[POV: ARYO]
Pukul 07.15 WIB. Lokasi: Lobi Gedung PT. Maju Mundur, Jakarta Selatan.
Kepalaku pusing bukan main, rasanya seperti baru saja digiling di dalam mixer semen. Semalam suntuk, dari jam sembilan malam sampai azan subuh berkumandang, aku push rank Dota 2 di warnet "Lancar Jaya" dekat kosan. Tiga kali win streak, dua kali lose streak gara-gara midlaner-ku AFK (Away From Keyboard) di tengah pertempuran.
Efeknya? Pagi ini aku bangun kesiangan dengan mata semerah mata zombi. Aku bahkan tidak sempat mengecas HP bututku yang mati total sejak semalam. Mandi ala kadar, pakai seragam OB kebanggaan yang belum disetrika, dan langsung lari pontang-panting naik Nmax pemberian calon mertua.
Kini, aku berdiri di lobi kantor yang megah, menekan gagang kain pel dengan sisa-sisa tenaga, menggerakkannya dalam ritme kiri-kanan-kiri-kanan yang monoton. Otakku masih setengah tertidur. Aku bahkan merencanakan untuk tidur siang diam-diam di gudang pantry nanti siang.
Di sudut lobi, TV layar datar berukuran 60 inci yang biasanya menayangkan saluran berita ekonomi atau infotainment pagi, tiba-tiba menampilkan Breaking News dengan banner merah menyala di bagian bawah layar.
Awalnya aku tidak peduli. Paling berita pejabat korupsi lagi. Tapi, saat volume TV itu dinaikkan oleh Pak Satpam yang sedang lewat, kata-kata sang news anchor menembus gendang telingaku seperti peluru es.
"...Tragedi nasional yang mengguncang institusi keamanan negara. Dini hari tadi, sebuah fasilitas rahasia negara di kawasan Sentul diserang oleh pihak tak dikenal. Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa seorang Jenderal berpangkat tinggi dan puluhan prajurit elit ditemukan tewas di lokasi kejadian..."
Tanganku berhenti bergerak. Kain pelku terdiam di atas ubin marmer. Jantungku mulai berdebar aneh. Fasilitas rahasia? Sentul? Jenderal?
Kamera TV beralih menampilkan rekaman amatir dari helikopter berita. Sebuah gedung tua di Jakarta Pusat, gedung yang sangat kukenal, gedung tempat Markas Besar Operasi Bayangan (Shadow Ops) milik Mas Yogi berada, tampak hancur lebur. Kepulan asap hitam membumbung tinggi dari basement gedung tersebut. Garis polisi warna kuning membentang di mana-mana.
"...Selain itu, ledakan besar juga menghancurkan sebuah gedung perkantoran di Jakarta Pusat yang diduga berafiliasi dengan aparat keamanan. Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi ini. Dari puluhan korban di dua lokasi tersebut, dilaporkan hanya satu orang perwira menengah kepolisian yang ditemukan selamat, namun dalam kondisi kritis dan koma di Rumah Sakit Pusat..."
PRANG! Ember pel di sebelahku tersenggol kakiku sendiri dan tumpah membasahi sepatu bot karetku. Tapi aku tidak peduli. Napasku tertahan. Udara di lobi mendadak terasa menghilang.
Hanya satu orang perwira yang selamat. Kritis.
"Mas Yogi..." gumamku lirih, suaraku bergetar hebat.
Tanpa mempedulikan teriakan Pak Satpam yang memarahiku karena menumpahkan air kotor, aku merogoh saku celanaku dengan panik. Mengeluarkan HP Xiaomi bututku yang layarnya retak. Layarnya gelap. Baterai habis.
"Sialan! Nyala! Nyala, woy!" umpatku, berlari kesetanan menuju meja receptionist. Aku mencabut paksa kabel charger milik Mbak Siska (receptionist kantor) dan menyambungkannya ke HP-ku.
"Eh, Aryo! Lu ngapain sih?! Gue lagi ngecas!" jerit Mbak Siska marah.
"Pinjem bentar, Mbak! Hari ini tagihan paylaterku jatuh tempo!" balasku dengan mata melotot yang membuat Mbak Siska langsung kicep ketakutan.
Lima detik... Sepuluh detik... Booting logo Android muncul. Rasanya seperti menunggu seabad. Begitu layar utama menyala, rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi bagai senapan mesin.
Notifikasi pertama: Peringatan Jatuh Tempo Paylater Anda! Segera lakukan pembayaran sebesar Rp. 345.000 untuk menghindari denda. Persetan dengan Paylater! Aku menggesernya cepat.
Notifikasi kedua. Sebuah pesan WhatsApp. Dari kontak bernama "Mas-Mas Intel". Waktu pengiriman: 00:45 WIB. Dini hari tadi. Saat aku sedang sibuk mengumpat di warnet karena kalah Dota, Mas Yogi sedang kritis dan mengirimkan pesan ini padaku.
