[POV : NOVI]
Selasa Sore, Jam 17.00 WIB. Lokasi: Lobi Kantor PT Maju Mundur. Status: Trauma, Lelah, dan Terpaksa.
Sejak insiden Jumat malam yang mengerikan di Pulo Gadung, di mana aku dikejar stalker ber-hoodie dan diselamatkan oleh panduan jarak jauh Aryo, aku bersumpah di atas koleksi lipstikku bahwa aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di kawasan industri itu lagi.
Tapi, takdir punya selera humor yang buruk. Honda Jazz Merahku masih di sana. Tergolek lemah tak berdaya di parkiran studio foto angker itu. Aku sudah memanggil jasa bengkel panggilan (home service) hari Sabtu kemarin untuk mengganti velg dan ban yang hancur. Laporan dari mekanik via WA: "Mobil udah ganteng lagi Neng, kunci saya titip di pos satpam studio. Satpamnya agak budeg tapi aman."
Masalahnya: Siapa yang mau mengambilnya? Aku? Sendirian? HELL NO. Mending aku jalan kaki dari Jakarta ke Bandung pake egrang daripada balik ke sana sendirian. Mas Hanif? Dia lagi cuti sakit (katanya diare akut gara-gara makan seblak level 15 sama Devi, lemah banget).
Jadi, satu-satunya harapan, dan satu-satunya manusia yang tahu rahasiaku soal kejadian itu, adalah Aryo Baskara. Si OB jenius yang sedang mengepel lantai lobi dengan wajah datar seolah dia sedang merenungi nasib bangsa.
Aku menghampirinya bersama Devi. Devi adalah kuncinya. Tadi pagi aku sempat meminta tolong pada Aryo, tapi dia menolak karena sibuk. Tapi Devi mengenal Aryo jauh lebih lama daripada aku, mungkin Aryo akan mempertimbangkannya. Sebelumnya aku sudah menceritakan kejadian kemarin pada Devi.
Kami menghampiri Aryo yang sedang mengepel lantai. Devi menyapanya.
"Mas Aryo"
"Eh... i, iya mbak" kenapa aryo grogi?
"Nanti kamu bisa nemenin Novi ke Pulo Gadung? Dia mau ambil mobilnya, kamu kan yang kemarin menolongnya juga"
Apakah Aryo menerimanya? Tadi pagi aku sempat berdebat singkat, ga tau deh kalau dengan Devi.
"Ba... baik Mbak, siap"
Heh? Semudah itu? Tadi pagi dia menolak dengan tegas lho, dengan alasan sibuk dan sebagainya, Devi yang minta kenapa langsung diterima. Apa-apaan ini?
"Tuh Nov, Aryo mau..." ucap Devi polos.
"Eh? I... iya, Yo, nanti kita berangkat jam 5 sore ya? Ongkosnya aku yang bayarin" kataku.
"Oke mbak"
Jawabannya padaku biasa saja. Apa artinya ini? Ya sudahlah, yang penting sudah ada yang nemenin.
[POV: ARYO]
Jam 17.45 WIB. Lokasi: Dalam Gerbong KRL Commuter Line (Arah Bekasi).
Kami berada di dalam KRL yang penuh sesak. Aroma keringat, parfum murah, dan minyak angin bercampur menjadi satu aroma khas perjuangan ibu kota. Mbak Novi berdiri terjepit di antara Mas-Mas bawa tas carrier besar dan tiang besi. Wajahnya ditekuk, tangannya memeluk tas Hermes-nya erat-erat. Dia jelas tidak nyaman. Dunia KRL bukan habitat natural seorang model.
Aku berdiri di depannya, menjadi tameng hidup. Punggungku menahan dorongan penumpang lain agar tidak mengenai Mbak Novi. "Tahan napas dikit Mbak, bentar lagi sampe Klender," bisikku.
"Yo... gue masih parno," bisik Novi, matanya bergerak gelisah melihat sekeliling. "Gue ngerasa kayak ada yang ngeliatin gue dari tadi pas kita masuk stasiun."
"Wajar Mbak. Mbak Novi dandanannya mencolok. Pake blazer pink di jam pulang kerja buruh pabrik. Pasti diliatin."
"Bukan... bukan tatapan 'ih cewek cantik'. Tapi tatapan... jahat. Kayak stalker kemaren."
