[POV : NOVI]
Rabu Pagi, Jam 09.00 WIB. Lokasi: Ruangan Pak Bos, Lantai 12. Status: Bencana Alam.
Pagi ini dimulai dengan bencana. Bukan gempa bumi, bukan banjir, tapi semburan air liur Pak Bos Botak yang sedang marah-marah, atau lebih tepatnya, sedang "bersemangat" memberikan tugas.
"Novi! Kamu dengar saya?!" bentak Pak Bos sambil menggebrak meja mahogani-nya. "Klien dari Cikarang ini sangat penting! Mereka mau buka Mall baru! Grand Galaxy Cikarang! Kita harus dapat spot pameran yang paling strategis di atrium utama! Kalau sampai kita dapat spot di deket toilet lagi kayak tahun lalu, saya potong gaji kamu jadi voucher belanja!"
Aku, Novi Andini, Staf Marketing Senior dengan tinggi 172 cm dan penampilan yang selalu on point (hari ini aku pakai blazer Zara preloved dan rok pensil), hanya bisa mengangguk pasrah. "Siap Pak. Berangkat sekarang Pak?"
"SEKARANG! Tunggu apa lagi?! Nunggu Cikarang pindah ke Jakarta?!"
Aku keluar ruangan dengan wajah ditekuk. Cikarang? Seriously? Itu tempat di mana matahari ada sembilan. Debunya bisa bikin paru-paru jadi fosil. Dan truk kontainernya ganas-ganas. Biasanya, untuk tugas berat begini, aku selalu minta ditemani Mas Hanif. Dia itu tameng hidupku. Dia bisa nyetir, bisa diajak gosip, dan nggak mbosenin (walau istrinya galak)
Aku berlari kecil ke ruangan Mas Hanif. "Mas Hanif... Help me..." rengekku dengan nada manja andalan. "Temenin ke Cikarang yuk? Pak Bos lagi kumat. Aku takut sendirian di jalan tol."
Tapi pemandangan di ruangan Hanif membuat harapanku pupus. Hanif sedang tenggelam. Secara harfiah. Mejanya penuh tumpukan faktur pajak setinggi benteng pertahanan. Dia memegang kalkulator di tangan kiri dan inhaler asma di tangan kanan. Wajahnya kusut seperti kertas gorengan.
"Jangan ngomong, Nov," potong Hanif sebelum aku selesai bicara. "Gue lagi diaudit. Kalau gue napas salah dikit aja, gue bisa dipenjara."
"Yah... Terus aku sama siapa Mas? Masa sendirian? Aku kan wanita lemah lembut yang butuh perlindungan!"
Hanif menghela napas panjang, matanya melirik ke pojok ruangan. Di sana, ada sosok kurus berseragam biru muda yang agak kucel. Dia sedang mengelap kaca jendela dengan gerakan lambat, presisi, dan sangat membosankan. Aryo Baskara. Si OB.
"Bawa Aryo," kata Hanif enteng.
Aku melongo. Mataku membelalak sampai maskaraku hampir retak. "HAH?! Aryo?! Mas bercanda ya? Itu OB Mas, bukan Bodyguard! Badan dia tipis gitu kena angin Cikarang bisa terbang jadi layangan! Lagian survey mall itu bukan jobdesc dia!"
"Novi..." Hanif menatapku tajam. "Lu itu terlalu cantik buat jalan sendirian ke daerah industri. Bahaya. Aryo emang kurus, tapi dia... handy. Dia bisa bawain tas lu. Dia bisa jagain lu. Udah sana, ajak dia. Bilang ini perintah gue."
Dengan hati dongkol setengah mati, aku menghampiri Aryo. Aku menatapnya dari atas ke bawah. (Secara harfiah, karena aku pakai heels 5 cm, jadi aku jauh lebih tinggi dari dia). Dia tidak menarik sama sekali, rambutnya acak-acakan, dan baunya... bau sabun pel lemon.
"Heh, Aryo," panggilku ketus.
