Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #23

Maafkan Aku

[POV : ARYO]

Pagi ini, roda kehidupan kembali berputar melindas kaum proletar. Kantor berjalan normal. AC berdengung, printer mencetak revisi yang tak berujung, dan aku kembali ke habitat asliku.

Aku sedang mendorong kain pel dengan gerakan ritmis kiri-kanan-kiri-kanan, menghapus jejak kaki para bos yang sepatunya lebih mahal dari harga ginjal kiriku. Tidak ada yang tahu kalau Devi yang sering ngomel kalau bon taksi kurang seribu baru saja membantai satu batalyon tentara bayaran di Laut Natuna.

Pikiranku melayang. Gaji bulan ini... ngenes. Setelah dipotong kasbon, BPJS, dan cicilan paylater, sisa uangku cuma cukup buat beli martabak telur spesial dua kali. Gimana masa depanku sama Devi? Kemarin Devi bilang, "Mas, Mama mau biayain kuliah S1 kamu lho." Tawaran yang menggiurkan. Kuliah gratis dibayarin Konglomerat. Tapi harga diriku sebagai lelaki (yang sisa dikit ini) menolak.

Aku udah dikasih NMAX Turbo. Udah dikasih iPhone 17 Pro Max (yang cicilannya nol tapi beban moralnya selangit). Masa kuliah juga dibayarin? Bayangkan kalau aku nikah sama Devi (Aamiin paling serius), terus kami berantem gara-gara aku lupa naruh handuk basah. Pasti tubuhku akan dijadikan origami oleh Devi sembari mengungkit pemberian mama nya.

Jadi lelaki berekonomi lemah tapi punya gebetan anak Crazy Rich itu tekanannya lebih berat daripada tekanan hidrolik. Apa aku ambil jalur pintas aja ya? Pesugihan? Babi Ngepet? Tapi resikonya digebukin warga sekecamatan. Tuyul Freelance? Saingannya banyak sekarang, orang pada nyimpen duit di E-Wallet. Tuyul mana bisa nyuri saldo Gopay?

TING! Pintu lift terbuka, membuyarkan lamunan kriminilku. Novi Andini muncul. Wangi parfum mahalnya langsung menabok hidungku, mengalahkan bau cairan pel lantai. "Pagi, Mbak Nov," sapaku ramah sambil memeras kain pel.

Novi berhenti. Dia melihatku. Tapi tatapannya aneh. Biasanya dia tegas dan to the point. Hari ini, matanya bergerak liar ke kiri-kanan, kayak maling ketangkep basah. Pipinya merona merah padam, kontras banget sama bedaknya. "Umm... Eh... i-iya. Pa... pa... pagi Yo," balasnya terbata-bata. Suaranya kecil banget, kayak tikus kejepit pintu.

Dahiku mengkerut. Kenapa dia? Apa aku bau bawang? Atau resleting celanaku melorot? Aku mengecek kilat ke bawah. Aman.

"Ba... bahumu... gimana Yo? Su... su... sudah..." Dia menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas ujung blazernya. Grogi parah.

"Alhamdulillah sudah sembuh total, Mbak. Udah bisa buat ngangkat galon sambil kayang," jawabku asal.

"Mbak Novi gimana? Sehat?"

"O... oke kok! Su... sudah lebih baik! A-aku duluan ya... Yo...!" WUUUSSHH! Novi langsung lari sprint menuju ruang marketing wajahnya memerah.

Aku bengong sambil megang gagang pel. "Dia kenapa sih? Kesambet jin penunggu lift?" Semenjak kejadian terakhir, Novi jadi aneh. Tiap ketemu aku, dia pasti gagap, mukanya merah, terus kabur. Apa wajahku makin jelek pasca perang? Padahal perasaan wajahku utuh, yang bonyok cuma dompet. Ah sudahlah. Yang penting dia aman.

Lagipula, sekarang kantor ini rasanya kayak syuting film James Bond. Yogi si "Mas-Mas Intel" naruh anak buahnya di mana-mana buat jagain Novi. Risih banget. Berasa lagi ikut Uji Nyali.