Aku terdiam. Insting Mbak Novi mungkin trauma, tapi trauma seringkali mempertajam insting. Aku mulai melakukan Scanning Lingkungan. Mataku (yang untungnya masih tajam walau sering begadang main game cacing) menyisir wajah-wajah penumpang di gerbong ini.
Target A: Bapak-bapak tidur ngorok. (Aman).
Target B: Mahasiswa main Mobile Legends. (Aman).
Target C: Ibu-ibu rumpi. (Aman).
Lalu, mataku berhenti di sambungan gerbong. Di Gerbong 4 (kami di Gerbong 3). Ada seorang pria. Berdiri santai bersandar di pintu sambungan. Dia memakai kemeja flanel kotak-kotak pudar, celana kargo hitam, dan topi pet yang dipakai agak miring. Tas selempang kulit kumal melintang di dadanya. Dia sedang membaca koran Lampu Merah.
Sekilas, dia tampak seperti buruh biasa yang baru pulang kerja. Tapi ada yang salah. Sangat salah.
Dunia di sekelilingku melambat. Fokusku terkunci pada pria itu.
Surat Kabar: Siapa yang baca koran fisik di tahun 2026? Di jam sibuk KRL? Kertas koran itu tidak bergerak. Matanya tidak memindai tulisan.
Analisis: Koran itu cuma properti. Dia menggunakan Peripheral Vision (penglihatan tepi) untuk mengawasi pantulan kaca jendela di depannya. Dia sedang melihat kami lewat pantulan kaca.
Keseimbangan: Kereta berguncang keras saat melewati wesel Stasiun Jatinegara. Penumpang lain terhuyung. Tapi pria itu... Diam. Kakinya terbuka selebar bahu, lututnya sedikit ditekuk (Tactical Stance). Tubuhnya menyerap guncangan dengan sempurna tanpa berpegangan pada handstrap.
Analisis: Dia terlatih. Bela diri tingkat tinggi atau militer. Keseimbangan intinya (Core Strength) luar biasa.
Tangan: Tangan kirinya memegang koran. Tangan kanannya... masuk ke dalam tas selempang. Diam. Tidak bergerak.
Analisis: Dia memegang senjata. Pistol? Pisau? Siaga 1.
Aura: Stalker kemarin (si Hoodie Hitam) memancarkan aura napsu, panik, dan amatir. Napasnya bunyi. Jalannya seret. Orang ini... Kosong. Dia tidak punya ekspresi. Dia tenang di tengah kerumunan yang chaos. Dia seperti Hiu di kolam ikan mas koki.
"Mbak Novi," bisikku pelan, hampir tanpa menggerakkan bibir. "Jangan nengok drastis. Lirik aja ke arah sambungan gerbong di belakang saya."
"Kenapa Yo? Ada copet?"
"Lebih parah. Ada Profesional."
"Hah? Maksudnya?"
"Orang yang baca koran itu. Dia ngikutin kita dari stasiun awal. Dia bukan stalker mesum kayak kemaren. Dia Pembunuh Bayaran. Atau minimal, orang yang dibayar mahal buat nyakitin Mbak."
Wajah Novi pucat pasi. "L-lu serius Yo? Dari mana lu tau?"
"Liat tangannya. Jari telunjuk dan jari tengah kanannya ada kapalan tebal di buku jari kedua. Itu ciri khas orang yang sering nembak atau latihan pisau taktis bertahun-tahun. Dan liat matanya... dia gak kedip, Mbak. Dia Predator."
Saat kereta mengerem masuk Stasiun Klender, pria itu melipat korannya dengan gerakan rapi dan efisien. Dia menatap lurus ke arahku. Hanya sepersekian detik. Tatapannya dingin. Mati. Tidak ada emosi. Tapi ada seringai tipis di sudut bibirnya. Dia tahu. Dia tahu kalau aku sudah menyadari keberadaannya. Dan dia tidak peduli. Itu tanda kepercayaan diri yang mengerikan.
"Kita turun di sini, Mbak. Tetap di belakang saya. Jangan jauh lebih dari 1 meter. Kalau dia ngelakuin gerakan mendadak, Mbak teriak 'KEBAKARAN', jangan teriak tolong. Orang lebih cepet nengok kalau denger kebakaran."
Jam 18.30 WIB. Lokasi: Parkiran Studio Foto Pulo Gadung.
