[POV : Novi]
Jumat Malam, Jam 21.00 WIB. Lokasi: Kawasan Industri Pulo Gadung (Studio Foto Terpencil).
Malam ini, aku baru saja menyelesaikan sesi pemotretan yang melelahkan untuk sebuah katalog brand hijab. Aku belum berhijab, tapi tetap professional, walau aku model tapi pekerjaan utamaku tetap menjadi budak korporat, gaji untuk hidup, uang dari profesi model menjadi gaya hidup. Aku berpose selama 5 jam dengan hijab yang sebetulnya jenisnya ga banyak, tapi warnanya bisa puluhan, tersenyum kaku sampai rahangku mau copot, apakah editor lupa ada yang namanya software editing? Padahal tinggal satu foto lalu ganti-ganti warna. Tapi sudahlah, namanya juga cari uang yah.
"Akhirnya selesai..." desahku lega sambil berjalan keluar studio. Aku memakai baju yang kupakai kerja, kemeja, rok pensil, dan stiletto merah setinggi 9 cm. Rencanaku sederhana: Pulang naik Honda Jazz merahku, mampir drive-thru beli burger, lalu tidur nyenyak.
Tapi, rencana tinggal rencana. Saat aku sampai di parkiran yang remang-remang (lampunya kedap-kedip kayak di film horor murah), duniaku runtuh. Ban depan kanan mobilku... Rata dengan tanah. Bukan cuma kempes. Tapi sobek. Velg-nya nyium aspal dengan mesra.
"ASTAGA NAGA!" teriakku. Suaraku menggema di parkiran kosong. "Siapa yang gigit ban gue?! Godzilla?!"
Aku mengecek bagasi dengan panik. Ban serep ada. Tapi dongkraknya... Hilang. Ingatanku langsung tertuju pada Mas Hanif. Minggu lalu dia pinjam dongkrak buat benerin pagar rumahnya yang rubuh ditabrak tukang sayur, dan belum dibalikin. "HANIIIIIF!!!" teriakku frustrasi ke langit malam Jakarta Timur yang berpolusi.
Aku mengecek aplikasi ojek online. Battery Low: 5%. Lokasi ini memang dead zone. Studio foto ini letaknya di ujung dunia, dikelilingi pabrik-pabrik tua yang sudah tutup dan ilalang setinggi orang dewasa. Tidak ada taksi yang mau lewat sini jam segini, takut dibegal hantu.
Satu-satunya pilihan rasional (yang sangat tidak menarik): Stasiun KRL. Jaraknya sekitar 1,2 kilometer dari sini menurut Google Maps offline yang sempat kubuka tadi. Jalan kaki. Dengan stiletto 9 cm. Malam-malam. Sendirian.
"Oke Novi. Lu bisa. Lu model internasional (KW Super). Lu kuat. Lu pernah jalan di catwalk licin yang dikasih sabun, masa jalan di aspal rusak aja gak bisa?" Aku mengunci mobil (percuma juga sih, gak bisa jalan), mengambil tas branded-ku, dan mulai berjalan menembus kegelapan malam.
10 Menit Kemudian. Jalanan sepi mencekam. Hanya ada lampu jalan merkuri yang warnanya oranye suram, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan. Suara langkah stiletto-ku... Tak... Tak... Tak... terdengar sangat keras, seperti ketukan palu hakim di ruang sidang kosong.
Tiba-tiba, bulu kudukku berdiri. Insting wanitaku menjerit. Ada suara langkah lain. Di belakangku. Ritme langkahnya berbeda. Lebih berat. Seretan sepatu boots tentara di atas kerikil. Srek... Srek... Srek...
Aku berhenti mendadak di bawah tiang lampu, pura-pura benerin tali tas. Langkah di belakang juga berhenti. Senyap. Aku jalan lagi, lebih cepat. Tak-tak-tak-tak. Langkah di belakang ikut cepat. Srek-srek-srek-srek.
