Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #24

Aku Pasti Kembali - Part 1

[POV NARATOR]


Di jalan tol dalam kota yang lengang, sebuah SUV hitam berplat rahasia membelah genangan air dengan kecepatan 160 km/jam. Mesinnya menderu seperti binatang buas yang terluka.

Di dalam kabin mobil yang hening dan dingin itu, atmosfernya mencekam. Tidak ada musik. Tidak ada kelakar tentang gaji UMR atau cicilan paylater.

Aryo Baskara duduk di kursi penumpang. Tubuhnya diam, tak bergerak sedikitpun. Namun, tangannya mencengkeram handle pintu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang biasanya jenaka, kini kosong. Gelap. Seperti lubang hitam yang siap menelan cahaya. Di kepalanya, slide proyektor ingatan terus memutar satu adegan berulang-ulang: Wajah Novi yang memerah malu, senyum novi, wajah ketakutan novi, dan bunyi monitor EKG yang lemah.

"Mas Yogi..." suara Aryo memecah keheningan. Rendah, parau, dan bergetar menahan amarah yang meluap.

Yogi, yang sedang menyetir dengan wajah tegang, melirik sekilas. "Ya?"

Aryo menoleh perlahan. Gerakannya kaku seperti robot. Saat mata mereka bertemu, Yogi, seorang Komandan Intelijen yang pernah menginterogasi teroris paling sadis, merasakan dingin merambat di tulang punggungnya. Itu bukan mata Aryo si OB. Itu mata seorang pembunuh yang kehilangan segalanya.

"Tolong jaga Novi," bisik Aryo. "Berikan perlindungan VVIP. Pasang penjaga di setiap ventilasi udara, di setiap celah jendela. Jangan biarkan lalat pun masuk ke ruangannya."

Aryo mendekatkan wajahnya sedikit. "Kalau sampai Novi meninggal... kalau sampai ada satu goresan lagi di tubuhnya..."

Jeda itu terasa menyakitkan.

"...aku tak akan pernah memaafkanmu, Mas. Dan aku pastikan, neraka yang kubawa untuk Brata, akan kubagi dua untukmu."

Yogi menelan ludah. Tenggorokannya kering. Dia tahu Aryo tidak menggertak. Dia sedang melihat monster yang baru saja terbangun dari tidurnya.

"Ya, tentu saja, Yo. Aku bersumpah," jawab Yogi, suaranya tegas namun ada getaran takut di sana. "Aku berjanji dengan nyawaku, dan nyawa seluruh satuanku."

Aryo kembali menatap jalanan.

"Bagus."


Mobil berbelok tajam, menuruni ramp beton menuju area tersembunyi di balik gedung tua kusam di Jakarta Pusat. Markas Besar Operasi Bayangan (Shadow Ops). Gerbang baja tebal terbuka otomatis setelah memindai retina Yogi. Mereka masuk ke perut bumi.

Begitu pintu lift terbuka di Lantai B3, kekacauan menyambut mereka. Bukan kekacauan kantor biasa. Ini adalah kekacauan perang. Alarm merah berkedip bisu di dinding. Para agen berlarian membawa berkas dan tablet. Penyerangan terhadap Novi yang menyebabkan sebagain agen tewas membuat mereka sibuk.

Bau antiseptik bercampur bau amis darah dan keringat memenuhi udara. Aryo berjalan melewati kantong jenazah itu tanpa berkedip. Dia tidak punya waktu untuk berduka. Duka adalah kemewahan. Saat ini, dia butuh bahan bakar bernama dendam.

"Lewat sini," Yogi menarik lengan Aryo, membawanya masuk ke Command Center (Ruang Kendali Utama).

Ruangan itu luas, didominasi oleh layar dinding raksasa yang menampilkan peta Jakarta dan data-data enkripsi yang bergerak cepat. Puluhan analis mengetik dengan kecepatan tinggi, wajah mereka pucat dan lelah.

"Tampilkan Profil Target Utama," perintah Yogi lantang.

Layar raksasa berubah. Sebuah struktur diagram muncul. Di puncaknya, foto Brata Dewantara tersenyum angkuh. Di bawahnya, tiga cabang garis merah menghubungkan Brata ke tiga lokasi berbeda di peta Jakarta dan sekitarnya.

"Ini dia, Yo," kata Yogi, menunjuk layar dengan laser pointer. "Kami menyebutnya The Unholy Trinity. Tiga Pilar Kekayaan Brata."

Gambar diperbesar satu per satu.


1. THE GEM CLUB (SCBD) "Bisnis Prostitusi Kelas Atas & Pencucian Uang. Di sini para pejabat disuap dengan wanita dan kemewahan. Tempat ini adalah brankas rahasia tempat Brata menyimpan 'kartu as' para politisi. Keamanannya setara bank sentral."

2. GUDANG X (Tanjung Priok) "Penyelundupan Senjata Ilegal. Brata adalah pemasok utama senjata api rakitan dan impor untuk kelompok separatis. Dijaga oleh mantan tentara bayaran dan preman pelabuhan yang tidak segan menembak mati petugas bea cukai."

3. RPH MERAH HIJAU (Bogor) "Dan ini... Pabrik Narkoba. Terbesar di Jawa. Kamuflase Rumah Potong Hewan. Mereka memproduksi Methamphetamine dan Ekstasi kualitas ekspor. Tempat ini adalah bom kimia berjalan."