Kami berjalan cepat menembus kegelapan area industri. Pria itu mari sebut dia "The Silencer" masih mengikuti. Jaraknya terjaga 50 meter di belakang. Dia tidak terburu-buru. Dia tahu tujuan kami. Dia membiarkan kami masuk ke perangkapnya. Tapi apa perangkapnya?
Kami sampai di gerbang studio. Mengambil kunci dari satpam tua yang sedang tertidur (mudah sekali ditembus). Mbak Novi langsung berlari ke arah Honda Jazz merahnya yang terparkir di pojok gelap.
"Mobil gue!" serunya lega. "Bannya udah bener! Ayo Yo, kita cabut dari sini! Gue mau ngebut sampe 140 km/jam!"
Novi membuka kunci pintu dengan remote. BIP BIP. Lampu mobil menyala. Dia sudah memegang gagang pintu, siap masuk.
"BERHENTI!" teriakku.
Aku berlari, menyambar lengan Novi, dan menariknya menjauh dari mobil dengan kasar sampai dia hampir jatuh terjengkang. "ADUH! Sakit Yo! Lu kenapa sih hobi banget narik-narik gue?!"
"Jangan masuk," kataku, napasku memburu. "Jangan nyalain mesin."
"Kenapa?! Itu mobil gue! Udah bener!"
"Liat jendela itu," aku menyorotkan senter HP ke kaca jendela pengemudi. Kaca itu berembun di bagian dalam. Padahal udara di luar kering dan panas. "Ada uap air di dalem. Artinya ada perbedaan suhu atau gas yang terperangkap."
Aku berlutut di aspal. Menyalakan senter ke kolong mobil. Dan di sanalah aku menemukannya. Sebuah selang plastik bening kecil. Disambung secara rapi dari pipa knalpot belakang, ditarik menyusuri sasis, masuk ke atas melalui lubang ventilasi bagasi, dan tembus ke kabin. Pemasangannya sangat rapi. Menggunakan klem besi, bukan selotip. Ini kerjaan teknisi, atau pembunuh yang paham mekanika fluida.
"Mbak Novi," suaraku bergetar. Bukan karena takut, tapi karena ngeri membayangkan skenarionya. "Ini Carbon Monoxide Trap. Perangkap Gas CO."
"A-apa itu?"
"Gas buangan knalpot itu mengandung CO. Tidak berwarna, tidak berbau, tapi mematikan. Dia nyambungin knalpot langsung ke dalem kabin." Aku menatap Novi serius.
"Kalau Mbak masuk, nyalain mesin, terus nyalain AC sirkulasi dalam... Gas itu bakal menuhin mobil dalam 3 menit. Mbak bakal ngerasa ngantuk. Pusing dikit. Terus... Mbak tidur selamanya. Gak bakal bangun lagi." "Dan orang bakal ngira itu kecelakaan karena kebocoran knalpot atau bunuh diri."
Novi menutup mulutnya. Air mata langsung mengalir deras. "Dia... dia mau bunuh gue sekejam itu?"
"Dia bukan cuma mau bunuh Mbak. Dia mau bikin itu keliatan kayak kecelakaan. Dia Profesional, Mbak. Dia gak mau ninggalin jejak darah."
Aku berdiri, menatap ke arah kegelapan di luar pagar studio. Ke arah semak-semak ilalang yang bergoyang pelan. The Silencer ada di sana. Dia menunggu. Dia menunggu momen kami masuk ke dalam peti mati besi itu.
"Dia kecewa, Mbak," bisikku. "Dia liat kita gak jadi masuk. Sekarang dia harus ganti rencana. Dari 'Silent Kill' jadi 'Active Elimination'."
"Maksudnya?"
"Maksudnya dia bakal dateng ke sini dan ngebunuh kita pake tangannya sendiri."
[POV: NOVI]
Aku gemetar hebat. Lututku lemas. Di depanku ada mobilku yang berubah jadi kamar gas. Di belakangku ada kegelapan tempat pembunuh bayaran mengintai. Dan satu-satunya pelindungku adalah OB kurus yang badannya lebih kecil dariku.
"Yo... kita mati Yo... Kita gak bisa lawan dia... Dia punya pistol mungkin..."
Aryo diam. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan seperti aku. Dia menunduk, menatap tanah. Lalu dia menatap langit-langit pos satpam. Lalu dia menatap tumpukan barang bekas di sudut parkiran.
"Mbak Novi," panggil Aryo. Suaranya berubah. Tenang. Dingin. Penuh perhitungan.
"Kenapa Yo?"
