Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #27

Simfoni Darah Di Menara Kaca - Part 1

[POV Aryo]

Sudah tiga hari sejak aku membuat pabrik narkoba raksasa itu berubah menjadi kembang api termahal di Pulau Jawa. Tiga hari sejak aku menyumbat laras pistol mafia paling ditakuti dengan lem besi seribuan. Tiga hari sejak aku menjadi malaikat maut tanpa bayangan.

Dan pagi ini? Pagi ini aku sedang jongkok di depan toilet karyawan, berusaha menyikat kerak kuning di lantai menggunakan sikat gigi bekas dan pembersih lantai beraroma pinus murahan yang baunya bikin hidungku pengen resign dari wajah.

Kejayaan dunia ini fana. Kemarin aku bergelantungan di kabel baja lift sedalam 45 lantai demi lolos dari hujan peluru. Hari ini, aku dimarahi oleh Mbak Wati dari divisi HRD karena lupa mengganti tisu toilet di bilik nomor dua.

Siku kananku masih terbalut perban gara-gara gesekan kabel lift. Secara fisik, aku lebih mirip zombi yang baru bangkit dari kubur lalu langsung disuruh ikut kerja bakti RT. Tapi secara mental? Pikiranku jauh lebih tenang. Janjiku pada Novi sudah lunas. Dia aman. Raja iblisnya sudah mati. Mbak Novi saat ini masih tahap pemilihan di Rumah Sakit, setidaknya saat ini dan setelahnya hidupnya sudah bisa berjalan normal.

Aku baru saja berdiri, merenggangkan pinggangku yang berbunyi krek-krek persis kerupuk kulit yang digigit, ketika sebuah bayangan kecil namun menakutkan menutupi cahaya lampu.

Aku menoleh perlahan. Berdiri di ambang pintu, dengan tangan bersedekap di dada, aura membunuh yang mengalahkan aura bos mafia Rusia, dan tatapan mata setajam silet cukur: Devi Leona. Dia mengenakan kemeja putih rapi, rok span hitam, dan lanyard ID card yang menjuntai. Rambutnya terurai bergelombang, tapi ada satu helai yang mencuat ke atas, pertanda tingkat stresnya sedang di ambang batas wajar.

Glek. Aku menelan ludah. "P-pagi, Mbak Dev. Mau dibikinin kopi?"

"LU DARI MANA AJA SEMINGGU INI!!!"

Teriakan cemprengnya menggema di dinding keramik, membuat gelas-gelas kaca di rak sedikit bergetar. Hukum fisika mengatakan suara melaju 343 meter per detik, tapi omelan Devi melaju menembus gendang telingaku jauh lebih cepat dari itu.

"Eee... anu... saya..." Otak jeniusku yang kemarin bisa meretas sistem keamanan biometrik dalam 10 detik, mendadak buffering. "Saya... pulang kampung, Mbak. Kucing tetangga saya sunatan, jadi saya harus hadir sebagai seksi konsumsi."

Devi melangkah maju. Sepatu heels tiga sentinya berbunyi tak-tak-tak di lantai, seperti bunyi timer bom waktu. Dia berhenti tepat di depanku. Jarak kami hanya dua jengkal. Aku harus menunduk untuk menatap matanya, dan dia harus mendongak. Tapi entah kenapa, posisinya terasa terbalik. Aku yang merasa sekecil semut.

"Lu pikir gue percaya sama alasan konyol lu itu?!" desis Devi, matanya menajam. "Seminggu lu ngilang! Ga ada kabar! Mas Hanif WA lu cuma centang satu, nomer lu ditelepon ga aktif, Lu tau gak apa akibatnya buat gue, hah?!"

Jantungku tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Wait. Tunggu sebentar. Devi marah karena aku hilang? Devi nyariin aku? Devi nelfonin aku? Wahai semesta, apakah ini yang dinamakan benih-benih cinta? Apakah ketidakhadiranku meninggalkan lubang kosong di hatinya? Apakah wanita keras kepala ini akhirnya menyadari bahwa hidupnya hampa tanpa kehadiranku?

Aku langsung menegakkan punggung. Rasa sakit di rusukku mendadak hilang. Aku tersenyum sok ganteng, menatapnya dengan pandangan lembut ala aktor drama Korea yang baru pulang wamil. "Mbak Devi... nyariin saya ya? Kangen ya, Mbak? Cieee... ternyata Mbak gak bisa hidup tanpa saya, kan? Jujur aja, Mbak, bilang—"

PLETAK!

Sebuah gulungan majalah Trubus mendarat telak di jidatku.

 "Aduh! Sakit, Mbak!" aku mengaduh sambil mengusap dahi.

"JANGAN GE-ER LU!" sembur Devi, wajahnya memerah, entah karena marah atau... ah sudahlah, pasti karena marah. "Gue nyariin lu bukan karena gue kangen! Lu tau gak betapa menderitanya hidup gue seminggu ini?!"

Devi mulai menghitung dengan jarinya. "Satu! Gak ada yang angkatin galon di ruangan gue! Gue terpaksa minum air keran kamar mandi yang gue saring pake tisu! Dua! Gak ada yang milihin makanan di kantin, gue sampe salah beli ayam geprek level 10, mencret gue dua hari! Tiga! Laporan bulanan gue berantakan karena gak ada yang bantuin ngerapihin sel di Microsoft Excel! Lu tau kan gue musuhan sama rumus VLOOKUP?!"

Duniaku runtuh. Fantasi romantismu hancur berkeping-keping. Ternyata aku bukan belahan jiwanya. Aku cuma substitusi Dispenser, aplikasi Gofood, dan ekstensi ChatGPT untuk urusan Excel. Harga diriku sebagai lelaki yang baru saja menghancurkan sindikat mafia internasional langsung merosot ke level kerak bumi.

