Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #21

Peluru, Trauma, Dan Cinta Sepihak

Kabut pagi bercampur bau mesiu dan amis darah menyambut langkah kakiku. Sepatu bot kulitku menginjak pecahan beton dan selongsong peluru yang berserakan seperti kacang goreng sisa pesta. Sebagai Kepala Unit Intelijen, aku, Kompol Yogi, sudah sering melihat TKP. Mulai dari tawuran pelajar yang pakai gergaji es, sampai penggerebekan pabrik narkoba. Tapi ini... ini beda level.

"Ndan, ini gila," bisik Briptu Kevin di sebelahku, wajahnya pucat pasi sambil menahan muntah. "Total mayat musuh: 18 orang. Identitas: Nihil. Sidik jari mereka sudah dibakar atau dihapus secara kimiawi. Gigi mereka rata, tidak ada catatan dental record. Ini Ghost Mercenaries."

Aku tidak menjawab. Mataku sibuk memindai lapangan tengah pabrik semen tua ini. Otakku mulai menyusun ulang kejadian (Reconstruction Mode).

  1. Posisi Mayat: Sebagian besar mayat tergeletak di area terbuka, membentuk pola lingkaran. Mereka terekspos. Ini aneh. Tentara bayaran sekelas ini tidak akan mati konyol di tempat terbuka kecuali mereka dipancing.
  2. Jejak Ban: Ada bekas pengereman mendadak dari tiga mobil SUV di tengah lapangan. Kaca pecah berhamburan, tapi tidak ada darah di dalam mobil. Analisis: Mobil itu umpan. Armored Decoy. Musuh terpancing keluar untuk memberondong mobil, mengira target ada di dalam.
  3. Luka Tembak: Aku memeriksa satu mayat. Lubang peluru di dahi. Presisi bedah. Analisis: Tembakan dari atas. Aku mendongak ke Menara Air di sisi Timur. Jaraknya sekitar 400 meter. "Kev, cek Menara Air. Pasti ada sisa nest sniper di sana," perintahku. "Siap Ndan. Laporan awal bilang di sana ada dua mayat musuh yang lehernya digorok rapi. Pelaku mengambil alih posisi sniper musuh."

Aku geleng-geleng kepala. Ini bukan kerjaan polisi. Bukan juga Kopassus (karena tidak ada laporan operasi resmi). Ini adalah Operasi Bedah Taktis. Seseorang merancang skenario "Kuda Troya". Menggunakan umpan berlapis, mengambil alih posisi tinggi (high ground), lalu membantai pemburu menjadi buruan. Siapa arsiteknya? Jenderal bintang berapa yang memimpin operasi se-rapi ini?

Aku berjalan ke tengah lapangan. Di sana, tim Jibom (Penjinak Bom) sedang mengerumuni sesuatu dengan wajah tegang. "Ada apa?" tanyaku. "Lapor Ndan," kata Ketua Tim Jibom, keringat dingin sebesar jagung menetes di pelipisnya. "Kami menemukan Rompi Bom ini. Ini... teknologi gila."

Aku menunduk, melihat rompi yang tergeletak di tanah. Kabel-kabel semrawut, tabung cairan hijau (C4 Liquid?), dan sebuah detonator digital. "Ini bom militer grade A, Ndan. Pemicu ganda. Sensor gerak. Dan sistemnya pakai enkripsi AES-256. Kalau salah potong kabel satu milimeter aja, satu pabrik ini rata sama tanah."

"Terus kenapa gak meledak?" tanyaku heran.

"Itu dia masalahnya, Ndan. Seseorang... mematikannya."

"Mematikannya gimana? Motong kabel?"

"Bukan. Lewat software." Si Ketua Jibom menunjuk port USB kecil di samping detonator. "Ada yang nyolok ke sini, masuk ke root sistem bomnya, nge-bypass firewall, nebak password enkripsinya, dan mematikan timer secara digital. Dan dia ngelakuin itu cuma dalam waktu kurang dari 3 menit (berdasarkan log sistem)."

Aku ternganga. "Siapa yang bisa nge-hack bom militer pake terminal console dalam 3 menit di tengah baku tembak?" gumamku. "Edward Snowden? Atau agen rahasia MI6?"

Aku melihat layar kecil di detonator itu. Ada jejak teks terakhir di terminal log-nya.

USER: THEBOSS

STATUS: DISARMED

MSG: Sequence Aborted. Have a nice day.


"Sinting," desisku. "Orang ini sinting."

