[POV: ARYO]
Pukul 09.00 WIB. Lokasi: Lobi Gedung "Apex Tower", Sudirman.
Jika ada satu hal yang kupercaya lebih dari gravitasi bumi, itu adalah insting kelangsungan hidupku. Insting yang selama ini menyelamatkanku dari lemparan stapler bos, dari ledakan Cileungsi, dan dari amukan mafia. Dan pagi ini, insting itu berteriak kencang di dalam kepalaku seperti alarm kebakaran yang korslet.
Aku berdiri di depan pintu putar kaca Apex Tower. Gedung perkantoran elit 40 lantai ini biasanya penuh dengan eksekutif muda yang sibuk menenteng kopi Starbucks. Tapi hari ini, tempat ini sesepi kuburan elit.
Bu Ratna, sang calon mertua diktator (Amin). Telah menyewa seluruh gedung ini selama satu hari penuh. Katanya demi keamanan "Rapat Penentuan Investasi". Tidak ada penyewa lain yang boleh masuk. Hanya staf inti Laras Group dan jaringan bodyguard swasta kelas VVIP yang disewa khusus. Biaya sewanya? Entahlah, kalkulator di otakku error kalau disuruh menghitung angka di atas sepuluh miliar.
Aku merapikan jas hitam murahanku yang baru kuambil dari laundry kiloan tadi malam. Kemeja putihku yang sebenarnya baju osis, dan sepatuku sudah disemir pakai semir cair sampai mengkilap (walaupun solnya agak tipis). Malam tadi aku sudah siap berangkat sendiri untuk menjalankan misi "Calon Mantu Impian" ini.
Tapi tentu saja, rencanaku digagalkan oleh satu entitas yang tidak mengenal kata kompromi.
"Lu jalannya bisa cepetan dikit gak sih, Yo? Sepatu gue mahal nih, capek kalau kelamaan berdiri!"
Suara cempreng itu menembus gendang telingaku. Aku menoleh ke samping. Devi. Ia berjalan dengan anggun, tapi wajahnya ditekuk, mengenakan blazer navy blue, rok span yang pas, dan sepatu stiletto yang runcingnya bisa dipakai untuk memecahkan es balok.
"Mbak Dev," aku menghela napas pasrah. "Kan saya udah bilang, Mbak di kossan aja. Ini urusan saya sama Bu Ratna. Mbak kan gak diundang ke rapat direksi. Nanti kalau ketahuan Pak Boss gimana? Ini kan hari kerja."
"Bodo amat! Gue ambil cuti tahunan!" Devi mendengus, melipat tangannya di dada. "Lagian, lu pikir gue bakal biarin lu berduaan aja sama Mama gue, hah?! Mama itu kanibal, Yo! Lu salah ngomong dikit, lu bisa pulang tinggal nama di dalem kendi! Gue di sini sebagai supervisor nyawa lu!"
Aku tersenyum tipis. Alasan yang sangat Tsundere. Bilang saja dia khawatir aku diintimidasi lagi oleh ibunya, atau lebih parah, dia tidak mau ketinggalan aksi. Sejak insiden bajak laut di Natuna, adrenalin Devi sepertinya mengalami mutasi. Dia tidak bisa jauh-jauh dari medan konflik.
Kami melangkah masuk ke dalam lobi marmer yang megah. AC sentral langsung membekukan keringat di tengkukku.
Di sinilah instingku mulai berdengung.
Ada sekitar sepuluh bodyguard berpakaian jas hitam berjejer di lobi. Mereka tinggi, tegap, memakai earpiece. Di atas kertas, pengamanan yang sempurna. Tapi saat mataku memindai ruangan, aku melihat kejanggalan-kejanggalan kecil yang memicu alarm di kepalaku.
Analisis Lobi:
"Mbak," bisikku pelan pada Devi saat kami berjalan menuju lift VIP.
"Apa?"
"Mbak bawa 'lipstik' itu gak?" 'Lipstik' adalah kode rahasia kami untuk pisau lipat taktis berukuran kecil.
Devi menoleh, matanya sedikit melebar, tapi dia tidak menoleh ke arah para pengawal. Dia sangat pintar menutupi ekspresi. "Selalu di tas. Kenapa?" bisiknya balik, nyaris tanpa menggerakkan bibir.
"Jangan jauh-jauh dari saya. Ada yang bau busuk di sini, dan bukan bau sepatu saya."
Devi mengangguk kecil. Ketegangannya meningkat, tapi langkahnya tetap anggun. Kami masuk ke dalam lift VIP. Pintu berlapis emas itu tertutup, membawa kami melesat menuju Lantai 40. Sangkar Naga.
[POV: DEVI]
Lantai 40 - Ruang Rapat Eksekutif.
Aku benci ruangan ini. Ruangan ini terlalu besar, terlalu dingin, dan terlalu memamerkan uang. Meja panjang dari kayu oak utuh sepanjang sepuluh meter mendominasi bagian tengah. Jendela kaca setinggi langit-langit menampilkan pemandangan kota Jakarta yang berasap.
Di ujung meja utama, duduklah Sang Ratu. Mamaku. Dia memakai setelan jas wanita berwarna abu-abu arang, rambut disanggul sempurna, memancarkan aura intimidasi yang membuat direktur-direktur pria berkeringat dingin. Di belakangnya berdiri dua bodyguard pribadi andalannya, Bima dan Sena, dua orang yang sudah mengabdi belasan tahun dan kesetiaannya tidak perlu diragukan. Keduanya memiliki postur seperti kulkas dua pintu.
"Selamat pagi, Ibu Ratna," sapa Aryo dengan sopan santun tingkat dewa, nyaris menunduk cium tangan kalau tidak kuingatkan.
