Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #33

Pemburu Sang Valkyrie Part 3

[POV: ARYO]

Pukul 21.10 WIB. Lokasi: Jalanan Sudirman, Hujan Gerimis.

Napas Devi tersengal di pelukanku. Darah segar terus merembes dari luka sayatan sedalam dua sentimeter di bahu dan lengan kirinya, menodai kemeja putihnya menjadi merah pekat. Sengatan listrik dari Stun-Blade Ninja itu tidak hanya membakar kulitnya, tapi juga mengacaukan sistem saraf motoriknya. Jangankan untuk memukul balik, untuk berdiri tegak saja kaki Devi bergetar hebat.

"S-sakit, Yo..." rintihnya pelan, suara yang biasanya melengking penuh omelan kini terdengar begitu kecil dan rapuh. Air mata menetes bercampur dengan air hujan di wajahnya.

Aku menelan kepanikanku bulat-bulat. Aku membaringkan Devi bersandar pada pilar beton jembatan penyeberangan yang gelap. "Tahan sebentar, Mbak. Saya harus hentikan pendarahannya."

Aku tidak punya kotak P3K. Aku melepas kemeja flanel kotak-kotakku dengan kasar, menyisakan kaos oblong putih tipisku yang basah kuyup. Aku merobek lengan kemeja itu menggunakan gigi dan tanganku, membuat sebuah kain perban darurat (tourniquet).

Aku melilitkan kain itu erat-erat di pangkal lengan kiri Devi, tepat di atas lukanya, lalu mengikatnya dengan kekuatan penuh untuk menjepit pembuluh darah arteri. "AARGHH!" Devi menjerit tertahan, menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang luar biasa.

"Maaf, Mbak. Maaf banget. Tapi kalau gak diikat, Mbak bisa kehabisan darah sebelum kita sampai di tempat aman," bisikku, tanganku yang berlumuran darahnya gemetar.

Aku melihat ke arah lobi basement yang gelap di kejauhan. Monster itu... Sang Ninja Assassin. Dia hanya stunned (lumpuh sementara). Baju Exoskeleton militernya pasti akan segera melakukan reboot sistem. Kami hanya punya waktu kurang dari dua menit sebelum dia kembali memburu kami dengan kecepatan kilatnya.

"Mbak gak mungkin bisa lari cepat dengan kaki gemetar begitu," kataku, memutar tubuhku membelakangi Devi, lalu sedikit berjongkok. "Naik ke punggung saya. Sekarang."

Devi terdiam sejenak. Jika ini hari biasa, dia pasti akan memaki dan menendang pantatku karena berani menyuruhnya digendong. Tapi malam ini, Sang Valkyrie tahu batasannya. Dengan sisa tenaga, tangan kanannya melingkar di leherku. Tubuhnya yang mungil tapi padat menempel di punggungku.

Aku mengaitkan kedua tanganku di bawah paha Devi, mengunci posisinya di punggungku. "Pegangan yang kuat, Mbak. Bebek ngenes ini mau lari marathon."

Aku bangkit berdiri. Berat badannya menambah beban di lututku, tapi adrenalin yang membakar nadiku membuat rasa lelah itu menguap. Aku berlari sekencang mungkin menerobos gerimis malam ibu kota.

Otakku berputar liar. Ke mana aku harus lari? Markas polisi? Terlalu jauh, dan mereka tidak akan percaya, atau lebih parah, mereka akan mati konyol dibantai monster itu. Rumah sakit? Terlalu terbuka. Aku butuh tempat yang RAMAISEMPIT, dan BERGERAK CEPAT. Aku butuh ratusan pasang mata untuk menyembunyikan diri kami, dan ruangan yang membatasi pergerakan akrobatik si Ninja.

Mataku menangkap papan nama bercahaya neon hijau di ujung jalan: Stasiun KRL Sudirman.

"Kita naik kereta, Mbak," napasku memburu, sepatu ketsku mencipratkan genangan air di trotoar.