Aku berdiri, menatap langit pagi yang mulai terang. Ada dua misteri besar di sini. Pertama, siapa yang membayar tentara bayaran sebanyak ini?

Kedua, siapa "Malaikat Maut" yang menggunakan strategi militer tingkat dewa dan kemampuan hacking level hacker negara?

"Sruuuuput..." Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan selain Mie Ayam Pak Bowo dengan ekstra ceker dan sambal tiga sendok? Setelah 48 jam non-stop mengurus laporan insiden Cileungsi, akhirnya aku bisa makan dengan tenang. Kasus Cileungsi ditutup rapat oleh atasan.

"Rahasia Negara", katanya. Tapi sebagai Intel, aku tahu itu cuma bahasa halus buat "Jangan ikut campur, ini urusan orang-orang gede".

Laras Group (perusahaan milik Bu Ratna) menggunakan pengaruhnya untuk membersihkan nama baik. Media cuma memberitakan itu sebagai "Latihan Militer Gabungan di Pabrik Tua". Cih. Latihan militer kok pake mayat beneran.

Ting! Tablet rahasiaku berbunyi. Email masuk. Enkripsi level 5. Pengirim: Anonymous (Tapi aku tahu ini dari kontakku di dalam Laras Security Group). Subjek: Laporan Situasi Cileungsi - The Strategist Identity.

"Nah," gumamku sambil ngunyah pangsit goreng. "Akhirnya ketauan juga siapa Kopassus siluman yang mimpin operasi kemarin." Aku membayangkan nama-nama keren. Kapten "Bara"? Mayor "Elang"? Atau mungkin eks-Mossad?

Aku membuka file itu. Foto profil target muncul.

Nama: Aryo Baskara.

Umur: 27 Tahun.

Pekerjaan: Office Boy (OB) di PT Maju Mundur.

Alamat: Kos-kosan H. Romli, Gang Sempit No. 12 (Kamar paling pojok, sering nunggak listrik).

Riwayat Militer: TIDAK ADA.

Prestasi: Juara Harapan 3 Lomba Makan Kerupuk 17 Agustusan Tingkat RT (Itupun pesertanya cuma 6).


"UHUK!! HOEK!!" Mie ayam yang baru masuk tenggorokan langsung loncat keluar lewat idung. Pedes banget, Ya Allah. Aku batuk-batuk hebat sampai muka merah padam. Orang-orang di kantin ngeliatin aku kayak orang kena ayan. "Ndan! Minum Ndan!" Kevin panik nyodorin es teh.

Aku neguk es teh itu rakus, lalu natap layar tablet lagi dengan mata berair. "Gak mungkin..." desisku.

"Aryo..." Otakku memutar kembali ingatan saat aku menyamar jadi anak magang di kantornya. Si Aryo yang cengo. Si Aryo yang ngeluh harga Vixal naik. Si Aryo yang gemeteran ngangkat galon. Dia? Dia yang bikin strategi Armored Decoy? Dia yang nge-hack bom C4 pake Xiaomi butut? Dia yang mimpin pasukan elit Laras Group?

Aku ketawa. Ketawa getir. Ketawa takjub. "Pantesan..." gumamku sambil ngelap meja yang kotor kena semburan mie ayam.

Aku membaca laporan detailnya: Subjek (Aryo Baskara) mengambil alih komando lapangan setelah Ibu Ratna terjebak. Menggunakan taktik psikologis (boneka dummy) untuk menipu musuh. Tidak menggunakan senjata api. Hanya menggunakan HP pribadi.

"Gila..." Aku geleng-geleng kepala. "Negara ini buang-buang aset. Orang sejenius ini malah jadi OB yang gajinya UMR pas-pasan."


[POV : ARYO]

Aroma kopi sachet murah dan cairan pembersih lantai menyambut hidungku. Dua minggu berlalu sejak "Neraka" di Cileungsi. Hidupku sudah kembali ke setelan pabrik. Bangun jam 5 pagi, manasin motor supra (sekarang udah diganti NMAX bekas, hadiah dari Bu Ratna (Calon Mertua, Amiin), tapi aku bilangnya kredit biar gak dicurigain), macet-macetan di jalan, sampe kantor disuruh Mas Hanif beli gorengan.

Gak ada lagi suara tembakan. Gak ada lagi rompi bom. HP iPhone 17 Pro Max pemberian Bu Ratna aku simpen di laci kosan. Sayang kalau dipake, takut lecet. Aku balik pake Xiaomi bututku (yang udah diservis ganti baterai). Rasanya lebih humble dan membumi.

