[POV : Aryo]
Biasanya, jam segini Devi Leona sudah berisik. Entah dia lagi marah-marah sama printer yang macet, ghibah sama Mbak Novi tentang harga cabe, atau ngomelin aku karena salah beli gorengan (minta bakwan dikasih tahu isi). Energi Devi itu seperti reaktor nuklir: eksplosif dan menghidupi satu lantai.
Tapi hari ini... hening. Devi duduk di kubikelnya, menatap layar komputer yang mati. Matanya bengkak. Wajahnya pucat tanpa makeup (sebuah anomali besar). Dia terlihat seperti balon gas yang baru saja kehilangan udaranya. Kempes. Layu.
Aku, Aryo Baskara, sedang mengepel lantai di lorong sebelah. Hatiku tidak tenang. Melihat Devi sedih itu lebih menyakitkan daripada kejatuhan galon air di kaki. Aku mencoba menyapa. "Mbak Devi... Kopi?" Devi hanya menggeleng lemah tanpa menoleh. "Gak usah Mas. Makasih."
Suaranya serak. Hancur. Aku mundur teratur. Ini bukan ranahku. Aku butuh intelijen. Aku butuh orang dalam.
Aku lari ke ruangan Mas Hanif (Senior Marketing & Tempat Curhat Nasional). "Mas Hanif!" bisikku panik. Hanif yang lagi main Zuma kaget. "Apaan Yo? Ada inspeksi mendadak?"
"Bukan. Mbak Devi. Dia aneh Mas. Diem banget. Matanya bengkak. Tolong cari tau dong Mas. Saya gak tega liatnya."
Hanif menghela napas, meletakkan mousenya. "Iya sih, gue juga perhatiin dari tadi. Tumben dia gak ngamuk pas internet lemot. Oke, gue panggil dia."
Lima menit kemudian. Mas Hanif memanggil Devi ke ruangannya. Dan anehnya, dia juga memanggilku. "Aryo, lu ikut masuk. Bawa teh anget buat Devi."
Aku masuk dengan nampan teh, jantung berdegup kencang. Devi duduk di kursi, menunduk dalam. Hanif duduk di depannya, mode bapak-bapak bijak on.
"Dev, cerita dong. Lu kenapa? Kalau soal kerjaan, gue bisa minta keringanan ke si botak (Pak Boss). Kalau soal duit, ya... kita sama-sama miskin sih."
Devi terisak pelan. Bahunya berguncang. "Mas Hanif... Mas Aryo..."
Aku meletakkan teh di meja. "Minum dulu Mbak."
Devi menyeruput teh sedikit, lalu menatap kami dengan mata berkaca-kaca. "Mama..." bisiknya. "Mama mau dateng ke Jakarta."
Hanif bingung. "Lho? Bagus dong? Kangen anak kan? Emang Mama lu kenapa? Galak?"
Devi menggeleng kuat. "Bukan cuma dateng Mas. Mama mau JEMPUT aku pulang ke Surabaya. Permanen."
"Hah?" Aku dan Hanif kompak kaget.
"Dan bukan cuma itu..." Air mata Devi tumpah. "Mama udah jodohin aku. Aku bakal dinikahin sama anak rekan bisnis Mama"
JLEEEGGGERRRR!!!
Rasanya ada petir menyambar tepat di ulu hatiku. Dinikahkan? Bulan depan? Duniaku runtuh. Mimpiku membonceng Devi naik Supra keliling kota musnah seketika. Aku mematung memegang nampan kosong, tanganku gemetar.
"Aku gak mau Mas..." tangis Devi pecah. "Aku ke Jakarta itu buat ngejar mimpi aku! Aku mau sukses dengan tanganku sendiri! Aku gak mau jadi boneka Mama! Aku gak cinta sama cowok itu! Aku bahkan gak tau mukanya kayak apa!"
Hanif memijat pelipisnya. "Waduh... Siti Nurbaya era modern nih. Terus lu udah nolak?"