Aryo menoleh. Wajahnya datar. "Ya Mbak Novi? Mau nitip kopi? Atau fotokopi?"
"Ganti baju. Lu ikut gue ke Cikarang. Sekarang. Jangan banyak tanya, ini perintah Mas Hanif."
Aryo mengerjap. "Cikarang Mbak? Jauh itu. Bekel saya belum dimakan."
"Makan di jalan! Buruan! Jangan pake seragam OB, ntar dikira gue lagi bawa TKI ilegal. Pake baju bebas yang rapi dikit!"
Lima belas menit kemudian, Aryo muncul di lobi. Dia memakai kaos hitam polos (yang warnanya sudah agak pudar jadi abu-abu) dan celana jeans. Dia membawa tas ransel butut yang entah isinya apa. Oke, setidaknya gak memalukan banget.
Kami menuju parkiran. Mobil operasional yang tersedia cuma satu: Toyota Avanza Silver tahun 2012. Mobil legendaris yang sudah "berpengalaman". Bumper depannya penyok dikit, catnya kusam, dan kalau dinyalain suaranya ngik-ngik-ngik dulu baru brumm.
"Lu bisa nyetir gak?" tanyaku skeptis. "Bisa sih Mbak, tapi SIM saya mati 3 tahun lalu," jawab Aryo polos. "Ya Tuhan... Yaudah gue yang nyetir! Lu duduk diem, jangan bawel, jangan ngiler!"
Aku masuk ke kursi pengemudi, melempar tas branded-ku ke kursi belakang. Aryo duduk di sampingku, memasang sabuk pengaman dengan sangat hati-hati seolah takut talinya putus.
Perjalanan dimulai. Masuk Tol Jakarta-Cikampek Layang (MBZ). Suasana di dalam mobil hening mencekam. Canggung parah. Aku dan Aryo itu beda kasta, beda frekuensi, beda planet. Aku Mars, dia Pluto. Aku memutar lagu Dua Lipa keras-keras untuk menutupi keheningan. Aryo cuma diam, matanya menatap jalanan lurus di depan.
"Mbak," tiba-tiba Aryo bersuara. "Apa?" "Itu... indikator rem tangan di dashboard nyala terus dari tadi. Apa gak papa?"
Aku melirik dashboard. "Oh, itu emang error sensornya. Udah lama. Santai aja." Aryo mengangguk, tapi aku lihat dia sedikit gelisah.
[POV : ARYO ]
Jam 10.45 WIB. Lokasi: Jalan Tol Layang MBZ, KM 38. Kecepatan: 100 km/jam. Kondisi: Lancar (Tumben).
Aku duduk diam di kursi penumpang. Jujur, aku tidak nyaman. Bukan karena kursi Avanza yang busanya sudah tipis ini menusuk punggungku, tapi karena cara menyetir Mbak Novi. Dia menyetir seperti sedang balapan di Sirkuit Sentul. Agresif. Pindah jalur sana-sini tanpa sein. Satu tangannya memegang setir, satu tangan memegang tumbler kopi mahal. Di spion tengah, aku melihat dia sesekali membenarkan lipstiknya. Wanita ini punya nyawa cadangan berapa sih?
Tapi ada hal lain yang mengganggu instingku. Getaran. Sebagai orang yang setiap hari membersihkan mesin fotokopi dan memperbaiki AC kantor yang rusak, aku peka terhadap getaran mekanis.
Suara Mesin: Ada nada whine (denging) tinggi saat RPM naik di atas 3000. Itu bukan suara fan belt. Itu suara dari sistem hidrolik.
Pedal Rem: Tadi saat di gerbang tol, aku perhatikan Mbak Novi harus menginjak rem agak dalam baru mobil berhenti. Travel distance-nya terlalu jauh.
Bau: Ada bau samar. Bukan parfum vanilla Mbak Novi. Tapi bau logam panas dan minyak terbakar. Bau minyak rem yang bocor dan menetes ke knalpot panas.