"Pagi Mas Aryo!" sapa karyawan lain. "Pagi Pak," jawabku sambil nyengir, tangan sibuk meres kain pel.

Hari ini hari penting. Mbak Novi Andini masuk kantor lagi. Setelah sebulan "Cuti Sakit" (kata HRD), dia akhirnya balik. Semua orang taunya dia sakit tifus atau healing ke Bali. Cuma aku, Mas Hanif, Tuhan, dan Penulis yang tau kalau dia habis dikejar-kejar pembunuh bayaran.

Pintu kaca depan terbuka. Suara stiletto mengetuk lantai marmer. Tak. Tak. Tak. Mbak Novi masuk. Dia cantik banget hari ini. Blazer merah marun, rambut di-blow sempurna, tas Chanel di tangan. Senyumnya lebar menyapa semua orang. "Halo semuanya! I'm back! Duh kangen banget sama kalian!" serunya ceria.

"Mbak Novi! Aaa kangen!" teman-temannya mengerubungi. Cipika-cipiki. Suasananya cair. Semua terlihat normal. Mbak Novi terlihat... perfect. Tapi aku... melihat sesuatu yang lain.

Aku berhenti mengepel. memindai Mbak Novi dari jarak 5 meter. :

Senyuman:

Observasi: Sudut bibirnya naik simetris. Giginya terlihat.

Analisis: Tapi otot Orbicularis Oculi di sekitar matanya tidak berkontraksi. Matanya tidak "tersenyum". Itu Pan Am Smile. Senyum palsu pramugari. Senyum topeng untuk menutupi kehancuran di dalam.

Pergelangan Tangan:

Observasi: Dia memakai jam tangan Rolex besar di tangan kiri, dan gelang emas tebal bertumpuk di tangan kanan. Ditambah lengan blazer yang agak kepanjangan.

Analisis: Biasanya Mbak Novi suka pamer kulit mulus. Kenapa sekarang tertutup rapat? Gelang tebal itu... untuk menutupi bekas luka sayatan?

Leher:

Observasi: Dia memakai scarf sutra Hermes yang dililit rapi di leher. Padahal AC kantor lagi mati satu, agak gerah.

Analisis: Menutupi bekas luka lebam? Atau bekas... jeratan tali?

Mata:

Observasi: Pupilnya sedikit melebar (mydriasis). Gerak matanya lambat, seperti orang melamun (dissociation).

Analisis: Efek samping obat penenang? Antidepresan dosis tinggi? Atau dia sedang menahan tangis sekuat tenaga?


Mbak Novi tidak sedang healing di Bali sebulan ini. Dia depresi berat pasca trauma dikejar Pembunuh bayaran. Indikator fisik menunjukkan percobaan bunuh diri (Self-Harm). Dia memakai topeng "Wanita Karir Bahagia" supaya orang tidak kasihan padanya. Tapi di dalam... dia retak. Tinggal nunggu waktu buat pecah berkeping-keping.

Hatiku mencelos. Rasa bersalah kembali menusuk. Aku emang nyelametin nyawanya dari bom panci dan Silencer, tapi aku gagal nyelametin mentalnya.

"Yo! Bengong aja!" Suara Mbak Novi mengagetkanku. Dia sudah berdiri di depanku. Wangi parfum mahalnya menyeruak, tapi kali ini tercium samar bau obat antiseptik di balik wangi bunganya.

"Eh, Mbak Novi. Selamat datang kembali Mbak," kataku kikuk.

"Makasih Yo. Oh ya, tolong buatin kopi dong. Latte ya, jangan kemanisan. Aku lagi diet," katanya sambil tersenyum. Senyum itu... Ya Allah, rapuh banget. Kayak kaca tipis.

"Siap Mbak. Segera meluncur," jawabku. Aku menatap punggungnya saat dia jalan ke kubikelnya. Aku harus jagain dia. Musuhnya sekarang bukan cuma pembunuh bayaran, tapi isi kepalanya sendiri.

Pukul 16.30, Jam pulang kantor. Langit Jakarta mendung gelap, kayak mau badai. Aku baru aja selesai buang sampah di tong besar samping gedung. Aku jalan santai menuju parkiran motor, niatnya mau pulang. Di lobi depan, aku liat Mbak Novi lagi berdiri sendirian sambil main HP. Wajahnya lelah. Topeng cerianya udah copot. Dia keliatan... kosong.

Sebuah motor Honda Vario hitam berhenti di depan lobi. Pengemudi pake jaket Ojol (Ojek Online) warna hijau. Helm standar. Mbak Novi masukin HP ke tas, siap-siap mau naik.