Jariku yang gemetar membuka pesan tersebut. Hanya ada satu kalimat. Tiga kata yang langsung membekukan darah di pembuluh nadiku.
"DEVI DALAM BAHAYA"
Deg. Duniaku berhenti berputar. Suara bising lobi, suara TV, omelan Mbak Siska, semuanya memudar menjadi dengungan statis. Otakku yang biasanya overthinking soal cicilan, kini dipaksa melakukan kalkulasi taktis tingkat dewa dalam hitungan milidetik.
Analisis Cepat:
Jenderal mati di bunker super aman. Markas besar intelijen hancur lebur (pasti musuh mencari database dan menghapus jejak). Mas Yogi sekarat. Pasukan elitnya dibantai. Target selanjutnya: Devi.
Siapa musuhnya? Bukan sisa-sisa Brata. Sisa-sisa Brata tidak punya daya gempur untuk menghancurkan bunker militer dan membantai puluhan pasukan khusus dalam satu malam. Ini musuh yang levelnya jauh, sangat jauh di atas kartel lokal. Ini adalah eksistensi yang bisa membunuh bayangan.
Tapi... kenapa Devi? Tiba-tiba aku paham. Apex Tower. Karena aku bekerja di balik layar tanpa identitas, dan Devi yang melakukan perlawanan brutal secara fisik membantai pasukan elit di Apex Tower, dalang di balik semua ini pasti mengira Devi adalah biang kerok utamanya. Mereka mengira Devi adalah agen super yang menghancurkan semuanya.
Mereka datang untuk membalas dendam. Mereka datang untuk memburu Sang Valkyrie.
Insting pelindungku langsung menyala, membakar sisa-sisa rasa kantukku menjadi amarah dan kepanikan murni. Aku menoleh ke arah lift lobi dengan liar. Mataku memindai setiap wajah, setiap gerak-gerik, setiap bayangan. Bapak-bapak kurir paket, tukang Gofood, karyawan divisi marketing yang baru datang... apakah ada pembunuh menyamar di antara mereka? Tidak ada. Semuanya terlihat normal. Terlalu normal.
Aku mencabut HP-ku, berlari meninggalkan ember pel dan teguran Mbak Siska, melesat menuju tangga darurat. Aku harus melihat Devi. Sekarang.
Pukul 10.00 WIB - 17.00 WIB. Lokasi: Lantai 12.
Seharian itu, aku berubah menjadi CCTV berjalan. Aku berdiri di sudut pantry, memegang nampan kopi, tapi mataku tidak pernah lepas dari kubikel Devi.
Gadis itu ada di sana. Duduk santai di kursi kerjanya. Memakai kemeja biru muda dan blazer yang dilipat di sandaran kursi. Dia sedang mengetik dengan galak, sesekali mengomeli Mas Hanif yang salah memberikan data vendor. Dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak sadar bahwa di luar sana, malaikat maut sedang mencarinya.
"Yo, lu ngapain sih dari tadi ngeliatin gue mulu? Mata lu mau gue colok pake garpu?!" bentak Devi saat aku mengantarkan teh manis hangat ke mejanya untuk yang ketiga kalinya dalam dua jam.
"A-anu, Mbak... Mbak hari ini kelihatan... beda," jawabku gelagapan, mencari alasan. "Lebih... memancarkan aura inner beauty."
"Gombal lu bau menyan!" Devi mendengus, tapi ujung telinganya sedikit memerah. "Udah sana kerja! Jangan nungguin gue! Lagian muka lu pucet banget, lu sakit tipes? Kalo sakit pulang aja sana, jangan nyusahin."
"Saya sehat kok, Mbak. Kuat diadu sama banteng," aku memaksakan senyum, lalu mundur kembali ke sarangku di pantry.
Dadaku sesak. Aku tidak bisa memberitahunya. Kalau aku bilang "Mbak, ada pembunuh bayaran tingkat dewa yang abis ngebantai intel negara lagi nyari Mbak", Devi pasti tidak akan percaya. Atau lebih parah, kalau dia percaya, Tsundere-nya akan kumat, dia malah akan sok jagoan dan menunggu pembunuh itu datang untuk diajak baku hantam. Dia tidak paham skala kekuatan yang sedang kita hadapi. Aku harus melindunginya dari bayang-bayang.
Setiap kali ada Office Boy dari lantai lain lewat, mataku memicing. Setiap kali lift terbuka, tanganku refleks merogoh saku, menggenggam obeng minus tajam yang diam-diam kuambil dari kotak perkakas maintenance.
Ketegangan ini membunuhku perlahan. Siapa musuh ini? Kapan dia menyerang? Pagi? Siang? Malam? Di kantor? Di jalan?
Hari perlahan berganti malam. Lampu-lampu gedung pencakar langit Jakarta mulai menyala. Kantor PT. Maju Mundur mulai sepi. Karyawan satu per satu pulang. Tapi Devi... Devi memutuskan untuk lembur demi mengejar deadline laporan akhir bulan.