"Udah Mas! Tapi Mama itu... Mama itu Diktator. Gak ada yang bisa ngebantah Mama. Papa aja takut. Di Surabaya, hidup aku emang terjamin, aku bakal jadi penerus perusahaan keluarga. Aku bisa S2, aku bisa beli apa aja. Tapi aku gak bahagia Mas! Aku lebih milih hidup ngenes di sini, makan mie ayam pinggir jalan, dimarahin bos, tapi aku BEBAS!"
Aku menatap Devi. Wanita ini... rela menukar kekayaan Crazy Rich demi kebebasan menjadi dirinya sendiri. Demi martabat. Hatiku makin hancur, tapi sekaligus makin kagum.
"Masalahnya Mas," lanjut Devi sesenggukan. "Mama besok lusa sampe Jakarta. Dia mau ketemu aku buat finalisasi penjemputan. Aku gak berani ngadepin Mama sendirian. Aku pasti kalah debat. Aku pasti dipaksa pulang."
Hanif berpikir keras. Lalu matanya melirik ke arahku. "Dev. Lu butuh negosiator. Lu butuh orang yang pinter ngomong, pinter logika, dan gak gampang diintimidasi."
Devi mengangkat wajahnya. "Siapa Mas? Mas Hanif mau?"
Hanif menggeleng. "Gue takut sama ibu-ibu galak. Trauma masa kecil. Tapi... ada satu orang yang track record-nya gila. Dia bisa ngalahin CEO palsu (Samuel), dia bisa ngadepin 12 begal, dan dia punya otak setajam silet."
Hanif menunjukku. "Bawa Aryo."
Devi menatapku. Matanya yang basah bertemu mataku. Ada harapan di sana. "Mas Aryo...?"
Aku menelan ludah. Melawan Ibu-ibu Crazy Rich? Itu boss terakhir di game kehidupan. Tapi melihat air mata Devi... "Saya siap Mbak," jawabku mantap (padahal dengkul gemeter). "Saya temenin Mbak Devi ketemu Mama."
Kami sepakat. Pertemuan diadakan hari Rabu malam. Di Restoran The Orient (Restoran Fine Dining super mewah di hotel bintang 5). Tempat netral yang dipilih Mamanya Devi.
Dua hari menuju hari H adalah siksaan batin bagiku. Siang hari aku bekerja seperti biasa, tapi malamnya aku tidak bisa tidur. Aku menyusun argumen di kepalaku. Menyiapkan data. Menyiapkan mental.
Tapi ada satu suara kecil di kepalaku yang mengganggu. Suara logika yang dingin.
"Yo, lu sayang sama Devi kan?" "Iya." "Lu mau dia bahagia kan?" "Pasti." "Coba pikir pake otak lu yang jenius itu. Devi di sini hidup susah. Gaji pas-pasan. Kosan sempit. Tiap hari stress kerja. Naik motor panas-panasan." "Terus?" "Kalau dia pulang ke Surabaya... dia bakal jadi Ratu. Hidup mewah. S2 di luar negeri. Masa depannya cerah. Suaminya pasti orang kaya, ganteng, setara." "Tapi dia gak cinta..." "Cinta bisa dateng belakangan. Atau seenggaknya, dia gak bakal menderita secara finansial. Kalau dia sama lu? Lu bisa kasih apa Yo? Gaji UMR? Supra butut?"
Aku terdiam di kamar kosku yang sempit. Menatap langit-langit yang bocor. Apakah aku egois kalau aku nahan Devi di sini? Apakah membiarkan Devi pulang adalah bentuk cinta yang sesungguhnya?
"Sialan..." aku membenamkan wajah ke bantal. Aku dilema. Membantu Devi melawan ibunya berarti membiarkan Devi tetap hidup susah bersamaku (sebagai teman). Membantu ibunya berarti Devi akan hidup enak, tapi aku kehilangan dia selamanya.
