Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #26

Aku Pasti Kembali - Part 3 (Final)

[POV: ARYO]

H+3 Pasca Serangan Gudang Senjata. Waktu: 02.00 WIB (Dini Hari). Lokasi: Bekas Rumah Potong Hewan (RPH) "Merah Hijau", Pinggiran Bogor.

Hujan turun deras, menyamarkan suara langkah kakiku di atas lumpur bercampur darah sisa pemotongan. Tempat ini baunya busuk. Bau anyir darah sapi, kotoran hewan, dan... bau manis yang menyengat. Bau Ether dan Acetone. Aroma khas kematian kimiawi.

Di balik tembok beton kusam RPH tua ini, Brata menyembunyikan "Dapur" terbesarnya. Pabrik Narkoba Sintetis (PCC & Sabu) terbesar di Jawa. Mereka menggunakan bau busuk RPH sebagai kamuflase untuk menutupi bau limbah kimia yang tajam. Cerdas. Tapi tidak cukup cerdas.

Aku berjongkok di balik semak belukar, 200 meter dari bangunan utama. Di tanganku, aku memegang Thermal Monocular (Teropong Pendeteksi Panas) pinjaman dari Yogi.

Melalui lensa hijau-hitam itu, aku melihat dunia yang berbeda. Dinding gudang itu bersinar merah terang. Analisis: Suhu di dalam sangat tinggi. Reaktor sedang memasak. Mereka sedang production run besar-besaran untuk menutupi kerugian dari dua bisnis sebelumnya yang hancur.

"Masak yang banyak," bisikku dingin. "Biar ledakannya makin meriah."

Aku bukan Aryo si OB malam ini. Aku adalah The Saboteur. Di ranselku, tidak ada bom rakitan. Hanya ada peralatan teknisi listrik, beberapa bahan kimia dasar, dan gadget intelijen yang harganya lebih mahal dari harga diri Brata.

Targetku: The Main Reactor. Jantung dari pabrik ini. Misi: Total Annihilation. Hancurkan sampai jadi debu.


FASE 1: Penyusupan Digital

Aku bergerak mendekati pagar perimeter. Ada kawat berduri dialiri listrik. Standar tinggi untuk tempat potong sapi. Aku mengeluarkan alat kecil berbentuk seperti Gameboy hitam. Flipper Zero (Modified by BIN). Alat ini bisa membaca dan menduplikasi sinyal frekuensi radio.

Aku mendekatkan alat itu ke kotak panel listrik di tiang pagar. Scanning... 433MHz detected. Sinyal remote kontrol gerbang dan alarm. Emulating... Aku menekan tombol. Lampu indikator di pagar berubah dari Merah ke Hijau. Listrik di kawat berduri mati selama 10 detik. Cukup.

Aku memanjat pagar dengan cepat, mendarat tanpa suara di rumput basah. Di depan pintu masuk samping, ada Smart Lock dengan keypad dan kartu RFID. Penjaga sedang tidur ayam di pos, mengandalkan teknologi. Kesalahan fatal.

Aku menempelkan alat RFID Cloner ke gagang pintu. Reading... Decrypting... Key Found. BEEP. Pintu terbuka dengan bunyi klik halus.

Aku menyelinap masuk. Bau di dalam sini jauh lebih parah. Bau bahan kimia yang menusuk hidung, bikin pusing. Aku memakai masker respirator half-face yang kubawa. Keselamatan kerja nomor satu, bahkan saat mau meledakkan tempat kerja.


FASE 2: Labirin Kematian

Bagian depan bangunan masih terlihat seperti RPH biasa. Kait-kait besi berkarat menggantung di langit-langit. Lantai licin oleh sisa lemak. Tapi begitu aku melewati pintu Freezer raksasa di belakang, pemandangan berubah drastis.

Ini laboratorium Breaking Bad skala industri. Ruangan seluas lapangan basket dipenuhi tabung-tabung reaksi kaca setinggi manusia, pipa-pipa stainless steel yang mendesis, dan drum-drum biru berisi bahan kimia prekursor. Para pekerja memakai baju hazmat kuning, sibuk menuangkan cairan, mengaduk adonan haram, dan mempres pil.

Ada sekitar 20 pekerja dan 5 penjaga bersenjata laras panjang yang mondar-mandir di catwalk (jembatan besi) di atas.

Aku bersembunyi di balik tumpukan drum Acetone. Jantungku berdegup kencang. Satu kesalahan, aku mati diberondong peluru. Atau lebih parah, dicemplungin ke tangki asam.

Aku mengamati sistem mereka. Ini adalah sistem Reaktor Tekanan Tinggi. Mereka memasak Methamphetamine menggunakan metode Red Phosphorus. Metode ini cepat, menghasilkan banyak barang, tapi SANGAT TIDAK STABIL. Gas Phosphine yang dihasilkan sangat mudah terbakar. Dan pelarut yang mereka pakai (Ether & Acetone) adalah bahan bakar jet yang menunggu percikan api.

Titik lemahnya ada di tengah ruangan: Tangki Distilasi Utama. Tangki baja setinggi 3 meter itu mendesis-desis. Ada indikator tekanan (Pressure Gauge) yang jarumnya menunjuk ke angka 8 Bar. Ada pipa pembuangan gas (Vent Pipe) yang mengarah ke atap untuk membuang tekanan berlebih.

"Kalau pipa itu tersumbat..." pikirku, otakku memvisualisasikan diagram fisika. "Tekanan akan naik. Suhu akan naik. Dan... BOOM. BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion)."

Tapi aku tidak bisa cuma menyumbat pipa. Ada katup pengaman (Safety Valve) yang akan otomatis terbuka kalau tekanan terlalu tinggi. Aku harus mematikan katup pengaman itu juga.

