punya banyak koneksi "orang dalam"!

Aku menelpon Hanif. "Halo Mas Hanif!! HUAAAAA! TOLONGIN AKU MAS!" "Waduh Dev! Kenapa?! Kantor kebakaran?! Siapa yang hamil?!" suara Hanif panik di seberang sana, terdengar suara gamelan dan piring berdenting. "Motor aku ilang Mas! Di Indomaret depan kosan! Barusan banget! Tolongin aku Mas!"

"Aduh Dev... Gue lagi di Bekasi, kondangan. Jauh banget. Macet total."

"TERUS GIMANA MAS?! AKU HARUS APA?!"

"Tenang Dev... Tarik napas... Gue kirim 'Unit Spesial' ke sana sekarang. Dia lagi kosong. Apa lagi kalau lu yang minta, pasti langsung gercep. Tunggu di situ. Jangan kemana-mana. Tahan jangan ngunyah aspal." Klik. Telepon mati.

Unit Spesial? Siapa? Densus 88? Kopassus? Atau Debt Collector kenalan Hanif? Aku menunggu sambil sesenggukan, menghapus ingus dengan lengan baju. Sepuluh menit berlalu.

Terdengar suara mesin motor yang kasar dan menyedihkan. Klotok-klotok-ngueng... Sebuah Honda Supra X 125 (yang bodinya diikat kabel ties) berhenti tepat di depanku. Pengendaranya turun. Tubuhnya kurus, pakai jaket bonusan dealer motor yang warnanya sudah pudar, dan celana bahan cingkrang.

Aryo. Si OB kantor. Si Tukang Pel. Si Pembuat Kopi.

Aku melongo. Air mataku berhenti sejenak karena saking bingungnya. "Mbak Devi?" sapa Aryo dengan wajah datar tanpa dosa. "Mas Hanif bilang Motor Mbak Devi ilang?"

Emosiku meledak lagi. "KOK KAMU SIH MAS?! Mas Hanif bilang mau kirim Unit Spesial! Aku butuh Preman Pasar! Aku butuh Polisi Militer! Aku butuh John Wick! Kenapa yang dateng malah kamu?!"

Dia membuka helm batoknya, merapikan rambutnya yang lepek. Dia menatapku dengan sorot mata yang aneh. Bukan sorot mata OB yang takut dimarahin. Tapi sorot mata... Serius.

"Mbak," suaranya tenang, kontras dengan histerisnya aku. "Tenang, saya akan bantu sebisa saya, setidaknya kalau saya tidak bisa membantu, saya bisa bantu ngaminin doa mbak devi supaya motornya ketemu, gimana?"

Kalimat itu menampar kewarasanku. Aku menghapus air mata. "Aku Percaya padamu mas"


[POV: ARYO]

Melihat Devi menangis di pinggir jalan itu seperti melihat Dewi Athena yang jatuh ke selokan. Ngenes, tragis, tapi tetap estetik. Namun, aku tidak punya waktu untuk mengagumi kecantikannya yang berantakan. Waktu adalah musuh. Setiap detik berlalu, motor itu semakin jauh menjuju pengepul kanibal.

Aku memindai area parkir dalam hitungan detik.

  1. Titik Hilang: Aspal bersih. Tidak ada pecahan kaca lampu (berarti motor tidak dijatuhkan/dipaksa kasar).
  2. Waktu: Devi belanja sabun muka. Rata-rata wanita belanja kebutuhan primer: 5-10 menit. Sangat singkat.
  3. Modus: Kunci T. Profesional. Cepat. Senyap.
  4. Anomali Terbesar: Tukang Parkir.

Mataku menangkap sosok Jono (aku pernah kesini beberapa kali), si tukang parkir, yang baru saja muncul dari balik tiang listrik. Dia kembali duduk di posisinya, pura-pura sibuk merapikan motor Mio. Tapi bahasa tubuhnya berteriak aneh. Dia berkeringat berlebih (padahal pagi ini adem). Matanya darting (bergerak liar) ke arah kami. Dan dia meremas-remas rompi oranyenya.

Aku berjalan masuk ke minimarket sebentar.

 "Mbak, CCTV parkiran aktif?"

"Aktif Mas."

"Boleh liat 10 menit terakhir?"

"Gak boleh Mas, harus ada surat polisi."

 "Mbak," aku menatap kasir itu tajam, menggunakan teknik Persuasi Hipnotik. "Teman saya di luar itu wanita yang sedang PMS dan kehilangan motor. Kalau dia ngamuk di sini, rak chiki Mbak bakal jadi korban. Mbak mau itu terjadi?" Mbak kasir menelan ludah. "Oke Mas, liat aja bentar."

Aku melihat rekaman. Kualitasnya burik, 360p. Tapi cukup jelas. Pukul 08.08. Seorang pria berjaket hitam mendekati motor Devi. Dan tepat di detik itu... Jono berdiri, merentangkan tangan seolah sedang meregangkan otot, tepat di depan lensa kamera. Dia memblokir pandangan CCTV selama 15 detik krusial. Saat dia minggir, motor Devi sudah hilang.

Jono adalah Spotter dan Blocker.

