[POV: ARYO]
H+1 Pasca Serangan Gem Club. Waktu: 23.00 WIB. Lokasi: Kawasan Pergudangan Ilegal, Pelabuhan Tanjung Priok.
Malam di Tanjung Priok tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya lampu sorot crane raksasa membelah langit yang keruh oleh polusi dan uap laut. Suara dentuman peti kemas yang beradu, deru truk trailer yang tak kunjung henti, dan teriakan kasar para kuli pelabuhan menciptakan simfoni kekerasan yang nyata.
Aku duduk di atas sadel motor NMAX-ku, bersembunyi di balik bayangan tumpukan ban bekas di luar pagar perimeter Zona 4. Angin laut yang membawa garam menempel lengket di kulitku. Garam. Sodium Chloride. Senjata utamaku malam ini.
Mataku terfokus pada satu bangunan besar di kejauhan. Gudang X.
Secara fisik, bangunan itu terlihat seperti gudang logistik biasa. Dinding seng bergelombang yang kusam, pintu geser raksasa, dan logo pudar bertuliskan "PT. Logistik Abadi". Tapi data intelijen yang dihimpun oleh Yogi berkata lain.
Di dalam sana, Brata menyimpan "mainan" mahalnya. Ribuan pucuk senapan serbu black market—HK416, AK-103, bahkan peluncur granat RPG—yang diselundupkan dari konflik Eropa Timur, siap dijual ke kelompok separatis di pelosok negeri. Nilainya? Ratusan miliar rupiah.
Tapi malam ini, nilai itu akan menjadi nol.
Aku tidak akan meledakkan gudang ini. Itu terlalu berisik, terlalu amatir, dan terlalu berisiko melukai warga sipil atau kuli panggul yang tidak tahu apa-apa. Tidak. Aku akan melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan bagi seorang pedagang senjata.
Aku akan mengubah stok barang dagangannya menjadi rongsokan besi kiloan.
Aku memejamkan mataku sesaat, rasa marahku pada Brata atas apa yang dia lakukan pada Novi terus menggaung di dada. "Tunggu sebentar lagi, Mbak. Malam ini, Brata bakal nangis darah."
Aku mengecek perlengkapanku. Kali ini, aku tidak menyamar sebagai teknisi AC. Di pelabuhan, kasta tertinggi bukanlah teknisi, melainkan Petugas Bea Cukai atau Inspektorat Karantina. Orang-orang yang punya kuasa untuk menahan kontainer selama berbulan-bulan hanya karena "dokumen kurang lengkap".
Aku mengenakan seragam biru tua dengan rompi pantul (high-vis vest) bertuliskan "PENGAWASAN KARANTINA PELABUHAN". Di tanganku ada clipboard tebal dan sebuah koper alat ukur (yang isinya sebenarnya adalah bom kimia waktu).
"Ayo kerja, Aryo."
FASE 1: THE APPROACH (Analisis & Deduksi)
Aku menjalankan motor pelan menuju Pos Jaga Utama Gudang 17. Di sana, ada dua penjaga. Bukan satpam biasa.
SUBJEK A (Kiri):
Postur: Tinggi 180cm, berdiri tegak tapi santai (Parade Rest).
Fisik: Leher tebal, telinga agak rusak (Cauliflower Ear - tanda petarung gulat/MMA).
Senjata: Tonjolan di pinggang kanan belakang. Glock 17.
Analisis: Mantan militer atau atlet tempur. Tipe yang patuh prosedur tapi berbahaya jika diprovokasi.
SUBJEK B (Kanan):
Postur: Duduk di kursi, kaki di atas meja. Merokok.
Fisik: Mata merah, pupil sedikit mengecil. Bekas suntikan samar di lengan (terlihat karena lengan baju digulung).
Analisis: Pengguna narkoba. Mungkin Sabu (stimulan) untuk jaga malam. Emosi tidak stabil, tapi kewaspadaan rendah.
Strategi: Gunakan otoritas birokrasi untuk menekan Subjek A, dan abaikan Subjek B.
Aku memarkir motor tepat di depan palang pintu. Turun dengan gaya angkuh, membetulkan letak kacamata (properti), dan berjalan langsung ke arah mereka tanpa ragu.
"WOY! Siapa lu?!" bentak Subjek B (si Pemadat), menurunkan kakinya.
Aku tidak menjawabnya. Aku menatap lurus ke Subjek A. Aku menyodorkan clipboard ke dadanya. "Selamat malam. Inspeksi mendadak Karantina Hewan dan Tumbuhan. Kami mendeteksi anomali suhu di Kontainer 40-feet yang baru masuk sore tadi. Kode Manifest: XJ-900. Buka gerbangnya."
Aku bicara cepat, datar, dan penuh istilah teknis.
Subjek A mengerutkan kening, tapi dia tidak langsung membentak. Dia melihat seragamku. "Inspeksi? Gak ada jadwal inspeksi malem-malem begini, Pak. Dan ini gudang logistik umum, bukan hewan."
"Justru itu masalahnya, Mas," potongku cepat, menaikkan nada suara sedikit (teknik intimidasi verbal). "Sistem termal satelit kami mendeteksi panas organik dari dalam gudang ini. Ada dugaan penyelundupan hewan langka atau... mayat manusia. Mas mau tanggung jawab kalau besok pagi ada bau busuk dan wartawan dateng ke sini?"
Kata "Mayat" dan "Wartawan" adalah kunci ajaib. Penjaga gudang senjata ilegal paling takut dengan sorotan publik.
Subjek B berdiri, memegang pistol di pinggangnya. "Halah, bacot! Usir aja, Bang! Paling mau minta pungli!"
Aku menoleh ke Subjek B dengan tatapan jijik. "Mas, mata Mas merah. Pupil kecil. Masih kuat jaga? Kalau saya panggil temen-temen BNN buat tes urine sekarang, kira-kira Mas masih kerja di sini besok pagi gak?"
Skakmat. Wajah Subjek B pucat pasi. Dia langsung mundur, pura-pura sibuk main HP. Deduksi narkobaku tepat sasaran.
Subjek A melihat temannya kicep. Dia mulai ragu. Dia tidak mau urusan panjang dengan orang "resmi" yang berani ngancam pake BNN. "Tunggu sebentar. Saya kontak Danru (Komandan Regu)."
"Silakan. Bilang ke Danru, Pak Rusdi dari Karantina Pusat nunggu di depan. Kalau 5 menit gak dibuka, saya segel satu komplek gudang ini pake Yellow Line. Biar kontainer kalian busuk semua di dalem."
Gertakan maut. Menyegel gudang berarti operasi penyelundupan mereka macet. Rugi miliaran. Subjek A menelpon seseorang. Bicara pelan. Mengangguk. "Oke. Masuk. Tapi cuma cek kontainer yang dimaksud. Macem-macem, peluru nyasar sering kejadian di sini."
Ancaman halus. Aku tersenyum tipis. "Saya cuma kerja, Mas. Gak nyari perkara."
Palang pintu terbuka. Aku masuk ke dalam mulut singa.
FASE 2: Observasi Taktis