Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #30

Simfoni Darah Di Menara Kaca - Part 4 (Final)

[POV: ARYO]

Pukul 10.35 WIB. Lokasi: Lantai 18, Apex Tower. Area Perkantoran yang Hancur.

Enam titik laser merah menari-nari di dadaku, menyilang tepat di atas letak jantungku yang saat ini sedang memompa darah dengan kecepatan menyamai mesin jet F-16. Debu dari plafon yang runtuh akibat terjangan Gondola kami masih melayang-layang di udara, menari di bawah sorotan lampu darurat yang berkedip merah menyala.

Di belakangku, Bu Ratna berjongkok sambil menutupi telinganya. Bima dan Sena, dua pengawal raksasa itu, terluka cukup parah dan tak berdaya. Di sampingku, Devi berdiri dengan napas memburu, tangan telanjangnya menggenggam pisau lipat taktis yang bilahnya sudah ternoda darah musuh sebelumnya.

Kami dikepung. Enam pria berbaju zirah hitam, wajah tertutup balaclava tengkorak, menodongkan senapan serbu M4 karabin yang sudah dimodifikasi penuh. Jari mereka berada di pelatuk. Satu kedutan otot saja, dan tubuhku akan berubah menjadi saringan teh.

"Habisi mereka. Sisakan wanita tua itu," suara dingin sang komandan regu, pria dengan tinggi hampir dua meter di tengah formasi, menggema memecah keheningan lantai 18.

Otakku, yang biasanya kupakai untuk menghitung sisa limit Paylater di akhir bulan, kini dipaksa bekerja pada overclock 1000%.

Aku memindai keenam orang ini dalam waktu kurang dari dua detik.

  1. Seragam: Mereka tidak memakai seragam korporat. Ini tactical gear black market. Tapi, velcro patch di lengan mereka sengaja dicabut. Mereka Ghost Mercenaries (Tentara Bayaran Tanpa Identitas).
  2. Senjata: Modifikasi mahal. Holographic sight, suppressor, foregrip. Senjata ini bukan inventaris negara. Ini milik pribadi.
  3. Motivasi: Uang. Orang-orang ini tidak punya ideologi. Mereka tidak peduli pada Laras Group atau Brata. Kesetiaan mereka berbanding lurus dengan jumlah nol di rekening bank Cayman Island mereka.


Dan di situlah letak kelemahan terbesar mereka. Keserakahan.

Saat komandan itu memberi isyarat tangan untuk mengeksekusiku, aku tidak mengangkat tangan tanda menyerah. Aku justru tertawa. Bukan tawa panik. Tapi tawa pelan, meremehkan, dan sangat sombong, seolah aku adalah orang yang sedang menodongkan senjata ke arah mereka.

"Hahahaha... Ya ampun," aku menggeleng-gelengkan kepala, menurunkan tanganku, dan menatap komandan itu dengan tatapan kasihan. "Kalian ini... pasukan elit, atau kumpulan badut outsourcing?"

Keenam moncong senjata itu terhenti. Tawa absurdku di ambang kematian menciptakan Cognitive Dissonance (kebingungan psikologis) di otak mereka. Insting membunuh mereka tertunda sepersekian detik karena rasa penasaran.

"Apa kau bilang?!" geram si Komandan. Laras senapannya maju beberapa inci ke arah wajahku.

"Gue bilang, kalian ini badut," ulangku, kali ini dengan nada yang jauh lebih dingin. Aku melangkah maju satu langkah. Ya, maju ke arah moncong senjata. Sebuah langkah bunuh diri yang membuat Devi di sebelahku menahan napas. "Kalian diutus buat ngebunuh Bu Ratna. Tapi kalian tahu gak siapa yang bayar kalian?"

"Bukan urusanmu. Mati saja kau."

"Yang membayar kalian udah mati, Bos," potongku cepat, suaraku menggema di ruangan yang sunyi itu. "Gue yang ngebunuh dia beberapa jam yang lalu di vilanya. Kepalanya hancur kena pistolnya sendiri." Aku mengarang cerita dengan kronologi Brata.

Keenam tentara bayaran itu tersentak. Formasi mereka goyah sejenak. Kabar kematian palsu ini jelas tidak bisa mereka konfirmasi, karena sinyal di gedung ini di-jamming.

"Kalau klien kalian udah mati," aku memiringkan kepalaku, menatap mata si Komandan di balik topengnya. "Terus siapa yang bakal bayar sisa pelunasan misi ini? Kalian kan baru dibayar DP 20% pake crypto, bener gak?"

Tatapan si Komandan berubah. Aku menebak dengan tepat. Operasi gelap selalu menggunakan sistem DP, pelunasan setelah target dieksekusi.

"Dari mana kau tau itu?!" bentaknya, nadanya mulai terdengar panik.

"Karena gue yang pegang akses Ledger Wallet milik Client kalian sekarang," aku berbohong dengan sangat mulus. Aku mengeluarkan laptop taktisku yang layarnya retak tapi masih menyala dari dalam ranselku. Aku mengetik beberapa baris kode dengan satu tangan.

Sebenarnya, aku menggunakan Flipper Zero di sakuku untuk melakukan Bluetooth Beacon Spoofing. Aku memindai device terdekat yang discoverable di ruangan ini. Ada satu Smartwatch Garmin yang aktif di pergelangan tangan si Komandan. Aku mengirimkan Push Notification palsu ke Smartwatch itu menggunakan protokol BLE (Bluetooth Low Energy) yang tidak terenkripsi.

"Kalian pikir kalian ini tim yang solid?" aku mendecih. "Client kalian itu pelit. Dia gak mau bayar kalian semua penuh kalau misinya gagal. Jadi, dia bikin kesepakatan rahasia sama satu orang di antara kalian. Orang itu ditugasin buat mastiin Bu Ratna mati, lalu ngebunuh kalian berlima biar gak ada saksi, dan dia bakal bawa kabur seluruh bayarannya sendirian."

"Omong kosong!" teriak salah satu tentara di sebelah kiri. "Kami satu kesatuan!"

"Masa?" aku menyeringai iblis. "Coba tanya komandan kalian. Tiga puluh detik yang lalu, gue baru aja mentransfer sisa bayaran 5 Miliar Rupiah berbentuk Bitcoin ke wallet pribadinya. Cek jam tangan lu, Bos."

Semua mata dari kelima anak buahnya langsung tertuju pada pergelangan tangan si Komandan.

Tepat pada detik itu, layar Smartwatch Garmin di tangan si Komandan menyala terang di ruangan redup itu, mengeluarkan bunyi BEEP yang nyaring. Notifikasi palsu yang kubuat muncul di layarnya dengan teks besar: "INCOMING TRANSFER: 5.000.000.000 IDR (BTC EQUIVALENT) - CLEARED."

Mata si Komandan membelalak lebar melihat layarnya sendiri. "I-ini... ini bukan dari aku! Ini jebakan!"

Tapi kelima anak buahnya tidak peduli pada alasan. Mereka melihat notifikasi itu dengan mata kepala mereka sendiri. Di dunia tentara bayaran, paranoia adalah penyakit menular yang paling mematikan. Uang lima miliar adalah jumlah yang lebih dari cukup untuk membuat seorang kakak membunuh adik kandungnya.

"Bangsat kau, Viper!" teriak tentara bayaran di sebelah kanannya. Laras senapan M4 yang tadinya mengarah kepadaku, kini bergeser sembilan puluh derajat, membidik tepat ke arah kepala komandannya sendiri. "Kau mau ngejual kita berlima?!"

"Turunkan senjatamu, TOLOL! Dia meretas jamku!" raung si Komandan, panik, balas menodongkan senjatanya ke arah anak buahnya.

"Kalau gitu kenapa kau gak bilang soal kesepakatan kedua?!" balas tentara yang lain, ikut menodongkan senjata ke arah si Komandan.

Formasi sempurna mereka hancur. Enam moncong senjata kini saling menyilang, membidik satu sama lain dalam lingkaran penuh kecurigaan, ketamakan, dan pengkhianatan. Jari-jari mereka bergetar di pelatuk. Keringat dingin mengucur. Ego dan uang telah membutakan taktik militer mereka.

Skenario Mexican Standoff tercipta.

Aku menatap Devi lewat sudut mataku. Bunga hatiku yang cantik ini tidak membuang waktu satu milidetik pun. Dia tahu persis apa yang harus dilakukan saat mangsanya lengah.

Aku mengangguk sekilas padanya. Execute.

 

[POV: DEVI]

Aku melihat kejeniusan manipulatif Aryo bekerja secara real-time. Cowok ini, yang biasanya cuma bisa disuruh fotokopi dokumen, baru saja membongkar mental satu regu pembunuh elit hanya bermodalkan mulut dan sebuah jam tangan pintar. Dia mengunci fokus mereka satu sama lain, mengosongkan blind spot yang sangat lebar di depanku.

Mereka saling menodong. Mereka lengah. Waktunya menari.

Aku menerjang maju. Tubuhku melesat sangat rendah, nyaris sejajar dengan lantai karpet yang penuh reruntuhan.

Target pertama: Tentara di paling kiri yang sedang berdebat. Sebelum dia menyadari pergerakanku, aku menggunakan sisa pecahan pipa besi dari partisi cubicle yang kuambil tadi. Aku mengayunkannya sekuat tenaga ke arah tulang kering (tibia) kirinya. KRAK! Bunyi tulang retak terdengar memuaskan. Pria itu menjerit, kakinya terlipat, keseimbangannya hancur. Saat tubuhnya merosot turun, aku menjadikan bahunya sebagai pijakan, melompat naik, dan menancapkan pisau lipat taktisku tepat ke celah antara helm Kevlar dan tactical vest-nya di bagian leher belakang. JLEB. Dia tumbang seketika, darah menyembur tanpa suara.

Satu tumbang. Sisa lima.

Kejatuhan tentara pertama memicu kepanikan total. Mereka baru sadar mereka sedang diserang oleh "mangsa" mereka sendiri. "TEMBAAKK!" raung si Komandan (Viper).

Tapi formasi mereka sudah terlalu kacau, dan jarak kami terlalu dekat. Senapan laras panjang sangat buruk untuk pertempuran jarak nol (Close Quarters Battle - CQB).

Musuh kedua mengarahkan M4-nya padaku. Aku merunduk ke kiri, tangan kananku menyambar laras senapannya yang panas, membelokkannya ke atas. TRATATATATA! Peluru menghancurkan lampu plafon di atasku. Tanpa melepaskan larasnya, aku melangkah maju masuk ke zona pertahanannya, menyelipkan lengan kiriku di bawah ketiaknya, lalu memutar tubuhku dengan kekuatan penuh. Teknik bantingan Ippon Seoi Nage (Judo). Pria seberat 90 kilogram itu melayang di udara dan menghantam lantai beton dengan punggungnya. BUM! Angin di paru-parunya habis. Aku mengakhirinya dengan menginjak jakunnya menggunakan tumitku dengan seluruh berat badanku.

Dua tumbang. Sisa empat.

Musuh ketiga dan keempat menyadari mereka tidak bisa menembakku karena takut mengenai teman sendiri di jarak sedekat ini. Mereka membuang senapan dan mencabut pisau tempur Karambit dari pinggang mereka.

Dua lawan satu pake pisau? Boleh juga. Musuh ketiga menusuk lurus ke arah dadaku. Aku menggeser tubuhku (pivoting) 45 derajat. Pisau itu hanya menyayat udara. Aku menangkap pergelangan tangannya, menguncinya kuat-kuat, lalu menggunakan momentum dorongannya untuk menarik tubuhnya ke depan sebagai tameng hidup. SRAKK! Musuh keempat yang sedang mengayunkan pisaunya tak bisa mengerem. Pisaunya menancap telak di perut temannya sendiri (musuh ketiga).

"Argh! Maaf!" teriak musuh keempat panik saat melihat dia menusuk rekannya.

Kepanikan itu kubalas dengan hadiah manis. Aku melepaskan musuh ketiga yang sekarat, melakukan spinning back kick (tendangan berputar) yang mendarat super telak di rahang musuh keempat. BUAGH! Rahangnya bergeser parah. Tubuhnya terpental menabrak meja kayu hingga hancur. Pingsan total.

Tiga dan empat tumbang. Sisa dua.

Lihat selengkapnya