Aku berlari menuruni eskalator stasiun yang sedang mati. Stasiun malam itu masih cukup ramai oleh para pekerja komuter yang baru pulang lembur. Aku melompati gate elektronik karena tidak punya waktu mengeluarkan kartu E-Money. Petugas stasiun berteriak, tapi saat dia melihat tubuh Devi yang berdarah-darah di punggungku, dia terdiam shock.

Di peron, sebuah KRL rute Bogor sedang membunyikan alarm keberangkatan. Pintu-pintunya mulai menutup perlahan. Tit... Tit... Tit... Tit...

"TUNGGU!" Aku mengerahkan sisa tenaga terakhirku. Sprint maut. Aku melompat menembus celah pintu gerbong ketiga tepat sebelum karet pintunya bersentuhan. BLAM! Pintu KRL tertutup rapat di belakang punggungku. Kereta mulai bergerak maju, meninggalkan peron stasiun.

Aku merosot jatuh ke lantai gerbong yang dingin, mendudukkan Devi dengan hati-hati di kursi prioritas yang kosong. Aku terengah-engah, paru-paruku serasa mau meledak. Keringat dan air hujan menetes deras dari rambutku.

Kami berhasil. Kami di dalam kereta yang bergerak.

Gerbong KRL itu cukup padat. Orang-orang yang sedang lelah, mengantuk, atau asyik bermain HP, tiba-tiba tersentak. Mereka menatap ngeri ke arah kami. Kaos putihku berlumuran noda merah segar. Lengan kemeja yang melilit bahu Devi basah oleh darah.

"Ya Tuhan! Mas! Mbaknya kenapa?!" seorang ibu-ibu berjilbab panik, berdiri dari tempat duduknya. "Ada yang bawa kotak P3K gak?!" teriak seorang bapak pekerja kantoran.

"K-kecelakaan motor, Bu... Pak..." aku berbohong dengan suara terputus-putus. "Tadi keserempet truk di jalan... Ambulansnya kejebak macet total... Makanya saya bawa naik kereta aja biar cepet sampai stasiun dekat rumah sakit..."

Alasan yang masuk akal di kerasnya jalanan Jakarta. Penumpang lain langsung bersimpati. Ada yang memberikan tisu kering, ada yang memberikan air mineral botolan padaku.

"Minum, Mbak," aku membuka tutup botol itu dan menempelkannya ke bibir Devi. Devi meminumnya sedikit. Wajahnya sepucat kapas. Dia menyandarkan kepalanya di kaca jendela KRL yang bergetar.

"Yo..." bisik Devi lemah, matanya sayu menatapku. "Lu... lu beneran nekat. Kalo lu gak melakukan itu tadi... pala gue udah putus."

"Mbak kan punya utang traktir saya seblak. Kalau Mbak mati, nanti yang bayarin siapa?" aku mencoba melawak, meski suaraku bergetar. Aku menggenggam tangan kanan Devi erat-erat. Tangannya sangat dingin.

Kereta melaju kencang menembus kegelapan malam, melewati stasiun-stasiun kecil. Suara gemuruh roda besi yang beradu dengan rel memberikan sedikit rasa aman. Di dalam kotak besi yang melaju 70 km/jam ini, dikelilingi puluhan manusia biasa, aku merasa ancaman maut itu akhirnya tertinggal di belakang.

Aku salah. Sangat, sangat salah.

BZZZTT... Lampu gerbong KRL tiba-tiba berkedip. Layar TV informasi di atas pintu kereta yang menayangkan iklan tiba-tiba mati total, berubah menjadi layar statis bersemut.

Udara di dalam gerbong yang tadinya sejuk karena AC, mendadak terasa mencekam. Bulu kudukku berdiri serentak. Ini bukan karena korsleting biasa. Ini adalah Electromagnetic Interference (Interferensi Elektromagnetik). Sesuatu atau seseorang dengan perangkat elektronik tingkat tinggi baru saja masuk ke dalam jangkauan kereta ini.

Lalu, dari arah dua gerbong di belakang kami (Gerbong 5), terdengar suara yang akan menghantui sisa hidupku.

Bukan suara ledakan. Melainkan suara jeritan panjang yang tiba-tiba terpotong oleh suara cipratan cairan yang mengerikan. CRAAASS! Diikuti oleh kepanikan massal.

Lihat selengkapnya