[POV: ARYO]
Pukul 10.15 WIB. Lokasi: Lantai 40, Apex Tower. Ruang Rapat Eksekutif.
Udara di dalam Ruang Rapat Eksekutif ini mendadak terasa setipis di puncak Gunung Everest. Bau mesiu, darah, dan kayu mahoni yang terbakar bercampur menjadi aroma kematian yang pekat.
Di ujung lorong luar pintu kaca ganda, langkah sepatu bot taktis terdengar menggema. Drap. Drap. Drap. Teratur, mematikan, tanpa keraguan. Itu bukan preman bayaran murahan. Dari cara mereka bergerak maju, formasi Diamond, senjata laras panjang (kemungkinan HK MP5 atau M4 Carbine) menempel di bahu, dan komunikasi tanpa suara menggunakan isyarat tangan, mereka adalah mantan Special Forces. Pasukan maut yang disewa dengan harga selangit.
"Bima, Sena, laporan amunisi!" teriakku dari balik barikade meja kayu oak yang terbalik.
"Tiga magasin Glock 19, total 45 peluru," geram Bima sambil mengecek senjatanya. Darah menetes dari pelipisnya akibat serpihan kayu. "Dua magasin. 30 peluru," sahut Sena, matanya tak lepas dari celah pintu.
Aku menelan ludah. 75 peluru peluru kaliber 9mm melawan belasan senapan serbu otomatis dengan rompi anti-peluru level III. Di atas kertas, kami mati dalam hitungan empat puluh detik.
Di sebelahku, Bu Ratna duduk berjongkok. Wajahnya yang biasa sedingin marmer kini seputih kertas. Tangannya yang dipenuhi cincin berlian mencengkeram lengan jas murahanku dengan kekuatan yang bisa meremukkan tulang. Diktator ini akhirnya merasakan apa yang dirasakan rakyat jelata: Ketidakberdayaan absolut.
"Aryo..." bisik Bu Ratna, suaranya bergetar. "Kau punya rencana? Kau selalu punya rencana, kan?"
Aku menatap mata calon ibu mertuaku itu. Aku ingin bilang 'Iya, Bu, saya punya helikopter tak terlihat di saku saya.' Tapi aku bukan penyihir. Aku mengeluarkan laptop, dari salah satu tas yang tergeletak, memangkunya di atas paha.
"Saya bukan Rambo, Bu. Saya teknisi," jawabku cepat, jari-jariku mulai menari di atas keyboard. "Sinyal radio di-jamming. Lift dimatikan dari ruang kontrol bawah. Tangga darurat sedang dinaiki musuh. Kita terkurung di kotak kaca setinggi 200 meter. Kalau kita adu tembak, kita jadi keju Swiss."
"Lalu apa rencanamu?" potong Devi. Dia berjongkok di sebelah Bima, memegang dua pistol Glock (satu rampasan, satu miliknya). Matanya menyala-nyala, adrenalin memompa urat lehernya. Dia tidak terlihat takut. Dia terlihat lapar.
"Gedung ini terlalu pintar, Mbak," aku tersenyum miring, menatap layar laptop yang menampilkan baris kode command prompt hitam-hijau. Aku menyambungkan Flipper Zero-ku (Milik BIN yang belum kukembalikan) ke port ethernet di bawah meja rapat yang hancur. "Apex Tower pakai sistem Smart Building Integration. Lampu, suhu, alarm, kunci elektronik... semuanya terhubung di satu server. Kalau mereka bisa matiin lift, berarti sistemnya lagi online."
Aku meretas protokol Building Management System (BMS). Kecepatan tanganku mengetik mungkin sudah memecahkan rekor dunia.
"Mbak Dev, Bima, Sena," panggilku tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Musuh pakai Night Vision Goggles (NVG). Mereka bersiap mematikan listrik lantai ini sebelum mendobrak masuk biar kita buta total. Tapi mereka lupa satu hukum fisika dasar tentang optik intensitas tinggi."
"Hukum apa?!" teriak Sena saat bayangan musuh sudah mencapai pintu kaca ganda.
"Kalau kau pakai kacamata penguat cahaya (NVG)..." jariku melayang di atas tombol ENTER. "...jangan pernah menatap matahari."
Tap.
[POV: DEVI]
"TUTUP MATA KALIAN!" teriak Aryo sekencang mungkin.
Aku refleks memejamkan mata rapat-rapat dan menundukkan kepala. Di detik yang sama, lampu utama di lorong dan di ruang rapat padam total. Gulita. Tapi itu hanya berlangsung setengah detik.
Tiba-tiba, terdengar suara BZZZT! yang memekakkan telinga. Aryo tidak hanya menyalakan kembali lampu. Dia telah meretas sistem kelistrikan darurat dan Fire Alarm Strobe (Lampu Kilat Kebakaran) di seluruh Lantai 40, memaksa ballast lampu LED raksasa di lorong untuk menyala dengan intensitas 300% dari kapasitas normalnya, dan berkedip dalam frekuensi strobo (berkedip cepat seperti di diskotik, tapi seratus kali lebih terang).
Cahaya putih menyilaukan meledak di lorong luar. Bagi kami yang menutup mata, cahaya itu masih terasa menembus kelopak mata. Tapi bagi pasukan penyerang di luar yang sedang memakai Night Vision Goggles (alat yang melipatgandakan cahaya ribuan kali lipat agar bisa melihat di tempat gelap)?
Cahaya strobo Aryo adalah bom Flashbang yang meledak tepat di retina mata mereka.
