Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #19

Ketika Intel Magang Jadi OB

[POV : Kompol Yogi (Kepala Unit Intelijen Khusus)]

 Lokasi: "Black Room" Mabes Polri (Ruangan dingin, bau kabel kebakar dikit, dan bau bumbu kuah bakso). Waktu: 3 Hari Setelah Peristiwa Minimarket Meledak.

Kenalin, aku Yogi. Pangkat Kompol. Kerjaan sehari-hari ngurusin teroris, kartel narkoba, sama kadang-kadang disuruh benerin printer Pak Jenderal yang macet. Biasanya, aku sarapan data intelijen yang bikin migrain. Tapi malem ini, di depan layar monitor LED 80 inchi yang resolusinya sangat tinggi, aku merasa...bodoh.

Di tangan kanan, aku megang mangkok Bakso Urat Pak Kumis yang kuahnya udah mulai dingin dan berlemak (tanda-tanda kolesterol mengintai). Di tangan kiri, ada berkas laporan forensik setebel skripsi mahasiswa abadi. Dan di layar itu... aku lagi nonton sebuah keajaiban dunia ke-8.

"Yan, coba ulang menit ke 14.30. Kamera Stasiun Klender," perintahku ke Yandi, operator IT andalan yang mukanya pucat kayak mayat hidup kebanyakan coding.

"Siap Ndan," jawab Yandi santai.

Layar berkedip. Rekaman CCTV buram muncul. Di sana, ada dua makhluk Tuhan yang lagi kejar-kejaran. Subjek A (Aryo Baskara): Cowok kurus, tinggi standar (168 cm, pendek sih buat ukuran hero), lari dengan gaya yang... menyedihkan. Tangannya melambai-lambai panik kayak orang dikejar debt collector, kakinya keserimpet sendiri, mukanya noleh ke belakang dengan ekspresi pasrah kayak lele mau digeprek. Target X (The Silencer): Pembunuh bayaran elit. Lari tegap, efisien, pisau komando di tangan. Predator puncak.

"Liat nih Ndan," kata Yandi sambil nyeruput es teh manis.

Di layar, si Aryo tiba-tiba ngerem mendadak tepat di pinggir peron. Garis Kuning. Zona maut. Kereta KRL Commuter Line lagi ngebut dari arah kanan. Lampu sorotnya silau banget. Si Silencer, yang nafsu membunuhnya udah di ubun-ubun, nerjang maju. Niatnya jelas: Mau nyate Aryo sebelum kereta lewat.

Aku nahan napas. Bakso di mulutku berenti dikunyah. Aryo gak lari. Dia diem. Kayak patung pancoran. Terus, pas piso itu tinggal sejengkal dari dadanya... Aryo jatohin badan ke samping. Gerakannya kikuk abis, kayak orang kepeleset kulit pisang, tapi... timing-nya itu lho. Presisi gila.

WUSH! Lokomotif kereta lewat. Anginnya kenceng banget. Si Silencer, yang udah terlanjur lari kenceng, gak bisa ngerem. Hukum Fisika Newton I berlaku: Benda yang bergerak, bakal susah disuruh berenti kalau gak nabrak tembok. Dia masuk zona bahaya. Bodi samping gerbong KRL yang lari 50 km/jam ngehajar pinggang kirinya.

BUGH! Di layar bisu itu, aku kayak bisa denger suara tulang panggul yang remuk jadi serbuk gergaji. Si Silencer mental, muter di udara tiga kali, terus jatoh gedebuk di aspal peron.

Aku nelen bakso urat bulet-bulet. Sakit di tenggorokan. "Gila..." desisku. "Yan, itu hoki apa gimana?"

Yandi benerin kacamatanya. "Secara statistik, peluang Aryo selamat itu cuma 0,001%, Ndan. Kalau dia telat kedip doang, dia yang jadi perkedel. Kalau dia kecepetan, musuh sempet ngerem."

Aku geleng-geleng kepala. "Enggak. Ini bukan hoki. Liat matanya sebelum jatoh." Aku zoom muka Aryo yang pecah-pecah pikselnya. Dia lagi ngelirik lampu kereta. "Dia ngitung kecepatan kereta, Yan. Dia ngitung jarak lari musuh. Dia jadiin Kereta Commuter Line seberat 300 ton sebagai senjata Melee. Ini teknik Environment Utilization."

Aku taruh mangkok bakso. Ilang nafsu makanku. "Siapa sih ni orang? Agen rahasia mana? CIA cabang Purwokerto?"

"Pindah ke rekaman kedua. Minimarket 24 Jam," perintahku. Ini lebih gila lagi. Minimarket itu ancur lebur kayak abis kena rudal nyasar. Rak roboh, lantai banjir cairan warna-warni, bau angus (keliatan dari asep). Dan ada satu orang (Si Silencer) yang diiket lakban kayak mumi Firaun di depan lemari minuman yang sudah hancur berantakan.

"Ini TKP-nya Ndan. Pelaku (Silencer) yang udah pincang tadi ngejar sampe sini. Dia masih bawa piso," jelas Yandi.

Di layar, "Itu lantai kenapa mengkilap banget?" tanyaku. "Minyak Goreng 2 literan."

Si Silencer masuk. SREET! Dia kepeleset sliding tackle ala pemain bola. Terus klimaksnya. Di depan meja kasir. Aryo ngelempar botol plastik ke arah Silencer. DUAR! Botol meledak. Cairan nyembur. Silencer jejeritan megangin kakinya yang berasap. "Itu apaan anjir? Granat kimia?" aku melotot. "Bukan Ndan. Forensik bilang itu botol Vixal (Pembersih WC) dicampur pecahan Kapur Barus sama Pemutih."