Rabu Sore, Jam 17.00 WIB. Aku dan Devi berangkat ke Hotel Mulia. Devi memakai gaun sopan tapi elegan. Aku memakai batik terbaikku (yang sebenernya batik seragam panitia 17-an, tapi motifnya bagus). Di dalam taksi online, Devi menggenggam tanganku erat. Tangannya dingin sekali.
"Mas Aryo," bisiknya. "Aku takut."
"Tenang Mbak. Ada saya."
"Mas, janji ya? Bantuin aku ngomong. Bantuin aku yakinin Mama kalau aku bahagia di sini. Kalau aku bisa sukses tanpa bantuan Mama. Mama pasti dengerin logika Mas Aryo. Mas Aryo kan pinter banget debatnya."
Devi menatapku penuh harap. Matanya berbinar memohon. Aku menatap balik. Di kepalaku, perang batin sedang berkecamuk hebat. Logika vs Perasaan.
"Mas Aryo?"
"Iya Mbak. Saya akan lakukan yang terbaik... buat Mbak Devi." Aku tidak bilang "buat kita". Aku bilang "buat Mbak Devi". Karena saat itu, aku sudah membuat keputusan yang menyakitkan.
Taksi berhenti di lobi hotel yang megah. Pengawal bertubuh besar dengan jas hitam dan earpiece sudah menunggu di pintu masuk. "Nona Devi? Silakan."
Kami berjalan masuk. Menuju medan perang yang sesungguhnya. Bukan melawan begal. Tapi melawan takdir.
Rabu Malam, Jam 19.00 WIB. Lokasi: The Orient Restaurant, Private VIP Room. Status: Intimidasi Level Dewa.
Kami tiba di depan pintu ruangan VIP. Jujur, ini bukan restoran sembarangan. Ini tipe restoran yang harga air putihnya bisa buat bayar kosan sebulan. Pelayannya bicara bahasa Prancis, karpetnya lebih tebal dari kasur busaku, dan sendok garpunya terbuat dari perak asli (aku tau karena aku ketuk-ketuk bunyinya nyaring).
Di depan pintu kayu jati ukiran Jepara, berdiri 4 orang pengawal (Bodyguard) berjas hitam, berbadan tegap, dan memakai earpiece. Wajah mereka datar seolah-olah mereka tidak punya jiwa. Devi meremas lenganku makin kencang. Kuku-kukunya menancap di kulitku. "Mas Aryo... jangan tinggalin aku ya. Tolong banget. Mama itu pinter muter balik kata. Cuma Mas Aryo yang bisa ngalahin logika Mama."
Aku menatap mata Devi yang basah.
"Mbak Devi percaya sama saya?"
"Percaya Mas. 1000 persen."
Aku tersenyum tipis. Senyum yang menyakitkan, karena aku tahu apa yang akan kulakukan. "Ayo masuk."
Pintu dibuka. Hawa dingin AC menyambut kami. Di tengah ruangan yang luasnya seukuran lapangan futsal itu, duduk seorang wanita di ujung meja panjang. Ibu Ratna Wijaya. Mamanya Devi.
Beliau mengenakan kebaya modern rancangan desainer, sanggul rambut yang sempurna tanpa sehelai pun rambut keluar jalur, dan perhiasan berlian yang kilaunya bisa bikin mata minus jadi sembuh. Aura kewibawaannya begitu kuat, rasanya gravitasi di ruangan ini berpusat padanya.
Devi menunduk, menciut seperti anak kucing yang ketahuan nyolong ikan. "Malam... Ma..."
Ibu Ratna meletakkan cangkir teh porselennya dengan bunyi ting yang halus namun tegas. Beliau menatapku dari ujung kaki (sepatu pantofel diskonan) sampai ujung rambut (pomade 5 ribuan). Tatapan itu... Tatapan Predator. Tatapan seorang CEO yang biasa memecat 100 orang sebelum sarapan.
"Duduk," perintahnya singkat.
Kami duduk berhadapan dengan beliau. Meja panjang memisahkan kami seolah jurang pemisah kasta.
