[POV : NOVI]
Selasa Siang, Jam 14.00 WIB. Lokasi:Hotel Bintang 5, Kota Bandung. Status: Dinas Luar Kota (Business Trip) alias Liburan Terselubung.
Namaku Novi Andini. Tim Marketing. Tinggi 172 cm (tanpa heels), berat proporsional, mantan finalis Gading Model Search (masuk 50 besar doang sih, tapi itu prestasi!). Di sebelahku, sedang menyeret koper yang besarnya hampir seukuran badannya sendiri, adalah Devi Leona. Tim Akunting. Tinggi 150 cm (itu pun kalau dia lagi jinjit dikit dan lagi banyak dosa), berat... entahlah, dia sering bilang berat badannya fluktuatif tergantung saldo rekening.
Kami ditugaskan Pak Bos Botak untuk meeting maraton dengan klien penting selama 4 hari 3 malam. Fasilitas? Hotel bintang lima. Jujur, berjalan di lobi hotel mewah bersanding dengan Devi itu rasanya aneh. Aku merasa seperti selebriti Hollywood yang sedang membawa keponakan yang baru pulang dari pesantren kilat. Atau lebih parah, seperti Jerapah yang berteman akrab dengan Kancil. Perbedaan ketinggian kami sangat mencolok sampai-sampai Bellboy hotel sempat bingung mau ngasih welcome drink ke Devi atau ngasih buku mewarnai.
"Nov," panggil Devi sambil mendongak ekstrem (aku yakin lehernya pasti pegal, mungkin butuh koyo nanti malam). "Ini hotelnya wanginya kayak wangi orang kaya ya? Bau duit. Bau saham yang lagi ijo."
"Itu wangi Lemongrass dicampur Sandalwood, Dev. Norak lu ah," bisikku sambil tersenyum elegan pada resepsionis, mencoba menjaga image wanita karier suksese. "Jangan malu-maluin divisi Marketing, please."
Kami masuk ke kamar Deluxe Twin Bed. Kamarnya luas luar biasa. Ada bathtub marmer, ada minibar penuh dosa (alkohol mahal), dan pemandangannya langsung ke kolam renang infinity. Devi langsung melempar tasnya dan melompat ke kasur empuk dengan gaya bebas. Tubuhnya tenggelam di antara bantal-bantal besar, nyaris hilang ditelan bed cover.
"Sumpah Nov! Kasurnya lebih empuk dari masa depan gue!" teriaknya teredam bantal.
Aku tertawa. Devi memang lucu. Meskipun hidupnya kadang ngenes dan penuh drama cicilan, bagi dia dinas luar seperti ini adalah hiburan tersendiri. Surga duniawi. "Kita udah sampe sini Dev, kita nikmati dulu fasilitas kamar. Jangan mikirin kerjaan dulu. Besok kita ketemu client pertama, jadi hari ini... Me Time!"
Hari pertama berjalan lancar bagaikan jalan tol Cipali di hari biasa. Aku mandi menikmati fasilitas bathtub dengan air hangat, menaburkan bath bomb (yang kubawa sendiri), lalu malamnya makan malam enak di restoran hotel. Kemudian kami tidur nyenyak di kasur yang harganya mungkin setara gaji Devi 2 tahun. Semua terasa sempurna.
Rabu Sore, Jam 16.00 WIB. Neraka dimulai. Kami baru selesai meeting dengan klien pertama. Aku masuk kamar duluan karena Devi mampir ke minimarket beli tolak angin (katanya masuk angin kena AC hotel yang terlalu dingin buat standar tubuh mungilnya).
HP-ku bergetar di atas meja rias. Notifikasi Email masuk. Subjek: "KENANG-KENANGAN INDAH DI KAMAR MANDI" Pengirim: Unknown (hacker_eye_666@protonmail.com)
Iseng, aku membukanya. Kupikir ini spam iklan obat kuat atau pinjol ilegal. Detik berikutnya, HP-ku nyaris jatuh ke lantai. Darahku berdesir hebat, turun drastis dari kepala ke kaki. Jantungku berhenti berdetak selama tiga detik penuh.
Di layar HP, terpampang foto diriku. Tanpa busana. Foto itu berurutan. Mulai dari aku masuk kamar mandi, membuka baju, hingga berendam di dalam bathtub kamar hotel ini. Fotonya diambil dari sudut atas (High Angle) dan satu lagi sejajar dengan tubuh dari arah cermin. Jelas sekali. Wajahku, tubuhku... semuanya terekspos dengan resolusi yang mengerikan.
Di bawah foto itu ada tulisan: "Halo Cantik. Bagus sekali badannya. Kalau tidak mau foto ini dan video durasi 10 menitnya tersebar di Twitter, Instagram kantor, dan grup WA keluargamu... Transfer 150 Juta Rupiah ke alamat Bitcoin di bawah ini dalam waktu 2x24 jam. Jangan lapor polisi atau karirmu tamat."