Mama mengangkat wajahnya dari tablet iPad Pro-nya. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat melihat Aryo. Lalu matanya beralih padaku, senyumnya berubah menjadi hela napas lelah. "Devi. Mama rasa Mama tidak mengundangmu."
"Mama gak bisa misahin aku sama bawahan aku," jawabku asal sambil menarik kursi paling pojok, jauh dari meja utama. "Aku cuma mau mantau kerjaan dia. Kalo dia bikin malu, aku yang potong gajinya. Mama anggap aja aku pot tanaman di pojok sini. Abaikan."
Mama memutar bola mata, tapi tidak mengusirku. Dia menunjuk kursi di sebelah kanannya.
"Duduk di sini, Aryo. Di sebelah saya."
Aku melotot. Di sebelahnya?! Itu kursi untuk Chief Financial Officer (CFO) atau tangan kanan perusahaan! Aryo, si OB yang nyuci gelasnya pake sabun cuci piring murah, disuruh duduk di kursi itu?!
Aryo menelan ludah, berjalan dengan langkah agak diseret, lalu duduk dengan kaku di kursi mewah berbahan kulit itu. Dia terlihat seperti anak kucing yang nyasar di kandang harimau Bengal.
"Santai saja, Aryo," kata Mama lembut. "Hari ini kita punya tiga jadwal presentasi dari tiga CEO perusahaan rintisan dan logistik. Mereka butuh suntikan dana satu triliun dari Laras Group. Anggap saja kita sedang menonton audisi Indonesian Idol. Tugasmu adalah menjadi juri yang paling kejam."
"B-baik, Bu. Kriteria penilainnya apa ya, Bu? Vokal, pitch control, atau stage act?" tanya Aryo, mencoba melawak saking gugupnya.
"Kejujuran," jawab Mama singkat, mematikan sisa humor di ruangan itu. "Di dunia saya, kebohongan bernilai triliunan rupiah. Temukan kebohongan mereka, Aryo. Tunjukkan padaku bahwa kau berguna."
Pintu kayu mahoni raksasa terbuka. Presenter pertama masuk. Sidang dimulai.
[POV: ARYO]
PRESENTER PERTAMA: SI BAPAK LOGISTIK (THE BANKRUPT FAKE)
Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah percaya diri. Namanya Bapak Harjono, CEO PT. LINTAS SELAT. Dia mempresentasikan proyek ekspansi pelabuhan peti kemas swasta. Penampilannya sangat meyakinkan. Jas tailor-made (dibuat khusus, pas di badan), rambut disisir klimis, dan senyum yang memancarkan optimisme seorang pemimpin.
Di layar proyektor, grafik-grafik indah naik ke atas. Prediksi ROI (Return on Investment) 30% dalam dua tahun. Proyeksi yang sangat menggiurkan bagi investor manapun.
Bu Ratna mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk. Aku? Aku tidak melihat layarnya. Layar itu isinya PowerPoint, dan PowerPoint bisa dibuat oleh anak magang dengan Canva. Aku melihat manusianya.
Otakku mulai melakukan pemindaian (Scanning Mode).
Observasi 1 : Jas & Kemeja
Temuan Deduksi : Jas Brioni asli. Pas badan. Tapi kemejanya di bagian kerah agak menguning (tanda sering dicuci/dipakai ulang, bukan kemeja baru)
Kesimpulan : Dia pernah kaya, tapi sedang berhemat ketat sekarang.
Observasi 2 : Aksesori
Temuan Deduksi : Rolex Submariner. Tapi tipe 16610 (produksi berhenti tahun 2010). Kaca sapphire-nya ada goresan kecil di arah jam 4.
Kesimpulan : Jam tangan lama yang tidak pernah diservis/dipoles lagi.
Observasi 3 : Sepatu
Temuan Deduksi : Sepatu kulit Berluti. Sangat mahal. TAPI, bagian sol pinggirnya aus tidak rata, dan semirnya menutupi retakan kulit.
Kesimpulan : Sepatu lama yang dipaksa terlihat baru. Orang kaya sejati membuang sepatu retak.
Observasi 4 : Microekspresi
Temuan Deduksi : Saat menyebut "Audit Keuangan Kuartal Terakhir", mata Harjono berkedip cepat (3x per detik), jari manis kirinya mengusap cincin kawin.
Kesimpulan : Stress Response (Respon Stres). Dia berbohong soal kondisi audit. Mengusap cincin tanda mencari kenyamanan psikologis saat di bawah tekanan (Mungkin dia menggadaikan aset keluarga).
Setelah 20 menit, presentasi selesai. Harjono tersenyum lebar. "Bagaimana, Ibu Ratna? Masa depan maritim ada di tangan kita."
Bu Ratna tidak menjawab. Dia menoleh padaku. Menunggu. Semua mata di ruangan itu (termasuk pengawal) menatapku. Si OB berseragam jas laundry kiloan.
Aku berdehem pelan. Memperbaiki posisi dudukku. "Permisi, Pak Harjono. Presentasinya sangat bagus. Visualnya color palette-nya estetik," ujarku santai. Harjono tersenyum bangga.
"Tapi," lanjutku, nadaku berubah sedikit lebih berat. "Saya mau tanya satu hal. Bapak tadi bilang kalau armada kapal tongkang Bapak baru saja di-maintenance penuh bulan lalu dan siap beroperasi 100%?"
"Tentu saja, Anak Muda. Semua terdata."
"Lalu, kenapa Bapak datang ke meeting triliunan rupiah ini menggunakan supir taksi online, dan bukan supir pribadi Bapak?"
Ruangan hening seketika. Senyum Harjono membeku. Bu Ratna menaikkan satu alisnya, tertarik.