Entah kenapa, bulu kudukku berdiri. Ada yang salah. Instingku berteriak: BAHAYA.

Aku mempercepat langkahku. Mataku mengunci si Abang Ojol, duniaku melambat.

Tangan Pengemudi:

Tangan ojol biasanya belang (punggung tangan item kena matahari, telapak putih). Jari-jarinya kasar bekas megang stang seharian. Kukunya kadang item kena debu jalanan.

Observasi: Tangan orang ini... muluss. Bersih. Terawat. Tidak ada belang.

Anomali: Ada kapalan tebal di sisi jari telunjuk kanan dan sela jempol (Web space).

Deduksi: Itu Shooter's Callus. Kapalan akibat gesekan slide pistol dan pelatuk. Orang ini bukan driver. Dia penembak.


Postur Tubuh:

Ojol yang nunggu penumpang biasanya santai. Kaki turun satu, badan bungkuk main HP, atau rokokan.

Observasi: Orang ini duduk tegak. Kedua kaki napak tanah siap manuver. Spion motor diarahkan bukan ke belakang, tapi ke arah pintu lobi (memantau target).

Deduksi: Siaga tempur.


Kendaraan:

Motor Ojol tempur biasanya dekil, lecet pemakaian.

Observasi: Motor ini terlalu bersih. Plat nomornya... B 4821 XXX.

Analisis Cepat: Aku hafal kode plat nomor. Seri XXX itu biasanya plat sementara atau palsu yang sering dipake di film-film aksi (oke, ini berlebihan, tapi platnya keliatan baru dicetak di tukang pinggir jalan, font-nya gak standar Samsat).


Gerakan:

Tangan kirinya standby di stang. Tangan kanannya tidak memegang HP untuk konfirmasi pesanan, tapi masuk ke dalam saku jaket yang menggelembung.

KESIMPULAN: MUSUH. HITMAN.

JARAK: 10 METER.

WAKTU: 2 DETIK SEBELUM EKSEKUSI.


"MBAK NOVI! JANGAN NAIK!" teriakku. Aku lari sprint. Bukan lari OB yang disuruh beli gorengan, tapi lari atlet 100 meter.

Mbak Novi kaget. Dia udah mau naik ke jok motor. "Eh? Aryo? Kenapa?"

"Mundur Mbak! Itu bukan Ojol!"

Si Pengemudi sadar kedoknya terbuka. Dia menoleh ke arahku. Matanya di balik kaca helm gelap menatap tajam. Tangan kanannya yang ada di dalam jaket bergerak cepat. Gerakan Cross-Draw. Dia mencabut sebuah pistol hitam dengan peredam suara (Silencer) yang panjang. Sialan. Mereka dateng lagi.

"Mbak Novi! AWAS!" Aku menerjang tubuh Mbak Novi. Aku mendorongnya keras sampai dia jatuh terpental ke aspal.

PFFT! Suara tembakan teredam. Cuma bunyi kayak orang meludah. Peluru menghantam tiang beton di belakang tempat kepala Mbak Novi berada tadi. CTANG! Beton gumpil. Percikan api kecil terlihat.

"AAAAA!!" Mbak Novi menjerit. Pengunjung lobi lain yang belum sadar ada tembakan (karena pake peredam) cuma bingung liat aku nindih Mbak Novi. "LARI MBAK! MASUK KE DALEM!" teriakku sambil nyeret Mbak Novi bangun.

Si Ojol Penembak mengarahkan pistolnya lagi. Kali ini ke arahku. Aku liat laras hitam itu lurus ke jantungku. Mati gue. Jarak segini gak mungkin meleset. Aku reflek ngambil tempat sampah stainless steel besar yang ada di samping pilar. Aku jadikan tameng.

PFFT! PFFT! Dua peluru menghantam tempat sampah. TANG! TANG! Pelurunya nembus logam tipis itu, tapi arahnya jadi berbelok (ricochet). Satu peluru nyerempet lengan seragam OB-ku. Perih! Kayak disabet silet panas.

"Masuk! Cari beton!" Aku mendorong Mbak Novi ke balik pilar besar lobi. Si Ojol turun dari motor, berjalan santai sambil mengokang pistol. Dia profesional. Gak panik, gak buru-buru. Dia mau nyelesain tugas: No Witnesses.

Tapi masalahnya bukan cuma dia. Saat aku ngintip dari balik pilar, mataku menangkap kilatan cahaya di gedung seberang. Gedung parkirlantai 4. Jarak sekitar 300 meter. Ada kilatan lensa optik. SNIPER.