Masalahnya: Tangki itu ada di tengah ruangan, dijaga ketat. Aku butuh pengalihan.

Aku melihat ke arah sistem ventilasi. Ada kipas Exhaust raksasa di dinding yang menyedot uap racun keluar. Kalau kipas itu mati, uap akan menumpuk di ruangan. Para pekerja akan panik karena keracunan. Kekacauan adalah temanku.

Aku merayap di bawah meja-meja lab, menghindari kaki para pekerja hazmat. Aku menuju panel listrik utama di dinding utara.


FASE 3: Sabotase

Sampai di panel listrik. Aku membukanya dengan lockpick. Rumit. Ratusan kabel. Aku tidak memotong kabel sembarangan. Aku mencari Relay untuk Exhaust Fan. Ketemu.

Aku tidak memotongnya. Aku melakukan Bypass. Aku mencabut kabel kontrol kipas, lalu menyambungkannya ke sebuah Timer (yang kubuat dari jam digital murah). Aku set waktu: 10 Menit. Dalam 10 menit, kipas akan mati total.

Sekarang, langkah kedua. Membuat bom tanpa bom. Aku mengambil satu botol kaca berisi Asam Sulfat Pekat (H2SO4) dari meja kerja di dekatku (mereka memakainya untuk proses kristalisasi). Lalu aku mengambil botol Kaporit Cair (Pembersih lantai klorin) dari sudut ruangan.

Aku mencampur keduanya ke dalam botol plastik bekas minuman. Reaksi kimia terjadi instan. Gas Kuning Kehijauan mulai terbentuk. Gas Klorin. Senjata kimia Perang Dunia I. Aku melempar botol itu menggelinding ke bawah catwalk tempat para penjaga berdiri.

Botol itu mendesis. Gas klorin keluar.

"Uhuk! Uhuk!" Salah satu penjaga di atas batuk. "Bau apaan nih? Pedes banget!" "Pipa bocor kali! Cek sana!"

Perhatian teralih. Penjaga turun dari catwalk untuk mengecek sumber bau. Area sekitar Tangki Utama kosong sejenak.

Sekarang! Aku berlari menunduk menuju Tangki Utama. Aku melihat Safety Valve (Katup Pengaman). Bentuknya seperti keran merah dengan pegas. Aku mengeluarkan Lem Besi (Epoxy Resin) cepat kering dari tasku. Aku melumuri seluruh pegas dan drat katup itu dengan lem besi. Dalam 2 menit, lem itu akan mengeras sekeras baja. Katup itu tidak akan bisa terbuka, berapapun tekanannya.

Lalu, aku memutar keran Pemanas (Burner) di bawah tangki ke posisi MAKSIMAL. Api biru di bawah tangki membesar. Suhu di dalam tangki mulai naik drastis. Cairan di dalam mulai mendidih hebat. Jarum tekanan bergerak naik. 9 Bar... 10 Bar...

Sistem pendingin (Cooling System) otomatis menyala untuk mendinginkan tangki.

"Sial, ada pendingin otomatis," umpatku. Aku melihat pipa air pendingin. Aku mengeluarkan tang potong besar (Bolt Cutter). KREK! Aku memotong pipa suplai air pendingin. Air muncrat ke mana-mana. Alarm berbunyi. "WARNING! COOLING SYSTEM FAILURE! WARNING!"

"WOY! SIAPA ITU DI BAWAH?!" teriak Kepala Koki (Pria dengan masker gas full face) dari lantai atas. Dia melihatku. "PENYUSUP! BUNUH DIA!"

Lima penjaga langsung mengarahkan senapan ke arahku. TRATATATATA! Peluru menghantam tangki baja di sebelahku. Bunga api memercik. Aku lari. Bukan lari menjauh, tapi lari masuk ke dalam labirin pipa uap panas.


FASE 4: Kucing-Kucingan Maut

"KEJAR! JANGAN SAMPE LOLOS!" Para penjaga turun, mengepungku. Aku bersembunyi di balik rak bahan kimia. Peluru menembus botol-botol kaca di rak. Cairan asam dan basa tumpah, bercampur di lantai, menciptakan asap putih tebal.

"Keluar lu tikus!" Seorang penjaga muncul di ujung lorong rak. Dia membidikku. Aku tidak punya senjata api. Tapi aku punya Pistol Angin Kompresor (Air Duster) yang kucuri dari meja kerja tadi. Aku menyemprotkan angin bertekanan tinggi itu tepat ke wajahnya. PSSHHHT! Bukan angin biasa. Aku menyemprotkan debu residu narkoba (serbuk putih) yang ada di meja ke matanya.

"ARGH! MATA GUE!" Dia buta sesaat. Aku lari menubruknya, mendorongnya jatuh ke tumpukan drum kosong.

Aku lari menuju pintu keluar belakang. Tapi terkunci. Sial. Kunci elektronik. Aku butuh waktu 10 detik buat nge-hack pake Flipper Zero. Sementara di belakangku, tiga penjaga sudah mendekat. "Itu dia! Tembak kakinya!"

Aku terpojok. Di sebelahku ada tabung Nitrogen Cair besar. Aku memutar katup Nitrogen Cair sampai lepas. WUUUSSSHHHHHH!!!! Kabut putih super dingin (-196°C) menyembur keluar dengan tekanan tinggi, menciptakan dinding kabut beku yang tebal. Para penjaga berhenti. Mereka tidak berani menembus kabut itu. "Tahan! Nanti kita beku!"

Aku memanfaatkan kabut itu sebagai tameng visual. Aku menempelkan Flipper Zero ke kunci pintu. Emulating... 3... 2... 1... KLIK. Pintu terbuka. Aku melompat keluar, tepat saat peluru-peluru mulai menembus kabut nitrogen.


Lihat selengkapnya