"Orang ini... dia Profesional. Kelebihannya adalah dia rapi, terencana, dan efisien. Tapi kelemahannya... dia Prediktif. Dia berasumsi kita bakal panik. Dia berasumsi kita bakal lari ke jalan raya, atau sembunyi di pos satpam dan nelpon polisi (yang datengnya pasti lama)."
"Terus kita harus gimana?"
"Kita jangan lakuin apa yang dia prediksi. Kita harus jadi Chaotic. Kita harus jadi Absurd. Kita harus bikin dia bingung sampe sistem logikanya crash."
Aryo menatapku. "Mbak, di mobil ada apa aja? Parfum? Hairspray? Korek api?"
"Ada parfum mahal... hairspray buat rambut... korek api gak ada, gue gak ngerokok."
"Oke. Saya punya korek (buat bakar sampah). Hairspray itu mengandung alkohol dan gas pendorong yang mudah terbakar. Itu Flamethrower darurat kita."
Aryo mengambil kunci mobil dari tanganku. "Sekarang kita main strategi. Namanya 'The Triple Deception'."
"Apa itu?"
Aryo menjelaskan rencananya dengan cepat. Matanya berkilat-kilat di bawah sinar lampu parkiran yang redup. "Pertama, kita bikin dia mikir kita masih di sini. Kedua, kita giring dia ke tempat yang kita mau. Ketiga, kita jebak dia di tempat ramai di mana dia gak bisa pake senjatanya."
"Tempat ramai? Di sini sepi Yo!"
Aryo membuka Google Maps di HP bututnya. "Liat ini. 2 Kilometer dari sini. Ada Pasar Malam BKT (Banjir Kanal Timur). Ada Wahana Kora-Kora, Dangdut, dan ribuan orang. Itu medan perang kita. Kita akan seret dia ke sana."
"Gimana caranya kita ke sana tanpa ditembak di jalan?"
"Kita bikin pengalihan. Mbak punya baju ganti di mobil?" "Ada. Kaos oblong bekas gym."
Aryo mengambil kaos itu. Dia mengikatnya ke setir mobil. "Mbak, mundur ke tembok belakang. Cari lubang tikus atau pagar bolong. Saya liat di Maps ada jalan tembus ke kampung belakang."
"Terus lu?"
"Saya mau nyalain mobil ini."
"JANGAN YO! NANTI LU MATI KENA GAS!"
"Enggak. Saya gak akan masuk. Saya cuma mau nyalain mesin dari luar, buka kaca dikit, dan ganjel gas pake batu. Biar mobilnya meraung. Biar dia pikir kita nekat mau kabur pake mobil." "Saat dia fokus ke mobil yang berisik... kita lari lewat belakang."
Gila. Aryo gila. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku lari ke tembok belakang. Aryo melakukan aksinya. Dia menyalakan mesin dari pintu terbuka, lalu cepat-cepat menahan pedal gas dengan batu besar, dan menutup pintu. BRUMMMMM!!!! Mesin Jazz meraung tinggi. Asap knalpot (yang sebagian masuk ke kabin lewat selang itu) mengepul.
Di semak-semak depan, aku melihat pergerakan. Bayangan hitam itu bergerak cepat menuju mobil. Dia tertipu! Dia pikir kami di dalam dan mau menerobos keluar!
"SEKARANG MBAK! LARI!" Aryo menyusulku. Kami memanjat pagar tembok belakang yang bolong (aku merobek dress-ku, bodo amat). Kami melompat ke selokan kering di belakang pabrik. Dan kami berlari menembus malam menuju cahaya lampu Pasar Malam di kejauhan.
Di belakang kami, Si Pembunuh sedang mendekati mobil kosong yang penuh gas beracun. Saat dia sadar mobil itu kosong... Dia akan sangat, sangat marah. Dan perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Kami berlari. Bukan lari santai di treadmill gym mahal tempat biasa aku olahraga. Ini lari menyelamatkan nyawa di atas tanah becek, kerikil tajam, dan ilalang yang menggores betis mulusku. Aku sudah melepas heels 9 cm-ku sejak tadi. Sekarang aku bertelanjang kaki. Rasa sakit di telapak kaki sudah mati rasa karena adrenalin.
"Ayo Mbak! Jangan nengok!" teriak Aryo di depanku. Dia berlari sambil memegang kunci mobilku dan HP bututnya yang menyala menampilkan peta. Napasnya terdengar berat, ngik-ngik seperti mesin tua yang dipaksa ngebut.