Otakku berputar cepat.

Musuh A: Ojol (Pistol, Jarak Dekat, Menuju ke sini).

Musuh B: Sniper (Rifle, Jarak Jauh, Menunggu kita keluar dari pilar).

Situasi: Kita terjebak di Kill Zone. Kalau kita lari ke pintu kaca lobi, Sniper bakal nembak (kaca gak nahan peluru rifle). Kalau kita diem di sini, Ojol bakal nyampe dan nembak mati kita jarak dekat.

"Aryo... aku takut... itu apa..." Mbak Novi gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi. Trauma lamanya bangkit.

"Mbak, liat aku. Kita main petak umpet lagi ya. Tahan napas."

Aku melihat sekeliling. Ada Fire Extinguisher (APAR) nempel di dinding dekat pilar. Ada pintu kaca otomatis lobi yang sedang terbuka-tutup karena sensornya bingung. Ada sinar matahari sore yang memantul dari kaca gedung sebelah.

RENCANA:

  1. Bikin gangguan visual buat Sniper (Blind him).
  2. Bikin gangguan fisik buat Ojol (Slow him down).
  3. Lari ke Basement.

"Mbak, tutup kuping!" Aku menyambar tabung APAR itu. Aku cabut pin pengamannya. Aku bukan nyemprotin isinya. Tapi aku lempar tabung APAR itu sekuat tenaga ke arah lantai marmer di depan Ojol yang lagi jalan mendekat. Tabungnya mendarat keras. BRAK! Katupnya patah karena benturan. WUSSSHHHH!!! Isi Dry Chemical Powder (tepung putih) menyembur keluar dengan tekanan tinggi, menciptakan kabut putih tebal di area lobi. Jarak pandang nol.

"Mata gue!" teriak si Ojol kaget. Dia batuk-batuk, kehilangan pandangan. Tembakannya jadi ngawur. PFFT! PFFT! Peluru nyasar ke langit-langit.

"SEKARANG MBAK! TUNDUK!" Aku narik tangan Mbak Novi. Kita lari bukan ke pintu utama (zona sniper), tapi lari menyamping menuju tangga darurat basement yang ada di pojok. Tapi Sniper itu... dia pasti nunggu di celah kabut. Aku liat patung dekorasi (bola dunia dari logam mengkilap) di taman lobi. Aku bisa liat pantulan gedung seberang di bola logam itu. Ada titik merah kecil bergerak. Laser sight. Dia nyari kita.

Saat kita lari melewati celah terbuka antara pilar dan tangga... Aku liat di pantulan bola logam: Laser itu berhenti tepat di jalur lari kita.

Jarak 300m. Kecepatan peluru 800m/s. Waktu tempuh 0.3 detik. Lag time manusia bereaksi 0.2 detik. Aku harus gerak sebelum dia nembak.

"JATOH!" Aku njegal kaki Mbak Novi (maaf Mbak, kasar dikit). Kita berdua jatoh guling-guling di lantai. Tepat saat kita jatoh... CRAAACK!! Suara ledakan sonik peluru rifle memecah udara di tempat kepala kita berada sedetik yang lalu. Peluru itu menghantam lantai marmer sampai meledak jadi serpihan tajam.

Kami guling-guling masuk ke pintu tangga darurat. Aku nendang pintu besi berat itu sampai tertutup. BLAM! Kami aman. Untuk sementara.

Napas kami berdua memburu. Jantung rasanya mau copot. Mbak Novi natap aku dengan mata terbelalak, air mata ngalir deres ngerusak maskaranya. "Aryo... siapa mereka... kenapa mereka mau bunuh aku lagi..." Aku nyender di pintu besi, megangin lengan atasku yang berdarah kena srempet peluru. Aku natap Mbak Novi. Tatapan iba, tapi juga tatapan prajurit yang siap perang lagi. "Mereka masa lalu yang belum kelar, Mbak. Tapi tenang aja..."

Aku ngeluarin HP Xiaomi bututku (bukan iPhone 17 Pro Max). Aku senyum tipis, nyoba nenangin dia. "Selama masih ada OB gajelas ini di samping Mbak... Malaikat Maut pun harus ngisi formulir dulu kalau mau nyabut nyawa Mbak."

Aku ngambil tangan Mbak Novi, nuntun dia turun ke basement yang gelap. "Ayo Mbak. Kita gak bisa lewat lobi. Kita lewat jalur tikus."

Lihat selengkapnya