"Mbak Novi," panggilku pelan. "Apa lagi sih Yo? Jangan ganggu konsentrasi, gue lagi ngejar waktu!" omelnya.
"Mbak, coba lepas gas sebentar. Tes rem dikit. Injek dikit aja."
"Ngapain? Orang jalanan kosong gini!"
Tiba-tiba, di depan kami, sekitar 100 meter, sebuah truk ekspedisi besar banting setir ke kanan karena menghindari lubang. Jarak menipis cepat. Kecepatan kami 100 km/jam. Truk itu mungkin cuma 60 km/jam. Perbedaan kecepatan 40 km/jam. Waktu benturan: Kurang dari 3 detik.
"AWAS TRUK MBAK!" teriakku.
Novi kaget. Matanya membelalak. Refleks, kaki kanannya pindah dari gas ke rem. Dia menginjak pedal rem sekuat tenaga.
PLOS.
Hening. Tidak ada sentakan tubuh ke depan. Tidak ada bunyi ban mencicit. Tidak ada perlambatan. Pedal rem itu amblas sampai menyentuh lantai karpet, seolah tidak ada tekanan sama sekali.
"LHO?!" Teriak Novi. Dia mengangkat kakinya, menginjak lagi. Kocok. Kocok. Kocok. PLOS. PLOS. PLOS. Kosong.
"MAS ARYO! REMNYA GAK MAKAN! REMNYA ILANG!" Suara Novi melengking tinggi, penuh teror murni. Wajah cantiknya memucat seketika.
Truk di depan semakin besar. Pantat besi truk itu seolah siap melahap kap mesin Avanza yang tipis ini. Jarak: 50 meter. Kecepatan: Masih 100 km/jam.
Novi panik total. Tangan kirinya bergerak cepat menuju tuas Rem Tangan (Handbrake) di tengah. Dia mau menariknya.
Dunia berhenti. Waktu melambat menjadi tetesan air. Aku masuk ke dalam "Mind Palace". Di mataku, situasi ini terurai menjadi rumus-rumus fisika dan probabilitas kematian.
Vektor Kecepatan: 27.7 meter/detik.
Massa Mobil: ± 1.100 kg + 2 Penumpang (Total 1.250 kg).
Momentum: Sangat Besar.
Analisis Tindakan Novi: Menarik Rem Tangan Mekanis pada kecepatan 100 km/jam di mobil FWD (Front Wheel Drive) tanpa ABS aktif.
Simulasi Konsekuensi:
"JANGAN TARIK REM TANGAN!" Teriakanku bukan teriakan biasa. Itu adalah perintah komando. Keras. Tegas. Menggelegar.
Tangan Novi membeku di udara, kaget mendengar suara OB yang tadi lembut kini berubah jadi monster.
Aku tidak punya waktu untuk berdebat. Aku melepas sabuk pengamanku (risiko tinggi, tapi aku butuh jangkauan gerak). Aku condong ke arah Novi. Tangan kiriku menyambar setir, menahannya agar tetap lurus. Tangan kananku menahan tangan Novi, lalu pindah memegang tuas persneling.
"LEPAS GAS! JANGAN INJEK KOPLING DULU! IKUTI PERINTAH SAYA ATAU KITA MATI!"
Novi menangis. "KITA NABRAK MAS! KITA NABRAK!"
Aku melihat celah. Di sebelah kiri truk ada bahu jalan sempit. "Pegang setir kuat-kuat! Kita ambil kiri!"
Aku membanting setir ke kiri sedikit. Presisi. WUSH! Mobil kami melesat melewati truk itu. Spion kanan kami berjarak hanya 2 sentimeter dari bodi truk. Angin hempasan truk mengguncang mobil. Novi menjerit panjang. "AAAAAA!!!!!"
Kami lolos dari truk. Tapi masalah belum selesai. Jalan di depan menurun panjang (KM 48 arah Cikampek). Tanpa rem, gravitasi akan mempercepat mobil ini. Speedometer menunjukkan angka 105 km/jam.