"Jadi," suara Ibu Ratna tenang tapi mengintimidasi. "Ini 'negosiator' yang kamu bawa, Devi? Seorang... Karyawan rendahan?"
"Namanya Aryo, Ma," bela Devi pelan. "Dia... rekan kerja Devi yang cerdas. Dia mau bantu jelasin kenapa Devi harus tetep di Jakarta."
Ibu Ratna tersenyum sinis. "Silakan. Saya beri waktu 5 menit untuk menjelaskan kenapa putri tunggal Wijaya Group harus hidup menderita di kota penuh polusi ini, bekerja di bawah perintah orang lain, dan tinggal di kamar sempit."
Aku menarik napas panjang. Aku menatap Ibu Ratna.
Bahasa Tubuh: Santai tapi dominan. Jari mengetuk meja (tidak sabar).
Psikologi: Tipe Control Freak. Perfeksionis. Tapi matanya... ada sedikit kerutan di sudut mata. Kelelahan? Atau kekhawatiran?
Argumen Lawan: Menggunakan pendekatan Financial Security dan Status Sosial.
Ibu Ratna mulai menyerang dengan argumen logis:
Setiap kalimat beliau adalah Peluru Logika. Tajam. Akurat. Mematikan. Devi sudah menangis tanpa suara di sebelahku. Dia kalah telak.
Tapi aku... Aryo Baskara. Di kepalaku, aku sudah menyusun Counter-Argument (Bantahan) yang sempurna.
Bantahan 1 (Kebahagiaan): "Uang ratusan miliar tidak bisa membeli kepuasan batin saat Devi berhasil menyelesaikan proyek dengan tangannya sendiri. Itu namanya Self-Actualization (Teori Maslow). Di Surabaya, dia cuma jadi boneka emas."
Bantahan 2 (Calon Suami): "Lulusan Harvard belum tentu cocok secara emosional. Statistik perceraian orang kaya karena perjodohan itu tinggi. Devi butuh partner yang mengerti jiwanya, bukan cuma portofolio sahamnya."
Bantahan 3 (Keamanan): "Ibu bilang Jakarta bahaya? Devi sudah melumpuhkan 12 begal sendiYandi. Dia aman. Justru di sangkar emas Ibu, mentalnya yang dalam bahaya."
Aku bisa mengatakan semua itu. Aku bisa memenangkan debat ini. Aku bisa membungkam Ibu Ratna dengan data dan analisis psikologis. Aku melihat Devi menatapku, matanya memancarkan sinyal: "Ayo Mas! Ngomong! Serang balik!"
Tapi kemudian... Ibu Ratna menatapku tajam, lalu berkata pelan:
"Anak muda. Saya tahu kamu peduli pada anak saya."
DEG. Jantungku berhenti. Devi kaget. Aku bahkan belum pernah menyatakan perasaan pada Devi.
"Saya lihat dari caramu menatap dia. Dari caramu menjaganya," lanjut Ibu Ratna. "Kalau kamu benar-benar mencintai putri saya... coba pikirkan. Apakah kamu tega melihat dia hidup susah selamanya? Naik motor kepanasan? Makan pinggir jalan? Dihina atasan? Apakah itu yang namanya cinta? Membiarkan orang yang kamu sayang menderita demi egomu?"
"Saya bisa menjamin masa depannya, Nak Aryo. Kamu bisa?"
Pertanyaan itu menohok ulu hatiku. Aku melihat Devi. Cantik, pintar, berkelas. Lalu aku melihat diriku. OB. Gaji UMR. Kosan bocor. Masa depan apa yang bisa kutawarkan? Janji manis? Komedi ngenes?
Logikaku hancur oleh Realita. Analisisku kalah oleh Rasa Inferior. Benar kata beliau. Kalau aku sayang Devi... aku harus melepaskannya ke tempat yang lebih baik. Bukan menahannya di neraka Jakarta bersamaku.
Aku menunduk. Mengepalkan tangan di bawah meja. Maafkan aku, Devi.