Aku mijit pelipis. Pusing. "Asam Klorida (HCl) plus Gas Klorin? Dia bikin Mustard Gas versi rumahan? Di depan meja kasir Indomaret?" "Betul Ndan. Reaksi kimia bikin tekanan gas naik, botol meledak."

Belum kelar. Finishing Move-nya. Aryo narik si cewek (Novi) tiarap. Di Lorong 2, Microwave nyala sendiri. BOOM! Ledakan api. Pintu microwave terbang kayak UFO ngehantam dada Silencer. Rak chiki angus. "Microwave Bomb," gumamku horor. "Dia manasin kaleng aerosol (obat nyamuk) di dalem microwave. Tekanan uap + panas = Bom Pipa."

Aku nyender di kursi kerjaku yang empuk (tapi bau apek). "Yan, catet ini." "Siap Ndan." "Minyak goreng buat bikin musuh jatoh. Tepung terigu buat ngilangin pandangan. Vixal buat senjata kimia. APAR untuk bikin buta. Microwave buat bom."

Aku natap Yandi dengan tatapan kosong. "Ini bukan tawuran warga, Yan. Ini Perang Taktis Asimetris. Dia ngerubah minimarket jadi Kill House dalam waktu 5 menit. Dia ngebunuh karir pembunuh bayaran internasional pake barang diskonan."

"Siap Ndan. Si Silencer sekarang dirawat di RS Polri."

"Sekarang kita bandingkan 'prestasi' dua individu ini."

Yandi mengetik data si pembunuh

Nama Samaran: The Silencer.

Identitas Asli: Sergei Volkov (Dugaan).

Kewarganegaraan: Tidak Diketahui (Paspor ganda: Rusia, Brazil, Kroasia).

Riwayat Kejahatan:

Likuidasi saksi kunci di Pengadilan Den Haag (2018).

Peledakan mobil Jaksa di Kolombia (2020).

Pembantaian di gudang senjata Filipina (2023).

Keahlian: Close Quarters Combat (CQC), Sniper Jarak Jauh, Peracikan Racun, Ahli Menyamar.

Tarif Sewa: USD 500.000 per kepala.


Wajahnya blur dan tampak seram dan tegas.

"Sekarang kita cari data mengenai Aryo Baskara."

Yandi ngetik cepet. Profil Aryo muncul di layar gede. Fotonya... Ya Allah. Muka cengo (bengong), rambut acak-acakan, mata sayu kayak orang yang beban idupnya lebih berat dari dosa masa lalu.

DATA SUBJEK A (PRIMARY SUSPECT)

Nama: Aryo Baskara.

TTL: Purwokerto, 12 Mei 1999.

Umur: 27 Tahun.

Pendidikan: SMK Jurusan Mesin (Nilai Matematika 6.0, Remedial 3 kali. Nilai Agama 9.5).

Aku ngerutkin dahi. "SMK? Bukan lulusan Teknik Kimia ITB? Bukan Fisika Nuklir UGM?" "Bukan Ndan. SMK biasa. Itu pun ijazahnya sempet ditahan sekolah setaun gara-gara nunggak SPP."

Riwayat Pekerjaan (Jakarta):

  1. Kurir Paket (2 Bulan): Dipecat gara-gara motor ilang pas dia lagi beli cilok.
  2. Pengamen Blok M (3 Minggu): Lagu andalan "Kemesraan". Pendapatan: Cukup buat beli nasi kucing doang.
  3. Badut Lampu Merah (1 Bulan): Kostum Winnie The Pooh. Resign karena kostumnya bau apek dan sering dikejar Satpol PP.
  4. Manusia Silver (2 Minggu): Perempatan Fatmawati. Catatan Dinsos: Pernah kejaring razia. Pas diinterogasi, nangis sesenggukan gara-gara cat silver masuk kuping dan susah ilang, takut budek seumur idup.

Aku banting pulpen. BRAK! "LU BERCANDA KAN YAN?!" teriakku. Yandi kaget sampe keselek ludah. "S-siap enggak Ndan! Ini data valid dukcapil dan dinsos!"

"Maksud lu... Orang yang ngerakit bom Vixal dan ngitung fisika kereta api itu... adalah mantan Manusia Silver yang nangis gara-gara kupingnya kemasukan cat?!"

"Siap, betul Ndan."

Aku mijit pangkal idung. Pusing tujuh keliling. Ini paradoks. Ini anomali. "Cek jejak digitalnya. Medsos. Game."

Jejak Digital:

Akun Medsos: @AryoKun_99 (Foto Profil: Hinata Hyuga).

Bio: “Menunggu Waifu. Jomblo Fisabilillah. Open BO (Bantu Orang).”

Status Terakhir: “Ya Allah, token listrik bunyi tit-tit-tit kayak bom waktu. Padahal gajian masih seminggu. Makan promag lagi dah.”

Hobi: Main Dota 2. Rank: Guardian (Noob abis). Sering dimaki temen setim: "Woi CM goblog, pasang ward dong!"

Aku diem lama. Hening. Cuma ada suara server berdengung dan suara perutku yang minta nambah bakso. "Jadi..." suaraku serek. "Musuh dari pembunuh bayaran internasional ini adalah seorang Wibu, pemain Dota noob, mantan Manusia Silver, yang saldo ATM-nya mungkin lebih rendah dari harga parkir mall?"

"Siap Ndan. Saldo terakhirnya Rp 47.500,-."

Lihat selengkapnya