Aku memberanikan diri menoleh sedikit lewat pantulan kaca spion motor rongsokan yang terparkir di pinggir jalan. Ada seseorang. Pria. Memakai Hoodie Hitam kebesaran. Masker medis hitam menutupi separuh wajah. Topi baseball diturunkan sampai menutupi mata. Tangannya dimasukkan ke dalam saku hoodie depan, membentuk tonjolan yang mencurigakan.
JANTUNGKU BERHENTI BERDETAK. Ini bukan fans yang mau minta tanda tangan. Ini bukan orang lewat. Aura yang dia pancarkan dingin. Aura Predator yang sedang mengintai mangsa yang terluka.
Aku panik total. HP-ku tinggal 4%. Aku menelepon Mas Hanif dengan tangan gemetar. "Mas! Angkat Mas! Please! Jangan lagi boker!" Tuuut... Tuuut... "Halo Nov? Kenapa? Gue lagi maskeran nih, susah ngomong," suara Hanif terdengar kaku (pasti masker lumpur). "MAS! GUE DIIKUTIN ORANG! GUE DI PULO GADUNG! MOBIL GUE BANNYA PECAH! GUE MAU MATI MAS!" "Hah?! Pulo Gadung?! Gue di Bintaro Nov! Jauh gila! Gue ke sana butuh 2 jam!"
"TERUS GIMANA?! DIA MAKIN DEKET! DIA BAWA SESUATU DI SAKUNYA!" Aku mulai menangis, makeup mahalku pasti luntur jadi kayak Joker.
"Telpon Aryo! Minta Aryo pandu lu! Dia itu GPS hidup! Dia bisa analisis jalanan kayak Google Street View berjalan!"
"ARYO?! SI OB?!" Aku teringat kejadian beberapa minggu lalu, dia menyelamatkanku 2 kali, dan 1 kali lewat Devi.
"IYA! CEPETAN! NIH NOMORNYA! 0812-XXXX-XXXX! CEPETAN SEBELUM HP LU MATI!"
Hanif mematikan telepon dan mengirim kontak Aryo via WA. Bateraiku: 3%. Angka keramat menuju kegelapan total. Tuhan, tolong hamba-Mu yang cantik ini. Kalau aku selamat, aku janji gak akan boros beli tas lagi sebulan.
Aku memencet tombol panggil ke nomor Aryo dengan jari gemetar. Foto profil WA-nya:Hinata?. Cih Wibu. Tuuut... Tuuut...
[POV: ARYO]
Jumat Malam, Jam 21.15 WIB. Lokasi: Kosan (Fasilitas Oksigen dan kipas angin)
Malam ini, aku sedang menikmati puncak kenikmatan tanggal tua: Nasi Kecap Kerupuk. Nasi putih hangat (sisa kemarin yang diangetin di magic com kantor diem-diem), disiram Kecap Bango kental membentuk pola abstrak, ditaburi remah kerupuk kaleng yang sudah agak melempem.
"Gajian masih seminggu lebih, beras tinggal setengah kaleng, token listrik besok abis, Ya Allah tolong kasih hamba rezeki dari arah manapun, dari arah paling absurd juga gak apa-apa, " ucapku sambil menyuapkan nasi kecap itu. Baru saja suapan pertama mendarat di lidah... Kring... Kring... Kring...
HP Android layar retak-ku bergetar hebat di atas kasur busa tipis. Nomor asing. Tapi foto profilnya... Aku menyipitkan mata (karena gak pake kacamata, dan mata agak burem karena kurang gizi). Foto profilnya wanita cantik, rambut badai, pose model profesional. Mbak Novi? Primadona divisi marketing? Kenapa dia nelpon aku jam segini? Apa aku lupa nyiram tanaman di mejanya?
Aku mengangkat telepon dengan mulut penuh nasi. "Halo? Syelamat malam?" (Kunyahan nasi mengganggu artikulasi).
"ARYO! TOLONGIN GUE! PLEASE JANGAN DIMATIIN! GUE TAKUT YO!" Suara di seberang sana bukan suara manja khas Novi yang biasa minta dibeliin kopi Starbucks. Itu suara teror murni. Napasnya memburu, putus-putus, diselingi isak tangis histeris.