Kakiku lemas seperti jeli. Aku jatuh terduduk di lantai karpet tebal. 150 Juta? Seratus. Lima. Puluh. Juta. Aku memang marketing, penampilanku kujaga, skincare-ku mahal, tas aku branded (walau beli preloved), tapi tabunganku gak sampai segitu! Gajiku habis buat cicilan mobil Jazz, skincare Korea, dan gaya hidup sosialita Jakarta Selatan. Aku panik. Air mata mulai mengalir deras, merusak maskara mahalku.
Kalau ini tersebar... tamat riwayatku. Karirku hancur. Orang tuaku di kampung bakal kena serangan jantung. Calon tunanganku, Mas Dimas yang alim itu, pasti ninggalin aku detik itu juga.
Dengan tangan gemetar, aku mencoba menghubungi teman-teman sosialitaku, untuk meminjam uang. Tak ada yang bisa membantu.
Nihil. Teman sosialita hanya ada saat party, tapi hilang saat butuh duit. Pintu kamar terbuka. Devi masuk sambil ngemut permen jahe, wajahnya ceria tanpa beban. "Nov, gila minimarket deket hotel harganya mahal banget! Air mineral di sini harganya bisa buat beli galon di Jakarta! Ujung-ujungnya beli di asongan!" serunya polos.
Aku buru-buru menghapus air mata, berusaha tersenyum, dan menyembunyikan HP di balik bantal. "Eh, iya Dev... Mahal ya..." suaraku serak.
"Lho? Nov, kenapa? Kok pucet? Sakit?" Devi mendekat, wajahnya berubah khawatir. Dia harus jinjit sedikit buat melihat mukaku yang sedang duduk di kasur.
"Gak apa-apa Dev. Cuma... migrain dikit. Kecapean meeting tadi." Aku merahasiakannya. Jangan ada yang tahu, ini aib. Devi gak mungkin bisa bantu. Dia bayar kosan aja kadang nunggak.
[POV: DEVI]
Rabu Malam, Jam 20.00 WIB. Suasana kamar mencekam. Bukan karena hantu Valak, tapi karena Novi. Sejak sore tadi, dia aneh banget. Biasanya dia cerewet ngomongin skincare retinol atau gosipin cowok ganteng di kantor. Tapi sekarang dia diam seribu bahasa, duduk di pojok kasur, memeluk lutut, matanya bengkak, mukanya pucat kayak mayat hidup yang kehabisan formalin.
"Nov," panggilku pelan. "Serius deh. Kamu kenapa? Klien tadi komplain? Atau diputusin Mas Dimas?"
"Dev..." suaranya lirih, putus asa. "Ya?"
"Kita udah temenan lama kan?"
"Iya, lu kan mentor gue waktu gue pertama kali masuk kantor. Gue awalnya masuk marketing lalu dilempar Pak Bos ke akunting karena kependekan, katanya gak nyampe kalau mau pasang spanduk."
"Aku sebenarnya ga mau cerita ini, ini aib. Tapi aku udah ga kuat..." Novi menatapku. Tatapan orang yang sudah di ujung tanduk. Tiba-tiba dia nangis kejer. Melolong. "DEV! GUE MATI DEV! TAMAT RIWAYAT GUE!"
Aku panik setengah mati. "Eh eh! Kenapa?!"
Novi menyerahkan HP-nya padaku dengan tangan gemetar. "Lihat..."
Aku membaca email itu. Mataku melotot sampai hampir keluar. Foto dan Video Novi lagi mandi. Jelas banget. Tanpa sensor. Dan ancaman 150 Juta Rupiah.
"ASTAGFIRULLAH! INI APAAN?!" teriakku. "Novi... ini... ini jahat banget!"
"Gue diperes Dev... Ada kamera tersembunyi di kamar ini... Gue harus bayar 150 juta besok sore... Gue gak punya duit segitu..." Novi meraung.
Aku menelan ludah. 150 Juta? Ginjal aku kalau dijual di pasar gelap mungkin cuma laku buat beli seblak seumur hidup. Saldo ATM-ku sekarang cuma Rp 150.000,-. Seratus kali lipat lebih kecil dari permintaan penjahat itu. "Nov... ini parah. Kita lapor polisi yuk?"
"JANGAN! Dia ngancem bakal nyebar kalau lapor polisi! Dev, lu ada simpenan gak? Gue pinjem dulu... Gue ganti cicil perbulan plus bunga!"
Aku menatap Novi iba. Hatiku sakit melihat teman baikku begini. "Nov, tau kan menu makan malamku seminggu terakhir?"
"Promag?"
"Bukan. Promag itu appetizer. Menu utamanya Instastory orang makan enak biar kenyang liatin doang. Aku bokek parah Mbak. Boro-boro 150 juta, 50 ribu aja aku pikir-pikir buat beli kuota."
Novi makin histeris. Dia merasa buntu. Malam itu kami tidak tidur. Novi nangis terus, aku parno setengah mati. Aku jadi takut ke kamar mandi. Aku mandi pakai baju lengkap (sumpah, aneh banget rasanya mandi pakai kaos), dan ganti baju di dalam selimut rapat kayak kepompong ulat sutra.
Kamis Pagi, Hari Kedua. Novi kacau balau. Matanya bengkak parah, bedaknya tebal banget kayak dempul mobil buat nutupin mata panda. Saat meeting dengan Klien ke-2, Novi gak fokus. Dia salah sebut nama klien (manggil Pak Hartono jadi Pak Hantu), salah presentasi data, dan gemetar terus. Klien marah. Meeting ditunda besok. Pak Bos nelpon marah-marah. Novi makin depresi.
Kamis Sore, Jam 15.00 WIB. Kami balik ke hotel dengan langkah gontai. HP Novi bunyi lagi. Email baru. Subjek: "REMINDER: JANGAN LUPA TRANSFER "
Novi gemetar membuka email itu. Aku ikut ngintip (sambil jinjit di bahu Novi, penasaran sekaligus takut). Ada lampiran foto baru. Foto 1: Novi lagi ganti baju (sensor). Resolusi HD 4K. Tajam. Mulus. Foto 2: Novi lagi tidur (sensor). Cantik banget kayak Putri Tidur. Foto 3: Aku (Devi) lagi ganti baju.
TAPI... Tunggu dulu. Foto Novi resolusinya HD, tajam, 4K. Keliatan setiap pori-porinya. Sedangkan foto aku... DIBLUR. Bukan sensor mozaik. Tapi Blur alias Out of Focus. Burem. Kayak foto penampakan alien yang diambil pakai HP Nokia jadul. Bahkan gak ada fotoku satupun yang fokus di kiriman itu. Aku menemukan satu foto lagi, tapi kameranya nge-zoom ke Novi, dan aku di pojokan cuma keliatan jidatnya doang.
Dan ada tulisan kecil di bawahnya: "Maaf, fokus kameranya otomatis ke objek yang menarik. Yang kecil diabaikan saja, tidak ada nilai jualnya."
HENING. Novi masih nangis ketakutan. Tapi aku... Darahku mendidih. Naik ke ubun-ubun. Emosi karena ga dianggap! Walaupun aku juga ga mau foto bugilku kesebar, tapi entah kenapa aku TERSINGGUNG BERAT. Ini masalah harga diri!
"HEH?! MAKSUDNYA APA NI?!" teriakku, merebut HP Novi. "DIA PIKIR GUE PENAMPAKAN?! DIA PIKIR GUE TUYUL?! KENAPA CUMA NOVI YANG HD?! KENAPA GUE 144p?!"
Novi bingung di sela tangisnya. "Dev... kok lu malah marah soal itu?"
"YA MARAH DONG! Ini Body Shaming level kriminal! Mentang-mentang gue pendek, gue dianggap gak laku di pasar gelap?! Gue manusia woy! Gue punya hak asasi untuk dapet resolusi HD!"
Amarah memberiku keberanian. Rasa takutku hilang digantikan rasa ingin mematahkan leher si pelaku dan menyolok matanya. "Nov, cukup nangisnya. Kita gak bakal bayar 150 juta. Kita bakal tangkep nih orang. Enak aja dia ngatain gue burem."
"Caranya gimana Dev? Kita gak tau kameranya dimana! Kita gak tau pelakunya siapa!"
Aku berpikir keras. Otakku yang biasanya cuma dipake buat ngitung diskon GoFood kini berputar cepat. "Kita butuh bantuan. Kita butuh orang pinter."
"Siapa? IT kantor? Jangan, nanti nyebar!"
"Bukan... Mas Hanif." Mas Hanif itu gudangnya info. Dia pasti tau harus ngapain.
Aku langsung mengambil salah satu HP-ku, dan menelepon ruangan Mas Hanif. Jam segini dia pasti lagi garap lemburan sambil makan gorengan. Aku menelepon ruangan Mas Hanif. Tuuut... Tuuut... Sial, lama sekali ga diangkat-angkat. Hanif kemana sih?? Lagi boker apa gimana?
Lama kemudian telepon diangkat. "Halo?" suara laki-laki.
"Halo, Mas Hanif??" tanyaku cepat.
"Bukan Mbak, ini Aryo."
"Hah?? Aryo? Si OB? Hanif mana?"
"Mas Hanif sedang keluar dengan Pak Bos Mbak, ada perlu apa ya? Nanti saya catat."
Aku memijat keningku. Malah Aryo lagi. Tunggu dulu. Aryo... Si OB kucel ini... Dia pernah menganalisis sindikat maling mobil (kasus di kebun tebu). Dia membantuku menghadapi sindikat maling motor (kasus Si Pinky). Dia jadi pahlawan medis di gym (kasus sauna). Dia mungkin cuma OB, tapi otaknya kadang menyeramkan. Mungkin dia bisa membantu.
"Yo," panggilku serius.
[POV: ARYO]
Kamis Sore, Jam 15.15 WIB. Lokasi: Ruangan Mas Hanif, Kantor Pusat Lantai 12 Jakarta.