Aryo menatap ketiga titik itu. Matanya merekam setiap detail koordinat, setiap celah, setiap struktur bangunan.

"Kenapa..." suara Aryo terdengar dingin. "Kenapa tempat-tempat ini masih berdiri tegak? Kalian BIN. Kalian punya wewenang. Kalian tau lokasinya selama bertahun-tahun. Kenapa kalian diam saja?!"

Yogi menghela napas panjang, membanting berkas ke meja. Wajahnya frustasi.

"Karena hukum di negara ini buta, Yo! Brata punya kekebalan diplomatik bayangan. Setiap kali kami mau menggerebek, surat perintah ditolak pengadilan. Setiap kali kami dapat saksi, saksinya hilang atau mati bunuh diri. GEM Club itu? Setengah membernya adalah atasan-atasanku! Kalau aku kirim pasukan ke sana, aku yang dipenjara karena makar!"

Yogi menatap Aryo dengan putus asa. "Aku tidak bisa menyentuhnya secara hukum. Tanganku terikat birokrasi, Yo. Aku komandan, tapi aku tidak berdaya."

Aryo diam sejenak. Dia menatap Yogi, lalu beralih menatap layar peta itu lagi. "Tanganmu terikat hukum, Mas," gumam Aryo pelan.

Dia berbalik, menatap Yogi tepat di mata. "Tapi tanganku tidak."

"Aku cuma OB. Aku bukan polisi. Aku bukan tentara. Aku gak butuh surat perintah pengadilan buat ngepel lantai kotor, kan?"

Yogi tertegun. Dia paham maksud Aryo. Aryo adalah elemen yang tidak terikat aturan. Rogue Element.

"Kau mau menghancurkannya sendirian? Itu bunuh diri, Yo. Mereka punya tentara. Kau cuma punya otak."

"Justru itu. Otak lebih berbahaya daripada peluru kalau dipakai dengan benar." Aryo menunjuk dada Yogi. "Kamu gagal melindungi Novi dengan pasukanmu. Sekarang giliran caraku."

Yogi menatap rekan beda profesinya itu lama. Dia melihat tekad yang tidak bisa dipatahkan. Jika dia melarang Aryo, Aryo akan tetap pergi dan mungkin mati konyol. "Baiklah," Yogi menyerah. Dia mencabut kartu akses otoritas tertingginya dari leher.

"Ikut aku."


Mereka berjalan menuju sebuah pintu baja tebal di belakang ruang kendali. Pintu itu terbuka dengan desisan hidrolik. The Armory & Tech Lab.

Ruangan itu seperti toko mainan bagi agen rahasia. Dindingnya dipenuhi senjata api canggih, sementara meja-mejanya penuh dengan gadget prototipe.

"Dengan kewenanganku sebagai Komandan Operasi Khusus," kata Yogi, suaranya bergema. "Kau boleh ambil apa saja. Apapun. Asal kau bisa membawanya."

Aryo berjalan melewati deretan senapan serbu MP5 dan Sniper Rifle. Dia tidak menyentuhnya. Dia bukan Rambo. Dia tidak bisa menembak dengan akurat. Dia berjalan menuju meja peralatan teknis.

Tangannya mengambil sebuah alat kecil berwarna hitam. Flipper Zero (Modified). Alat peretas frekuensi radio. Dia mengambil Thermal Monocular (Teropong Panas). Dia mengambil beberapa Bahan Peledak Plastik C4 ukuran mikro (hanya untuk menjebol pintu, bukan gedung). Dia mengambil Respirator Masker Gas militer. Dan terakhir, dia mengambil sebuah Laptop Taktis anti-air dan anti-banting.

Dia memasukkan semuanya ke dalam tas ransel lusuh yang terdekat disitu.

"Yo..." panggil Yogi saat Aryo menyandang tasnya.

Aryo berhenti di ambang pintu, tapi tidak menoleh.

"Satu syarat," kata Yogi, suaranya berat. "Kembalilah dalam keadaan hidup. Kalau lu mati, gue tidak tahu bagaimana ekspresi Novi saat mendengarnya,"

Aryo terdiam. "Mas Intel," jawab Aryo tanpa menoleh. "Aku pasti kembali, tapi aku tidak berjanji padamu. Aku cuma berjanji pada dia."

"Dan janji OB... selalu ditepati."

Aryo melangkah keluar dari ruangan itu. Langkah kakinya mantap, bergema di lorong besi. Dia bukan lagi Aryo si Office Boy yang humoris. Malam ini, dia adalah Hukuman. Dan Brata Dewantara akan sangat menyesal telah membangkitkan kemarahannya.


[POV: ARYO]

H-0. Jam 19.00 WIB. Lokasi: Menara Brata, Sudirman Central Business District (SCBD).

Gedung itu menjulang angkuh menembus langit malam Jakarta yang berawan. Menara Brata. Sebuah monumen kaca dan baja setinggi 50 lantai yang melambangkan kekuasaan absolut. Di siang hari, ini adalah kantor korporat biasa. Tapi di malam hari, lantai 45 hingga 48 berubah fungsi menjadi The Gem Club.

Lihat selengkapnya