"Mas Aryo..." bisik Devi. "Jawab Mas... Bilang kalau aku bahagia di sini..."
Aku mengangkat wajahku. Menatap Devi, lalu beralih ke Ibu Ratna. Aku memasang wajah datar. Wajah tanpa emosi.
"Ibu Ratna benar, Mbak Devi," kataku dingin.
Devi tersentak. "Hah...?"
"Saya sudah hitung kalkulasinya," lanjutku, suaraku bergetar sedikit tapi kutahan. "Secara statistik dan probabilitas ekonomi... keputusan terbaik adalah Mbak Devi pulang ke Surabaya."
Mata Devi membelalak. Air matanya berhenti menetes karena saking kagetnya. "Mas Aryo... kamu ngomong apa?"
"Mbak Devi harus realistis," aku terus menggali lubang kuburku sendiri. "Di Jakarta, karir Mbak Devi stagnan. Gaji kecil. Risiko kriminal tinggi (kita udah ngalamin sendiri). Kalau Mbak pulang, Mbak dapet segalanya. Suami kaya, rumah mewah, pendidikan S2."
Aku menoleh ke Devi, menatap matanya dalam-dalam. "Mbak Devi gak cocok hidup susah sama orang-orang kayak saya. Mbak Devi itu Angsa, jangan maksa main di lumpur bareng Bebek."
Hening. Sunyi senyap. Bunyi AC terdengar seperti badai.
Devi menatapku dengan tatapan yang takkan pernah kulupakan seumur hidup. Tatapan Kehancuran. Tatapan orang yang baru saja ditusuk dari belakang oleh satu-satunya orang yang dia percaya. Bibirnya gemetar.
"Kamu... kamu nyuruh aku ngikutin kata mama?"
"Itu opsi paling logis, Mbak," jawabku, mematikan perasaanku sendiri.
Ibu Ratna tersenyum puas. "Pilihan cerdas, Nak Aryo. Kamu tahu diri."
Ibu Ratna berdiri. Memberi kode pada pengawalnya. "Bawa Devi ke mobil. Kita langsung ke Bandara Halim. Pesawat pribadi sudah menunggu."
Dua pengawal maju, memegang lengan Devi. Devi tidak memberontak. Dia terlalu syok. Dia berdiri kaku, matanya masih terkunci padaku. Kecewa. Marah. Sedih. Hancur.
Saat dia diseret pelan melewati kursiku, dia berhenti sejenak. Dia tidak menamparku. Itu akan lebih baik. Tapi dia membisikkan sesuatu yang lebih menyakitkan dari tamparan.
"Aku kecewa padamu, Mas."
Suaranya pecah. Air matanya menetes jatuh ke lantai marmer. Lalu dia berpaling, berjalan pergi dikawal para bodyguard, meninggalkan ruangan VIP itu.
Pintu tertutup. Aku sendirian. Duduk di meja makan mewah dengan makanan yang belum disentuh. Aku menang. Debat selesai. Devi pulang ke tempat yang "seharusnya".
Tapi rasanya... aku baru saja membunuh jiwaku sendiri. Aku menundukkan kepala ke meja. Dan untuk pertama kalinya sejak lulus SD... Aryo Baskara menangis.
(POV : NARATOR)
Sementara Aryo menangis bombay di restoran, situasi di luar berubah menjadi film action.
Konvoi mobil Ibu Ratna (Satu Rolls Royce di tengah, dua Alphard pengawal di depan dan belakang) melaju kencang menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Di dalam Rolls Royce, Devi duduk diam di samping Mamanya. Matanya kosong menatap jendela. Mamanya sibuk dengan tablet. "Kamu akan berterima kasih pada Mama nanti, Dev. Laki-laki itu (Aryo) cuma batu sandungan."
Tiba-tiba... DUARRR!!! Mobil Alphard di depan meledak terkena tembakan roket RPG dari jembatan penyeberangan. Mobil Rolls Royce mengerem mendadak. "SERANGAN! SERANGAN!" Teriak supir panik.