Tiba-tiba saku celanaku bergetar hebat. Ringtone "Dear God - Avenged Sevenfold" versi Koplo Kendang Kempul membahana.

Layar HP: MAS-MAS INTEL. Aku mengangkat malas.

"Halo, gimana Mas-Mas Intel?"

"Jaga mulutmu, hei Cengo!" suara Yogi menyentak di seberang. "Anak buahku panggil aku Komandan atau Pak! Sopan dikit napa!"

"Oh iya maaf, Mas Pak Ndan Intel. Ada perlu apa? Kalau mau ngajak mecahin kasus lagi, sorry ye. Jatah cuti tahunan saya udah kritis. Saya gak mau lebaran nanti cuma bengong di kosan gara-gara gak bisa mudik. Saya mau makan opor buatan Emak, titik."

"Bukan masalah cuti, Yo... Si Hunter." Suara Yogi berubah serius. "Si Hunter alias Hitman Pro Max itu udah siuman. Proses interogasi udah jalan. Anak buahku udah pake cara halus sampe cara kasar, tapi dia bungkam total. Kayak patung." Yogi menghela napas. "Kamu katanya mau ikut interogasi?"

Si Hunter? Oh yang itu. "Oh iya Mas, sore ini saya ke sana deh, abis jam kantor."

"Gak bisa sore! Sekarang!"

"Saya masih kerja, Mas! Dibilang saya gak mau jatah cuti dipotong! HRD di sini galak, Mas. Lebih galak dari teroris."

"Hufftt... Aku kan Intel, Yo. Aku bisa bikin surat tugas negara. Bosmu bakal ngijinin, malah mungkin dia sungkem sama kamu."

"Ngotot amat sih, Mas. Kangen ya sama aku? Cieee..."

"Bangke... jijik gue! Ya udah, 1 jam lagi ada yang jemput kamu di lobi. Jangan banyak tanya! Tutup!"

Klik. Dasar aparat semena-mena.


SATU JAM KEMUDIAN...

Aku dipanggil Pak Bos ke ruangannya. Wajah Pak Bos pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya. Di sebelahnya, berdiri dua orang pria berjaket kulit hitam dengan kacamata hitam (padahal di dalam ruangan). "Aryo..." suara Pak Bos gemetar. "K-kamu... silakan ikut Bapak-bapak ini ya. S-saya gak tau kamu terlibat apa, t-tapi tolong jangan bawa nama perusahaan..."

Pak Bos kira aku pengedar narkoba kali ya? "Siap, Pak. Saya cuma mau... emm... servis AC negara."

Aku digiring masuk ke mobil sedan hitam mengkilap yang parkir di lobi. Platnya kode rahasia. Begitu masuk... Beuh. Joknya kulit asli, empuknya kayak dipeluk awan. AC-nya dingin dan wangi pine forest, bukan wangi pewangi gantung stella jeruk yang bikin mual. Sepanjang jalan aku cuma norak, mainin tombol jendela dan seat adjuster.

Sampai di markas intel (lokasi dirahasiakan, pokoknya bawah tanah). Tempatnya sci-fi banget. Orang-orang jalan cepet bawa tablet, layar monitor segede layar tancep nampilin peta dunia, dan ada pantry yang kopinya gratis unlimited. Surga.

Aku dibawa ke Ruang Observasi. Kaca satu arah. Di dalam sana, duduk terikat di kursi besi: The Hunter. Kondisinya... Astaghfirullah. Wajahnya bonyok, perban di mana-mana, kakinya digips, giginya ompong beberapa, tapi dia dirantai di kursi besi. Aku meringis. Jebakanku di hotel ternyata efektif banget ya. Maaf ya, Om.

Yogi berdiri di sampingku, melipat tangan.

 "Halo Mas, gimana kabar? Sehat?" sapaku.

"Gak usah sok akrab, najis. Anak buahku gak ada yang slegnean kayak kamu," ketus Yogi.