"Oh... jadi cuma gara-gara galon sama Excel," bahuku melemas. "Syukurlah. Saya kirain Mbak beneran peduli sama nyawa saya."

Mendengar itu, ekspresi Devi tiba-tiba berubah. Matanya yang tadinya berapi-api, mendadak meredup. Dia membuang muka, melihat ke arah mesin fotokopi di sudut ruangan. Tangannya meremas ujung kemejanya. "Lagian... muka lu kenapa banyak plester gitu sih?" gumamnya pelan, sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Lu abis berantem sama kang parkir Indomaret lagi?"

Aku tersenyum tipis. "Enggak, Mbak. Kemarin bantuin tetangga benerin genteng bocor, eh kepeleset jatuh ke kandang ayam."

"Alasan lu makin lama makin gak masuk akal, tau gak," desah Devi. Dia lalu menatapku lagi, kali ini raut wajahnya benar-benar serius. Ketegangannya sangat terasa.

"Yo... lu tau kabar soal Novi?" tanyanya. Suaranya bergetar sedikit.

Aku langsung membeku. Mode Office Boy slengean-ku langsung mati. Aku berusaha menjaga ekspresi wajahku senatural mungkin.

"Mbak Novi? Kenapa emangnya, Mbak? Saya kan baru masuk hari ini."

"Apartemennya meledak, Yo." Mata Devi berkaca-kaca. Tangannya terkepal erat. "Gue liat di berita. Ada ledakan gas katanya. Tapi... Novi sekarang koma di Rumah Sakit Pusat."

Aku menunduk, pura-pura membersihkan noda khayalan di ujung sepatuku. Hatiku mencelos melihat Devi sedih, tapi aku harus menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Demi keamanannya sendiri.

"Innalillahi... Serius, Mbak? Terus kondisi Mbak Novi gimana sekarang?"

"Gue gatau!" Devi menghentakkan kakinya frustasi. "Gue kemarin dapet info dari grup kantor, gue langsung cabut ke Rumah Sakit Pusat. Gue mau nengok. Lu tau apa yang terjadi pas gue nyampe di depan ruang ICU?"

"Apa?"

"Gue dicegat sama bapak-bapak berbadan tegap! Pake jaket kulit item, kacamata item, mukanya kayak debt collector kurang tidur! Gue nanya baik-baik, 'Pak, saya temennya Novi, mau jenguk'. Eh, mereka malah bentak gue! Katanya 'Area ini disterilkan untuk kepentingan penyelidikan negara'. Penyelidikan negara apaan coba?! Novi kan cuma marketing palugada! Emangnya dia nyelundupin uranium di dalem skincare-nya?!"

Aku menahan senyum. Pasti itu anak buah Mas Yogi. Pengamanan berlapis yang kuminta benar-benar dijalankan. Bagus. Setidaknya Yogi menepati janjinya.

"Mungkin Mbak Novi telat bayar pinjol, Mbak? Kan pinjol sekarang galak-galak, pake bawa-bawa negara," jawabku asal, berusaha mencairkan suasana.

"Otak lu emang minta di- factory reset ya!" Devi melotot. "Novi itu anak orang kaya! Mana mungkin dia minjol! Ini aneh banget, Yo. Perasaan gue gak enak. Semenjak kejadian di Cileungsi, terus lu tiba-tiba ngilang, terus Novi apartemennya meledak... Ini kayak ada film action yang lagi syuting tapi gue gak dikasih naskahnya!"

Naluri detektif Devi memang tajam. Terlalu tajam. Aku harus segera mengalihkan pembicaraan sebelum dia menyambungkan benang merahnya.

"Udah, Mbak, mikirnya jangan kejauhan. Nanti jidatnya makin lebar," aku nyengir. "Nanti sore saya bantu cek deh lewat kenalan satpam di RS Pusat. Siapa tau ada info. Sekarang, mending Mbak balik ke meja, bos botak udah nyariin tuh."

Devi mendengus kasar. "Awas lu ya kalau ngilang lagi. Gue ajuin pemotongan gaji lu ke pak boss."

Dia berbalik hendak keluar. Tapi baru satu langkah, dia berhenti. Dia berbalik lagi menatapku. Wajahnya tiba-tiba terlihat... pucat?

"Oh ya, Yo. Ada satu hal lagi."

"Apa, Mbak? Galon di ruang meeting juga kosong?"

"Bukan." Devi menelan ludah.

"Mama... pengen ketemu lu."

DHEG! Jantungku yang tadinya berdetak normal, mendadak berhenti selama tiga detik, lalu memompa darah dengan kecepatan Formula 1. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung bermunculan di pori-pori dahiku. Lututku tiba-tiba kehilangan fungsi tulangnya dan berubah menjadi pudar.

"M-m-mama... B-bu Ratna maksudnya?" suaraku bergetar parah, mengalahkan getaran HP Nokia jadul.

"Ya iyalah! Emang gue punya Mama berapa?!" ketus Devi.

"Mbak... Mbak Dev... saya salah apa, Mbak?" Aku refleks mundur hingga punggungku menabrak rak piring. "Apakah saya salah nyuci Tupperware punya Mama? Atau NMAXnya mau ditarik? Mbak, sumpah Mbak, saya orang baik! Jangan serahin saya ke Mama! Beliau lebih nyeremin dari bos mafia, Mbak!"

Mengingat Bu Ratna konglomerat sadis, diktator berdarah dingin yang bisa melenyapkan satu kelurahan hanya dengan mengangkat alisnya, membuat perutku mulas seketika. Terakhir kali kami bertemu, dia mengancam akan memotong jariku kalau aku tidak bisa melindungi Devi.

Lihat selengkapnya