Dari arah semak-semak jalan tol yang gelap, muncul dua mobil SUV hitam tanpa plat nomor. Mereka memblokir jalan. Belasan orang bersenjata laras panjang dan rompi taktis turun. Mereka bukan begal amatir seperti di kebun tebu. Ini Tentara Bayaran Profesional.
"Lindungi Nyonya Besar!" Teriak kepala pengawal. Baku tembak terjadi. DOR! DOR! DOR! Tapi musuh terlalu kuat dan terorganisir. Pengawal Ibu Ratna tumbang satu per satu.
Pintu Rolls Royce ditarik paksa. "KELUAR!" Teriak seorang pria bertopeng ski.
Ibu Ratna yang biasanya anggun, kini gemetar ketakutan. "Kalian siapa?! Mau apa?!" "Kita gak butuh uang lu. Kita butuh nyawa lu." Pria itu mengarahkan senjata ke Ibu Ratna.
Saat itulah... Devi Leona bangkit. Mata yang tadi kosong karena patah hati, kini menyala karena amarah. Dia sedang kecewa berat pada Aryo. Dia butuh pelampiasan. Dan orang-orang bertopeng ini adalah samsak tinju yang sempurna.
"JANGAN SENTUH MAMA GUE!"
Devi melompat keluar mobil. Dengan gerakan secepat kilat (hasil latihan emosi), dia menendang senjata pria bertopeng itu. BUKK! Senapan terlepas. Tanpa jeda, Devi mencengkeram kerah rompi taktis pria itu, menariknya ke bawah, dan menghantamkan lututnya tepat ke hidung si penculik. KRAK! Bunyi tulang patah terdengar renyah di tengah kekacauan. Devi merebut senapan serbu yang jatuh, membalik gagangnya, dan menghantamkannya ke pelipis musuh hingga tak sadarkan diri.
"MAMA LARI! BAWA MOBILNYA! PENGAWAL!!!BAWA MAMA SEKARANG!!! NANTI AKU NYUSUL!!!" Teriak Devi, suaranya bukan lagi suara anak manja, melainkan komando perang.
Ibu Ratna masih terpaku, syok melihat putrinya berubah menjadi mesin pembunuh. Pengawal yang tersisa langsung menarik Ibu Ratna, mendorongnya masuk ke mobil Rolls Royce yang bannya sudah kempes sebagian (run-flat tires). "Jalan Pak! Cepat!"
"TAPI DEVI?!" jerit Ibu Ratna. "Nona Devi melindungi kita! Jalan!"
Mobil Rolls Royce itu menderu, menabrak barikade musuh dan meloloskan diri. Meninggalkan Devi sendirian di tengah jalan tol yang gelap, dikepung oleh neraka.
Kini, hanya ada Devi dan belasan tentara bayaran. "Sialan! Target kabur! Ambil anaknya!" teriak komandan musuh. Tiga orang maju dengan pisau tempur, meremehkan gadis kecil bergaun malam itu. Kesalahan fatal.
Devi tidak mundur. Dia justru maju. Gaun mahalnya robek di bagian paha, memberinya ruang gerak. Dia melempar senapan kosong di tangannya ke wajah musuh pertama. BUGH! Musuh itu oleng. Devi meluncur (sliding) di atas aspal, mengambil pisau dari sabuk musuh yang jatuh tadi. Dia bangkit tepat di belakang musuh kedua. SRAAAT! Pisau itu menyayat tendon kaki musuh. Musuh jatuh berlutut. Devi memutar tubuh, tendangan memutar (roundhouse kick) menghantam rahang musuh ketiga.
Ini bukan bela diri cantik. Ini brawl jalanan yang brutal. Devi menyalurkan semua rasa sakit hatinya. Setiap pukulan adalah teriakan untuk Aryo.
BUKK! (Ini buat Aryo yang bego!)
KRAK! (Ini buat Mama yang maksa!)
JLEB! (Ini buat siapapun ya ga ngerti perasaan gue!)