"Hehe... galak amat Mas. Kita kan sohib, chemistry kita tuh kayak Batman sama Alfred. Aku Alfred-nya."

"Bodo amat. Tuh liat." Yogi menunjuk Hunter. "Udah disetrum, udah dikasih air garem, tetep diem. Dia tentara bayaran elit, Yo. Ambang batas rasa sakitnya gak normal."

Aku menatap Hunter. Matanya kosong, tapi tajam. Dia sudah siap mati. Siksaan fisik gak akan mempan buat orang kayak dia. Kita harus serang "Software"-nya, bukan "Hardware"-nya.

"Boleh aku minta sesuatu, Mas?" tanyaku.

"Apa? Nasi padang?"

"Bukan. Cariin jarum suntik, isi pake Vitamin C dosis tinggi yang warnanya kuning mencolok. Terus, tolong atur suhu AC di ruang interogasi. Pas aku kasih kode 'masukin tangan ke saku', turunin suhunya jadi sedingin mungkin. Freeze mode."

Yogi mengernyit. "Hah? Buat apa? Lu mau nyuntik dia biar kulitnya glowing?"

"Lakukan aja, Mas."


RUANG INTEROGASI

Pintu besi terbuka. Aku masuk. Aku masih pake seragam OB: Kemeja biru yang mirip dengan yang kupakai saat mengalahkannya, dan celana bahan yang agak kepanjangan. The Hunter mendongak. Matanya menyipit melihatku. Dia mengenalku. Si "Kecoak" yang menghancurkan dirinya. "Kau..." suaranya parau, seperti gesekan amplas kasar. "Bocah OB..."

Aku tersenyum ramah, menarik kursi besi, dan duduk di depannya dengan santai. Kakiku kunaikkan satu ke lutut. Gaya warung kopi.

 "Halo, Om Hunter. Masih sakit lututnya? Maaf ya, kemarin APAR-nya kepleset dari tangan saya."

Hunter meludah ke arahku. "Aku akan memakan hatimu, Nak. Saat aku lepas dari sini, aku akan mengulitimu hidup-hidup."

Aku tertawa kecil. "Waduh, serem amat. Jangan gitu dong, Om. Kita ngobrol santai aja." Aku mengeluarkan buku catatan kecil (buku bon utang) dan pulpen. "Om, warna favoritnya apa? Pink? Atau Magenta?"

Hunter diam. Urat lehernya menonjol.

"Oke, ganti pertanyaan. Om pake skincare apa? Kok bisa tahan disetrum tapi mukanya tetep berminyak?"

"DIAM ATAU KUGIGIT LEHERMU!" Hunter meraung, mencoba meronta dari ikatan rantai.

Aku menghela napas panjang, menutup buku catatan. Wajahku berubah drastis. Dari senyum slengean OB, menjadi tatapan dingin, datar, dan analitis. Aku menatap tepat ke matanya. Tanpa berkedip. Hening 5 detik.

"Om..." suaraku pelan tapi menusuk. "Om tau gak kenapa Om masih idup?" Hunter terdiam melihat perubahan auraku. "Saya sengaja gak ngebunuh Om di hotel. Bukan karena kasihan. Tapi karena saya tau... Om udah mati sebenernya."

Hunter mengerutkan kening. "Omong kosong apa ini?"

"Di hotel itu... Om inget jebakan Microwave yang meledak di muka Om?" Aku berdiri, berjalan pelan mengelilingi dia. "Microwave itu... bukan microwave biasa. Itu microwave hotel bintang lima yang pake teknologi Magnetron Radiation Ionizer. Saat meledak, dia ngelepasin partikel Gamma-Ray terkonsentrasi."

Aku ngomong asal jeplak, nyampur-nyampur istilah fisika ngawur, tapi nadaku seyakin Dosen Fisika Nuklir. "Radiasi itu udah masuk ke pori-pori Om. Nempel di sistem saraf pusat. Namanya Acute Radiolytic Decompositon."

Hunter mulai terlihat ragu. "Kau bohong..."

Lihat selengkapnya