Sabtu Pagi, Jam 08.00 WIB.
Lokasi: Olympus Gym & Spa (Cabang Ruko Pinggir Kali).
Status: Inferioritas Akut.
Aku berdiri di depan cermin besar di ruang ganti gym. Pantulan yang kulihat sungguh menyedihkan. Tinggi 168 cm, berat 60 kg. Tulang selangkaku menonjol seperti gantungan baju wire yang bengkok. Lenganku seperti batang tebu yang sudah diperas airnya.
Di sekelilingku, berjalan makhluk-makhluk mitologi bernama "Gym Bros". Mereka memiliki otot Trapezius yang menutupi leher, Biceps sebesar kepala bayi, dan Latissimus Dorsi yang membuat mereka berjalan seolah-olah sedang membawa dua buah semangka di ketiak.
"Sadar diri, Aryo," gumamku pada pantulan diriku yang kerempeng.
Alasanku ada di sini sederhana: Devi.
Aku sadar, secara kasta sosial, aku (OB) dan dia Primadona Kantor (setidaknya di mataku sendiri), bagaikan Kopi Sachet Guntingan vs Starbucks Reserve. Jauh.
Aku hanya lulusan SMK biasa, mau kuliah? Tabungan cuma cukup buat beli cilok se-kecamatan. Mau bisnis sampingan? Modal dengkul pun dengkulku kopong. Satu-satunya aset yang bisa kuubah dengan modal minimal adalah: FISIK.
Aku ingin punya bahu lebar tempat Devi bersandar (bukan bahu tajam yang menusuk pipi). Aku ingin punya lengan yang bisa menggendong Devi kalau dia pingsan (sekarang boro-boro gendong, dia nyenggol aku aja aku yang mental).
"Mas Aryo?"
Seorang pria raksasa menghampiriku. Dia memakai kaos singlet yang nyaris meledak karena otot dadanya. Namanya Bambang "The Hulk", Personal Trainer (PT) yang kusewa dengan uang tabungan.
"Siap, Coach," jawabku, suaraku menciut.
"Target kita apa hari ini? Hypertrophy? Strength? Atau Endurance?" tanya Bambang antusias.
"Target saya... bertahan hidup, Coach. Dan kalau bisa, jangan sampai tulang saya patah."
Bambang tertawa menggelegar. "Lucu Mas Aryo! Ayo kita mulai dengan pemanasan. Burpees 50 kali!"
"Lima... puluh?"
Duniaku mulai gelap.
Sesi latihan dimulai. Ini bukan olahraga. Ini simulasi neraka. Bambang menyuruhku mengangkat Dumbbell 5 kg. Bagi para Gym Bros, 5 kg itu mainan gigi. Bagi Aryo Baskoro, 5 kg itu setara dengan dosa masa lalu. Berat.
"Ayo Mas! Push! Rasakan contraction di Biceps!" teriak Bambang.
"Coach... yang kerasa contraction di usus buntu saya..." rintihku. Tanganku gemetar hebat seperti sedang memegang bor jalanan.
Setelah 30 menit disiksa, aku berbaring di matras yoga, napasku putus-putus. Keringat membanjiri seragam olahraga diskonan yang kupakai.
Aku menatap langit-langit gym yang penuh pipa expose.
Apakah cinta sebanding dengan nyeri otot ini?
Jawabannya: Iya. Tapi tolong panggilkan ambulan.
Saat aku sedang merenungi nasib, pintu masuk gym terbuka.
Cahaya matahari pagi menerobos masuk, menciptakan efek halo di sekitar sosok yang baru datang. Jantungku yang tadi berdetak 150 bpm karena cardio, sekarang melonjak jadi 180 bpm karena alasan lain.
De... DEVI??
Dia masuk dengan setelan olahraga yang sporty namun sopan. Legging hitam, jaket hoodie crop-top warna abu-abu, rambut dikuncir kuda, dan tas olahraga terslempang di bahu.
Tanpa makeup, wajahnya terlihat segar dan... Masya Allah.
Di mata member lain (para raksasa itu), Devi mungkin cuma terlihat seperti "anak SMP nyasar". Tubuhnya mungil (150 cm), kurus, tidak ada lekukan hourglass ala model Instagram. Dia tenggelam di antara alat-alat gym yang besar.