Aku harus menghentikan besi seberat 1 ton ini tanpa rem utama. Hanya ada satu cara: Hukum Kekekalan Energi & Gesekan.
LANGKAH 1: AERODYNAMIC DRAG (HAMBATAN UDARA) "BUKA JENDELA! SEMUANYA!" perintahku. "Hah?! Mas gila?!" "PENCET TOMBOLNYA SEKARANG! KITA BUTUH HAMBATAN ANGIN!"
Novi dengan tangan gemetar menekan panel power window. NGIIING... Keempat kaca turun. BLARRRR!!! Suara angin menderu masuk ke dalam kabin. Bising sekali. Tekanan udara masuk. Mobil yang tadinya aerodinamis kini menjadi "kotak sabun" yang menabrak tembok angin. Gaya hambat (Drag Force) bekerja. Kecepatan turun lambat: 105 -> 95 km/jam. Belum cukup.
LANGKAH 2: ENGINE BRAKING (KOMPRESI MESIN EKSTREM) Ini akan menyiksa mesin. Tapi lebih baik mesin hancur daripada tulang kami. Aku melihat Tachometer. Gigi 5. RPM 3.500.
"Mbak, injek kopling! Tahan!" Novi menginjak kopling. Aku memindahkan tuas dari Gigi 5... melewati Gigi 4... langsung paksa ke Gigi 3. "LEPAS KOPLING SEKARANG! KASAR AJA!"
Novi melepas kopling sentak. NGUUUUUUUUUNGGGGG!!!!!! Mesin Avanza menjerit. Jarum RPM melonjak dari 3.500 langsung ke 6.000. Seluruh bodi mobil bergetar hebat seolah mau meledak. Terjadi efek pengereman mesin (Engine Brake) yang masif. Roda dipaksa melambat mengikuti putaran mesin yang tertahan rasio gigi. Tubuh kami terlempar ke depan, tertahan sabuk pengaman. Kecepatan turun drastis: 95 -> 60 km/jam.
"Mas Aryo! Mesinnya bunyi aneh! Mau meledak!" tangis Novi histeris. "Gak apa-apa! Biarin dia teriak! Dia lagi nyelametin kita!"
LANGKAH 3: FRICTION BRAKING (GESEKAN BETON) Kecepatan 60 km/jam masih mematikan jika menabrak macet di depan. Aku harus menurunkannya sampai nol. Gigi 2. NGUUUUUUUNGGGGG!!!! (RPM Merah, 7000). Kecepatan 40 km/jam. Mobil tersendat-sendat.
"Mbak Novi... Tutup mata. Pegangan." Aku mengambil alih setir sepenuhnya dengan tangan kiri. Aku mengarahkan mobil perlahan ke arah pembatas jalan beton (Jersey Barrier) di sebelah kanan. Aku akan menggunakan bodi mobil sebagai kampas rem raksasa.
"JANGAN MAS!" "DIAM!"
KRAAAAAAAAKKKKKKK!!!!!! Suara besi bodi mobil beradu dengan beton kasar terdengar memilukan. Bunga api memercik terlihat dari jendela kanan. Spion kanan patah dan terbang entah kemana. Pintu kanan penyok tergerus beton.
Gaya gesek (Friction) bekerja sempurna. Energi kinetik diubah menjadi energi panas dan suara. Mobil melambat drastis. 30... 20... 10... Gubrak.
Mobil berhenti total dalam posisi miring menempel di beton. Mesin mati mendadak. Asap putih mengepul dari kap mesin (kopling hangus) dan dari sisi kanan mobil (cat terbakar).
Hening. Hanya suara napas Novi yang memburu cepat. Hah... Hah... Hah... Dia masih mencengkeram setir, matanya melotot kosong ke depan. Air mata membasahi pipinya yang tadi flawless.
Aku menyandarkan punggungku. Menghela napas panjang. "Alhamdulillah..." bisikku. Tanganku gemetar. Bukan karena takut, tapi sisa adrenalin.