Di belakang kami, di kejauhan, terdengar suara raungan mesin mobil Honda Jazz-ku yang tadi diganjal batu oleh Aryo. BRUMMM... BRUMMM... Suaranya makin lama makin pelan. Dan kemudian... Hening. Mesinnya mati. Mungkin bensinnya habis, atau si Pembunuh sudah mematikannya. Artinya: Dia tahu mobil itu kosong. Artinya: Dia tahu kami lari ke sini.
"Yo... dia ngejar kita Yo..." isakku sambil melompati genangan air limbah. "Dia pasti marah banget..."
Aryo berhenti sejenak di pertigaan jalan kampung yang gelap. Dia memegang lututnya, mengatur napas. Wajahnya pucat, keringat bercucuran. "Dia... hah... bukan marah, Mbak. Dia profesional. Dia lagi kalkulasi."
Aryo menunjuk ke depan. Ada cahaya terang benderang di kejauhan. Langit malam berwarna-warni oleh lampu sorot dan laser murah. Suara dentuman bass musik dangdut koplo terdengar sayup-sayup. "Joko Tingkir Ngombe Dawet..."
"Itu tujuan kita, Mbak. Pasar Malam BKT (Banjir Kanal Timur). Jarak 500 meter lagi."
"Kita ngapain ke sana?! Itu rame banget! Kalau dia nembak gimana?"
"Justru itu. Senjata dia itu 'Silent'. Pisau, jarum, atau pistol peredam. Dia gak bisa pake itu di tengah ribuan orang yang joget dangdut. Terlalu berisiko. Saksi mata terlalu banyak. Di sana, kita punya Perisai Manusia."
Kami lanjut lari. Aku menoleh ke belakang sekilas. Di ujung jalan gelap yang baru kami lewati, aku melihat bayangan. Siluet pria. Dia tidak berlari terburu-buru. Dia berjalan cepat, langkahnya panjang dan efisien. Seperti Terminator yang sedang mengejar Sarah Connor. Dia melihat kami.
"LARI LEBIH CEPAT MBAK!"
[POV: ARYO]
Jam 20.00 WIB. Lokasi: Pasar Malam BKT (Sisi Jakarta Timur).
Kami menerobos masuk ke dalam kerumunan Pasar Malam. Duniaku langsung berubah. Dari kesunyian mencekam jalan pabrik, menjadi kakofoni suara dan cahaya yang menyakitkan indra. Suara teriakan tukang obat, suara klakson odong-odong, suara musik remix yang bass-nya bikin jantung bergetar, dan aroma campuran antara sampah, jagung bakar, dan keringat ribuan manusia.
"Jangan lepas tangan saya, Mbak!" teriakku, menggenggam tangan Novi yang dingin dan licin oleh keringat.
Aku menariknya masuk ke lorong sempit di antara lapak baju bekas (thrifting) dan lapak penjual casing HP. Kami bersembunyi di balik gantungan daster ibu-ibu.
"Yo... dia masih ngikutin?" tanya Novi gemetar.
Aku mengintip lewat celah daster batik. Mataku memindai kerumunan. Ratusan wajah. Ibu-ibu, anak kecil, preman lokal, pasangan pacaran. Susah. Terlalu banyak variabel.
Tapi... Ada satu pola yang merusak aliran kerumunan. Orang-orang secara naluriah menyingkir, memberikan jalan. Di sana. 20 meter dari posisi kami. The Silencer. Dia masih memakai kemeja kotak-kotak pudarnya. Topinya ditekan rendah. Tas selempangnya dipeluk di depan dada (posisi siaga ambil senjata). Dia berjalan membelah kerumunan dengan mulus. Matanya bergerak kiri-kanan seperti radar. Dia tidak panik. Dia tidak berkeringat. Dia sedang berburu.
"Dia ada di sana, Mbak. Dia nyari kita," bisikku.
"Kita harus gimana Yo? Kita kejebak!"
"Kita harus bikin dia Kelihatan. Masalahnya sekarang, dia itu 'Grey Man'. Dia gak mencolok. Kalau dia nusuk kita di sini, orang gak bakal sadar sampai kita jatuh berdarah."
Aku melihat sekeliling. Mencari senjata. Senjata di Pasar Malam bukan pistol atau pisau. Senjata di sini adalah Kekacauan.
Mataku tertuju pada dua lapak di depan kami.