Tapi di mataku...
Subjek: Devi Leona.
Aura: Bidadari Turun dari Kahyangan (via Ojek Online).
Ekspresi: Fokus. Sedikit cemberut (mungkin lapar).
Status: Mempesona tingkat dewa.
Aku buru-buru bangkit, pura-pura stretching (padahal kram). Aku harus terlihat keren.
"Coach Bambang," bisikku. "Kasih saya beban yang gedean dikit. Ada cewek cantik liat."
Bambang nyengir. "Oke. Kita main Deadlift."
Mampus!!!
[POV: DEVI]
Aku meletakkan tasku di loker.
Hari ini aku butuh pelampiasan. Pekerjaan kantor lagi hectic, Mas Hanif nyuruh revisi laporan 5 kali, dan Pak Boss minta laporan keuangan yang bejibun. Aku butuh mengangkat benda berat untuk menyalurkan emosi (daripada aku mengangkat meja Bos).
Aku berjalan ke area Free Weight.
Jujur, aku agak minder.
Di sekelilingku, ada mbak-mbak influencer gym yang badannya kayak gitar Spanyol. Tinggi, curvy, gluteus-nya kencang. Mereka pakai sports bra mahal dan legging warna neon.
Sedangkan aku? Aku merasa seperti Minion di tengah Avengers.
Pendek. Rata. Dan mukaku kalau lagi ngangkat beban pasti aib banget.
"Gapapa Dev. Yang penting sehat," hiburku pada diri sendiri.
Aku melihat sekeliling. Eh? Itu bukannya... Aryo?
Si OB kantor?
Dia lagi ngapain? Dia lagi dipegangin sama PT berbadan raksasa, wajahnya merah padam mau meledak, mencoba mengangkat barbel yang... kosong?
Cuma batang besinya doang?
Kasihan banget. Tapi lucu. Dia kayak cacing kepanasan. Aku tidak mau mengganggu dia (takut dia kaget terus ketimpa besi), jadi aku mengambil sudut di sebelahnya.
Aku melihat sebuah Barbell yang sudah diisi pelat beban.
Total beban: 100 kg. (50 kg kiri, 50 kg kanan).
Ini biasanya dipakai Mas-Mas kekar buat Squat.
Aku berdiri di depan barbel itu.
Aku membayangkan wajah Bos Botak di piringan bebannya.
Aku membayangkan tumpukan revisi Mas Hanif di batangnya.
Emosiku naik. Adrenalin terpompa. Aku memasang kuda-kuda. Mencengkeram besi yang dingin dan kasar.
Napas masuk... Tahan di perut (Bracing)...
Tarik!
CLANK!
Besi itu terangkat dari lantai.
Naik melewati lutut...
Kunci pinggang...
Tegak!
Aku berhasil melakukan Deadlift 100 kg dengan mulus.
Rasanya enak. Beban hidupku seolah pindah ke besi ini.
Aku menahan beban itu selama 2 detik, menikmati sensasi ototku yang menjerit bahagia, lalu menurunkannya kembali. BAM!
Lantai karet bergetar.
Aku mengelap keringat di dahi.
"Lumayan. Pemanasan."
Saat aku menoleh, aku melihat Aryo.
Dia sedang melongo. Mulutnya terbuka lebar sampai lalat bisa bikin sarang. Matanya membelalak horor menatapku.
Bahkan PT-nya, si Mas Raksasa itu, juga melongo.
"Mbak Devi..." suara Aryo terdengar mencicit. "Itu... besi beneran? Bukan styrofoam?"
Aku nyengir. "Beneran Mas. Lumayan buat ngelurusin pinggang."
Aryo menelan ludah. Dia mundur selangkah, seolah takut aku bakal ngejadiin dia dumbbell selanjutnya.
Dasar cowok lemah. Tapi dia usaha sih, itu nilai plus.
"Aku mau sauna dulu ya Mas Aryo. Jangan dipaksa kalau gak kuat, nanti hernia lho," candaku sambil berlalu.
[POV: ARYO]
Aku masih mematung di tempat.
Otakku, yang biasanya mampu memproses kalkulasi rumit, sekarang mengalami Blue Screen of Death.
Subjek: Devi Leona.
Massa Tubuh: Estimasi 50 kg.
Beban Angkat: 100 kg.