Aku keluar. Mataku mencari alat bantu. Di selokan kering di samping toko, ada sisa material renovasi. Sebuah Linggis Besi Ulir berkarat. Panjang 60cm. Diameter 18mm. Solid Steel. Aku memungutnya. Berat.

"Mbak Devi," panggilku. Devi menoleh, matanya masih sembab.

"Apa?"

"Ikut saya ke belakang toko. Kita butuh ngobrol sama Jono."

Aku menghampiri Jono. "Bang, ikut bentar. Ada komplain karcis." "Gak bisa Mas, lagi jaga," tolak Jono nyolot. Aku mencengkeram bahu Jono, tepat di titik saraf antara leher dan bahu (Brachial Plexus). Aku menekannya sedikit. "Aaaargh!" Jono meringis. Tangannya lemas. "Ikut. Atau saya tekan lebih keras sampai abang ngompol."

Kami menyeret Jono ke gang belakang minimarket yang kumuh, di antara tumpukan kardus dan bau sampah busuk. "Bang, motor tadi dibawa kemana?" tanyaku dingin. "Sumpah Mas! Demi Tuhan! Saya gak tau! Saya tadi sakit perut ke WC!" Jono masih denial.

Aku menghela napas. Orang seperti ini butuh Visual Shock. Aku menoleh ke Devi. "Mbak Devi. Tolong pegang besi ini." Aku menyerahkan linggis besi berkarat itu. Devi bingung. "Buat apa Mas? Buat mukul dia?" "Jangan. Nanti pasalnya berat. Saya mau Mbak Devi menyalurkan emosi. Bayangkan besi ini adalah leher orang yang nyuri Si Pinky. Bayangkan ini tulang keringnya. Patahkan, Mbak."

Devi menatap besi itu. Lalu menatap Jono. Api amarah menyala di mata Devi. Aura membunuh (Killing Intent) menguar deras. Dia memegang ujung-ujung linggis itu dengan kedua tangan mungilnya. Kuda-kuda dipasang. Napas ditarik. "HIIIYYYYAAAAA!!!!"

KREITTT.... KRAK... PENG!!!

Suara logam yang menyerah terdengar mengerikan. Besi linggis solid setebal jempol kaki itu melengkung. Bukan cuma melengkung, tapi terpelintir sampai membentuk huruf U. Karat-karatnya rontok berhamburan. Devi melempar besi yang sudah cacat itu ke kaki Jono. TRANG!

Jono membelalak. Mulutnya menganga. Dia melihat besi itu, lalu melihat lengan Devi yang mulus. Wajah Jono berubah jadi hijau. Dia mundur sampai mentok tembok. "M-monster..." bisiknya.

Aku mendekatkan wajahku ke Jono, tersenyum ramah (tapi di mata Jono pasti kayak psikopat). "Bang Jono. Itu besi baja lho. Tulang manusia lebih lunak dari itu. Mbak Devi ini lagi frustasi motornya hilang, katakan sejujurnya, atau Abang mau jadi barang selanjutnya?"

"AMPUN MAS! AMPUN MBAK!" Jono langsung bersujud, mencium sepatu Devi. "NGAKU! CEPET!" bentak Devi.

"Sindikat 'The Wrench'! Markasnya di Gudang 13 Cileungsi! Saya cuma dibayar 50 ribu buat nutupin CCTV! Sumpah saya gak tau siapa namanya, tapi ciri-cirinya pake jaket kulit ada gambar tengkorak!"

Informasi lokasi: Gudang 13 Cileungsi. Jarak sekitar 15 km dari sini. Tapi masalahnya: Waktu. Kalau mereka sudah sampai gudang dan membongkar motornya, tamat sudah.

"Mbak," tanyaku cepat. "Indikator bensin terakhir berapa?" "Kedip-kedip Mas. Merah. Nyaris abis. Aku niatnya abis belanja mau isi bensin."

Bagus. Maling tidak akan bisa lari jauh tanpa isi bensin. "Satu lagi Mbak. Kondisi mesin gimana? Kapan terakhir ganti oli? Servis rutin?"

Devi menatapku dengan wajah polos tanpa dosa. Wajah yang membuatku ingin membenturkan kepalaku sendiri ke tembok. "Servis? Emang motor perlu diservis ya Mas?"

Hening. Jangkrik di semak-semak pun berhenti berbunyi karena kaget. "Maksud Mbak?" tanyaku pelan, berharap aku salah dengar.

"Ya kan motor tuh fungsinya jalan kalau ada bensin. Oli itu kan di dalem mesin Mas, dia cair, dia cuma muter-muter aja di situ ngelicinin mesin. Gak kemana-mana, gak tumpah. Jadi logikanya gak bakal abis kan? Ngapain diganti? Itu kan cuma akal-akalan bengkel biar dapet duit."

Aku menepuk jidatku. Keras. PLAK!  mendengar teori sesat "Oli Abadi" ini. Pantas suara motor Devi kalau lewat kantor bunyinya klotok-klotok kayak mesin jahit mau meledak.

Tapi tunggu... Dalam musibah, ada berkah. Mesin tanpa oli + Bensin sekarat = MOTOR LEMAH. Motor itu pasti overheat parah kalau dipaksa ngebut maling. Pistonnya pasti memuai. Tarikannya berat.

Lihat selengkapnya