Aku langsung menelan nasi bulat-bulat (sakit di tenggorokan, kayak nelen batu). "Mbak Novi? Kenapa? Mbak dimana? Tarik napas dulu."
"Gue di Pulo Gadung... deket pabrik gula tua yang angker itu... Ban mobil gue pecah... Gue jalan ke stasiun... Tapi ada cowok ngikutin gue Yo... Dia pake hoodie item... Maskeran... Jalan kakinya nyeret... Gue takut Yo... Dia makin deket..."
Darahku berdesir. Instingku menyala. Ini bukan Prank.
"Mbak Novi, dengerin saya," suaraku berubah rendah, stabil, dan otoritatif. "Jangan nengok ke belakang lagi. Tetap jalan dengan kecepatan konstan. Jangan lari dulu. Lari sekarang cuma bakal memicu insting berburunya." Aku langsung menyalakan laptop bututku. Booting Windows 7 yang lambat terasa seperti menunggu kiamat. "Mbak punya earphone atau headset?"
"A-ada... Airpods..."
"Pake sekarang. Pasang di kuping. HP masukin tas. Jangan dipegang. Jangan keliatan lagi nelpon. Biar dia pikir Mbak lagi dengerin lagu dan lengah. Padahal Mbak dengerin instruksi saya."
"O-oke... udah... gue pasang..."
"Sekarang, share Live Location via WA. Sisa baterai berapa?"
"Tiga persen... Yo, gue takut mati..."
Sial. Tiga persen. Waktuku kurang dari 8 menit sebelum dia putus kontak. Laptopku akhirnya menyala. Aku membuka WhatsApp Web dan Google Maps secara bersamaan, berdoa agar sinyal wifi kosan tetangga yang kutembak tidak putus. Lokasi Novi muncul. Titik biru kecil di tengah lautan abu-abu kawasan industri yang sepi.
"Oke Mbak. Saya liat posisi Mbak. Saya adalah mata Mbak di langit. Mulai sekarang, lakukan persis apa yang saya bilang. Jangan debat, jangan nanya kenapa. Nyawa Mbak taruhannya."
Aku menatap layar laptop. Street View kawasan itu gelap gulita, foto terakhir diambil 5 tahun lalu. Tapi pola jalannya jelas. Tembok pabrik tinggi di kiri kanan. Trotoar rusak. Lampu jalan jarang. Jarak Stalker: Estimasi 20 meter (berdasarkan jeda suara langkah kaki yang tertangkap mikrofon Airpods Novi).
"Mbak, di depan Mbak, sekitar 60 meter lagi, ada pertigaan. Di pojoknya ada bangunan bekas pos satpam yang kacanya pecah. Liat?"
"I-iya... gue liat..."
"Oke. Kita cek dulu dia beneran ngikutin atau cuma kebetulan searah. Saat sampai di depan pos satpam itu, saya mau Mbak berhenti mendadak selama 3 detik. Pura-pura ada kerikil masuk sepatu. Tiga detik. Satu, dua, tiga. Lalu jalan lagi. Paham?"
Novi menurut. Titik biru di peta berhenti. Aku menahan napas, mendengarkan lewat earpiece. Tak-tak-tak... (Langkah Novi berhenti). Hening 1 detik. Srek... Srek... Srek... (Langkah stalker mendekat). SREK. (Langkah stalker berhenti mendadak, ragu). Hening 2 detik. Tak-tak-tak... (Novi jalan lagi). Srek-srek-srek... (Stalker jalan lagi).
"Positif Mbak. Dia mengunci target ke Mbak. Dia berhenti saat Mbak berhenti. Dia bukan orang lewat."
Novi terisak pelan. "Yo... gue harus gimana..."
"Tenang. Kita mainkan psikologisnya. Stalker itu, ciri fisiknya gimana? Detail. Tinggi badan? Cara jalan? Suara napasnya?"
"Tingginya sedeng... mungkin 170an... Jalannya agak berat, kayak nyeret kaki kanannya... Napasnya agak bunyi, kayak orang asma atau perokok berat..."
Deduksi Cepat: