[POV: NARATOR]
Pukul 23.45 WIB. Lokasi: Markas Besar Operasi Bayangan (Shadow Ops), Jakarta Pusat.
Suasana di Ruang Kendali Utama malam itu seharusnya tenang. Pasca insiden di Apex Tower sebulan yang lalu, grafik kejahatan terorganisir di ibu kota terjun bebas. Kompol Yogi duduk bersandar di kursi komandonya, memijat pelipisnya yang berdenyut, ditemani secangkir kopi hitam yang sudah dingin.
Di layar monitor utama, semuanya menunjukkan status Code Green. Aman. Namun, di dunia intelijen, kedamaian adalah kebohongan yang menunggu untuk terbongkar.
Tiba-tiba, sebuah alarm melengking memecah kesunyian. Bukan alarm biasa. Itu adalah bunyi sirene dari saluran komunikasi Redline, saluran terenkripsi tingkat tertinggi yang hanya digunakan oleh segelintir petinggi negara.
Layar di depan Yogi berkedip merah menyala. INCOMING TRANSMISSION: JENDERAL WIRAWAN. Jenderal Wirawan adalah Kepala Badan Intelijen Negara Bayangan (BINB), atasan tertinggi Yogi, sekaligus orang yang memberikan mandat semua operasi penting intelejen. Saat ini, sang Jenderal seharusnya berada di Bunker Safehouse VVIP di pedalaman bukit Sentul, tempat dengan pengamanan yang setara dengan brankas nuklir.
Yogi menekan tombol terima dengan cepat. "Komandan Yogi di sini. Siap, Jenderal."
Tidak ada jawaban formal. Yang terdengar dari speaker hanyalah suara napas yang memburu, bunyi logam yang bergesekan, dan... jeritan.
"Yogi... Tarik semua pasukanmu ke titik Zulu-Actual..." Suara sang Jenderal terdengar bergetar hebat. Orang terkuat di dunia intelijen itu sedang ketakutan. "Dia menembus perimeter... Pintu baja setebal 50 senti dipotong seperti mentega... Pasukanku... mereka mati tanpa sempat menembak... Tolong... ARGGHH!"
Suara tebasan yang sangat aneh, bukan seperti pedang beradu, melainkan seperti desisan listrik bertegangan tinggi yang menyayat daging, terdengar jelas. Diikuti oleh suara sesuatu yang berat jatuh ke lantai. Lalu, keheningan total.
Bulu kuduk Yogi berdiri. Jantungnya serasa berhenti berdetak. "Jenderal?! Jenderal Wirawan?! Lapor status! Halo?!" Hanya ada suara statis. Sinyal terputus.
Yogi melompat dari kursinya. Insting tempurnya langsung mengambil alih. "KODE HITAM! KODE HITAM!" teriak Yogi menggelegar ke seluruh ruangan. "Aktifkan Pasukan Alpha! Persenjataan penuh! Level IV Armor! Kita meluncur ke Safehouse Sentul sekarang! Siapkan helikopter dan konvoi taktis!"
Dalam waktu kurang dari tiga menit, markas bawah tanah itu berubah menjadi mesin perang yang mendidih. Pasukan Alpha, tiga puluh prajurit elit terbaik bentukan Yogi, orang-orang yang dilatih untuk perang kota dan anti-teror, berlarian menuju kendaraan lapis baja mereka. Mereka mengenakan rompi balistik Ceramic Plate, helm Kevlar dengan Night Vision, dan menenteng senapan serbu P90 serta M4A1.
Yogi sendiri mengokang senapan laras pendeknya, memasukkan pisau tempur Kukri ke sarung di pahanya. Wajahnya mengeras. Siapapun yang berani menyerang Kepala BIN di dalam bunker, bukan sekadar orang gila. Itu adalah deklarasi perang.
Pukul 00.20 WIB. Lokasi: Safehouse VVIP, Bukit Sentul, Jawa Barat.
Hujan badai mengguyur kawasan perbukitan Sentul malam itu. Kilat menyambar, menerangi bangunan beton Brutalist yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan pinus. Tidak ada jendela di bangunan itu. Hanya ada satu pintu masuk berupa gerbang baja berlapis titanium.
Konvoi SUV hitam milik Yogi berhenti dengan decitan rem yang memekakkan telinga. Pasukan Alpha berhamburan keluar, membentuk formasi taktis melindungi Yogi yang berjalan di tengah. Hujan membasahi seragam hitam mereka.
"Tim Satu, amankan perimeter luar! Tim Dua dan Tiga, ikut aku ke dalam!" perintah Yogi melalui earpiece.
Mereka mendekati gerbang utama. Di sinilah kengerian pertama menyambut mereka. Pintu baja setebal 50 sentimeter yang dirancang untuk menahan ledakan misil itu, tidak hancur diledakkan. Pintu itu... terbelah dua. Sebuah garis potongan diagonal yang sangat presisi, sehalus potongan laser, membelah baja titanium tersebut. Bagian atas pintu itu bergeser dan ambruk ke dalam. Tepian potongannya masih memancarkan warna oranye kemerahan akibat panas yang ekstrem.
Yogi menelan ludah. Senjata apa yang bisa memotong titanium dalam hitungan detik tanpa menimbulkan ledakan?
"Masuk. Nyalakan senter taktis. Jangan ada yang berpencar," bisik Yogi.
Mereka melangkah melewati celah pintu yang hancur, masuk ke dalam koridor bunker yang dingin dan lembap. Lampu utama mati, hanya lampu darurat merah yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Bau udara di dalam sangat mengerikan. Campuran antara bau ozon (seperti setelah petir menyambar), bau logam terbakar, dan bau amis tembaga yang pekat. Darah.
Langkah sepatu bot taktis pasukan Alpha berdecit di atas genangan lengket.
"Oh God..." bisik Yandi, wakil komandan Yogi, saat lampu senter laras senapannya menyorot ke ujung lorong.
Pemandangan di lorong itu seperti rumah jagal yang dirancang oleh psikopat. Dua belas penjaga elit Safehouse, prajurit bersenjata lengkap dengan rompi anti-peluru tingkat tinggi, berserakan di lantai, dinding, dan langit-langit. Mereka tidak ditembak. Mereka dimutilasi. Tapi yang membuat perut Yogi bergejolak bukan sekadar darahnya. Melainkan bagaimana mereka dipotong.
Rompi Kevlar, laras senapan baja, dan tubuh manusia terpotong dalam satu garis lurus yang sama persis. Permukaan potongannya sangat halus, seolah-olah mereka diiris oleh scalpel bedah raksasa. Wajah mayat-mayat itu bahkan masih membeku dalam ekspresi normal, seolah mereka mati bahkan sebelum sistem saraf mereka sempat mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak.
"Ini bukan kerjaan manusia..." seorang prajurit bergumam, senapannya bergetar.
"Jaga disiplin laras! Fokus!" bentak Yogi, meski jantungnya sendiri berdebar gila. "Terus maju ke Ruang Utama Jenderal."
Mereka tiba di pintu Ruang Panic Room tempat Jenderal Wirawan seharusnya bersembunyi. Pintu brankas bundar itu bernasib sama dengan pintu depan. Dilubangi tepat di tengah dengan potongan melingkar yang sempurna.
Yogi menendang sisa pintu itu dan masuk dengan senjata terhunus. Ruangan itu acak-acakan. Berkas berserakan. Dan di tengah ruangan, di atas kursi kulit kebesarannya, duduk Jenderal Wirawan.
Tubuhnya masih tegak bersandar. Namun, kepalanya sudah tidak ada di bahunya. Kepala sang Jenderal diletakkan dengan rapi di atas meja kerjanya, menghadap ke pintu masuk, dengan mata terbuka lebar menyiratkan teror absolut yang ia saksikan di detik terakhir hidupnya.
"Clear! Ruangan clear!" teriak Yandi, menyisir sudut-sudut ruangan dengan senter. Tidak ada siapapun. Pelakunya sudah pergi. Atau begitulah pikir mereka.