"AAAAAARRRGHHH!!!" Jeritan kesakitan massal terdengar dari balik pintu. Pasukan elit itu langsung menjatuhkan senapan mereka, memegangi mata mereka yang terasa seperti ditusuk jarum panas. Kebutaan sementara. Formasi mereka hancur lebur.
"SEKARANG, MBAK DEV!" raung Aryo. "MEREKA BUTA! BERSIHKAN LORONG!"
Mataku terbuka. Aku tidak butuh perintah kedua. Baba Yaga Mode: Override.
Aku melompat melewati barikade meja. Kakiku yang telanjang tanpa sepatu hak tinggi mendarat tanpa suara di atas karpet. Aku menerjang menembus pintu kaca yang sudah retak, masuk ke tengah-tengah lorong yang berkedip-kedip gila oleh lampu strobo.
Pemandangannya seperti adegan slow-motion di film cyberpunk. Belasan tentara bayaran meraba-raba udara, panik, buta, mencoba melepaskan kacamata NVG mereka.
Musuh pertama, seorang pria raksasa di depanku, mengayunkan laras senapannya secara membabi buta. Aku merunduk (ducking) di bawah ayunannya. Tanganku menyambar kerah tactical vest-nya, menariknya ke bawah, sementara lutut kananku menghantam wajahnya yang tertutup topeng balaclava. CRAK! Hidungnya patah. Sebelum tubuhnya jatuh, aku menggunakan bahunya sebagai pijakan, melompat ke udara, dan memutar tubuhku.
DOR! DOR! Dua tembakan dari Glock di tangan kananku menembus dada musuh kedua dan ketiga yang berdiri berdampingan. Posisi Center Axis Relapse (CAR) yang kupelajari saat insiden kapal kargo membuat tembakanku di jarak dekat memiliki akurasi mematikan. Pistol kutempelkan dekat dada, meminimalkan recoil (hentakan).
Musuh keempat berhasil melepas kacamata NVG-nya. Dia mengedip-ngedip kesakitan dan melihatku. Dia mengangkat M4-nya. Terlambat, Bang Jago. Aku melempar Glock kosong di tangan kiriku. Pistol itu melayang dan menghantam tepat di pelipisnya. TAK! Dia sempoyongan. Aku meluncur (sliding) di lantai, meraih kaki kirinya, memelintirnya (Ankle Lock), lalu saat dia jatuh tengkurap, aku menembak tengkuknya dengan Glock di tangan kananku. DOR!
Bima dan Sena menyusul di belakangku. Mereka bukan petarung jarak dekat sepertiku, tapi mereka adalah algojo presisi. DOR! DOR! DOR! Tembakan dua-dua (Double Tap) dari Bima dan Sena menghabisi sisa musuh yang masih kebingungan di ujung lorong.
Dalam dua belas detik, Lorong Lantai 40 bersih. Tujuh belas mayat bergelimpangan. Darah mengalir membasahi karpet motif bunga yang harganya setara mobil sport.
Napas ku memburu. Tanganku sedikit gemetar karena lonjakan adrenalin. Aku menoleh ke belakang, ke arah ruang rapat. Aryo keluar, memapah Mamaku yang masih shock. Cowok nerd itu menatap lorong pembantaian ini dengan mata terbelalak, lalu menelan ludah.
"Mbak Dev..." bisik Aryo ngeri. "Mbak sadar gak sih, Mbak baru aja ngebantai satu peleton elit pake gaya John Wick tapi sambil nyeker? Kalau Keanu Reeves liat, dia pasti resign jadi aktor."
Aku menyeringai ganas, mengusap cipratan darah dari pipiku dengan punggung tangan. "Gue lagi PMS, Yo. Jangan banyak protes. Sekarang kita ke mana?! Lift mati, tangga darurat penuh musuh. Mereka pasti ngirim gelombang kedua!"
Aryo membuka layar laptopnya lagi. Matanya bergerak cepat membaca blueprint gedung. "Kita gak akan lewat dalam, Mbak," kata Aryo. Tiba-tiba dia menunjuk ke arah koridor samping yang berdinding kaca full. Kaca itu menampilkan pemandangan kota Jakarta yang jauh di bawah sana. Kendaraan terlihat sekecil semut. Pusing melihatnya.
"Kita bakal lewat luar."
Aku melongo. "Maksud lu kita disuruh terjun payung pake taplak meja rapat?!"
"Bukan, Mbak. Di balik dinding kaca itu ada teras Maintenance kecil." Aryo berlari mendekati dinding kaca tebal itu. "Gedung full kaca kayak gini pasti punya Gondola (Building Maintenance Unit/BMU) buat petugas yang bersihin kaca dari luar. Dan karena ini lantai teratas, garasi Gondola-nya ada di balkon servis di balik kaca ini."
Aryo menoleh ke arah Sena. "Sena! Tembak kacanya! Pakai laras panjang bekas musuh!"
Sena memungut senapan M4 dari mayat, mengarahkannya ke kaca Tempered Glass tebal itu, dan menarik pelatuk. BRRRTTT! Kaca itu retak seribu, memutih, tapi tidak hancur. Kaca anti-peluru tingkat rendah. Aku maju, memberikan tendangan memutar (Roundhouse Kick) dengan tumit telanjangku ke titik tengah retakan. PRANGG! Kaca hancur berkeping-keping. Angin kencang dari ketinggian 200 meter langsung menerjang masuk, membawa suara bising lalu lintas ibu kota.
"Ayo! Ke balkon!" perintah Aryo.