[POV: ARYO]
Pukul 21.35 WIB. Lokasi: Perkampungan Kumuh di Balik Rel Kereta.
Hujan turun semakin deras, seolah langit Jakarta ikut menangisi malam yang telah berubah menjadi ladang pembantaian ini. Air hujan yang dingin menampar wajahku, bercampur dengan darah yang mengering di hidungku dan keringat dingin yang mengucur dari pori-poriku.
Di punggungku, napas Devi semakin dangkal. Sangat dangkal. Tetesan darah dari lengan kirinya yang terluka parah terus mengalir, menetes melewati lilitan kain kemejaku yang sudah basah kuyup, jatuh ke atas genangan air di jalanan aspal yang rusak. Tik... Tik... Tik... Bunyi tetesan darah itu terdengar di telingaku seperti detak jarum jam raksasa. Hitungan mundur menuju kematian Sang Valkyrie.
"Yo..." suara Devi nyaris seperti bisikan hantu. Tubuhnya terasa semakin dingin di pelukanku. Cengkeraman tangannya di leherku mulai mengendur. "Gue... ngantuk banget, Yo..."
"Jangan tidur, Mbak! Buka matamu!" teriakku parau, kakiku yang pincang terus memaksakan diri melangkah menembus gang-gang sempit yang gelap. "Mbak udah janji mau ngomel-ngomel besok pagi di kantor! Kalau Mbak tidur sekarang, siapa yang bakal marahin aku?! Buka matamu, Devi!"
Untuk pertama kalinya, aku memanggil namanya tanpa embel-embel 'Mbak'. Aku tidak peduli lagi pada hierarki kantor. Aku hanya mempedulikan detak jantungnya.
"Dingin..." rintihnya pelan, kepalanya terkulai lemah di bahuku.
Kesadarannya mulai memudar (Syok Hemoragik akibat kehabisan darah). Manusia rata-rata memiliki 5 liter darah. Jika kehilangan lebih dari 20%, organ tubuh akan mulai gagal berfungsi. Aku tidak tahu sudah berapa banyak darah yang Devi hilangkan sejak di basement, tapi melihat wajahnya yang seputih mayat, waktuku mungkin tinggal sepuluh menit.
Aku tidak mungkin berjalan kaki sampai ke rumah sakit. Aku butuh kendaraan. Sekarang.
Aku keluar dari labirin gang kumuh itu dan tiba di sebuah jalan raya sekunder yang cukup sepi. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku melihat sebuah mobil sedan Honda Civic keluaran tahun 90-an terparkir di pinggir jalan. Tua, kusam, tidak ada alarm canggih. Target yang sempurna.
Aku menurunkan Devi dengan sangat hati-hati, menyandarkannya di dinding pagar batu bata. "Tunggu di sini lima detik, Mbak."
Aku berlari ke arah mobil itu. Aku melepas sepatuku, membalutkan kaos kakiku ke kepalan tangan kanan agar tidak terluka, lalu menghantamkan sikuku sekuat tenaga ke kaca jendela pintu pengemudi. PRANG! Kaca pecah berhamburan.
Aku membuka kunci dari dalam, masuk ke kursi kemudi. Mobil tua seperti ini tidak butuh chip immobilizer. Aku menunduk ke bawah setir, menarik paksa cover plastik panel kunci kontak. Puluhan kabel warna-warni menjuntai keluar. Otakku mengingat skema kelistrikan dasar DC 12 Volt. Kabel merah (Power/Aki) dan kabel kuning (Ignition). Aku mengupas ujung kedua kabel itu dengan gigiku, lalu menyatukannya. Lampu dashboard menyala redup. Lalu aku mengambil kabel biru (Starter) dan menggesekkannya ke sambungan tadi. Css-css-css-BROOOOM!
Mesin tua itu menderu hidup, mengeluarkan asap hitam dari knalpotnya. Berhasil! Mobil ini nyala dalam waktu kurang dari dua puluh detik.
Aku segera keluar, membopong tubuh Devi yang sudah setengah tidak sadar, dan membaringkannya di jok belakang. "Kita berangkat, Mbak. Bertahanlah," bisikku, menutup pintu belakang.
Aku melompat ke kursi kemudi, menginjak pedal kopling, dan memasukkan gigi satu. Tepat saat aku mengangkat kepalaku untuk melihat ke depan, mataku refleks melirik ke arah kaca spion tengah (Rearview Mirror).
Darah di sekujur tubuhku serasa membeku seketika.
Jauh di belakang sana... sekitar seratus meter dari posisiku, diterangi oleh lampu jalan yang berkedip-kedip di tengah tirai hujan yang lebat. Sesosok siluet hitam pekat sedang berjalan.
Bukan berlari. Berjalan. Langkah kakinya sangat santai, sangat tenang, seolah dia sedang menikmati jalan-jalan malam di taman. Topeng respirator logamnya memantulkan cahaya jalan. Lensa goggle-nya yang berwarna merah menyala di tengah kegelapan, menatap lurus menembus hujan, mengunci tepat ke arah mobilku.
Sang Ninja Assassin. Dia selamat dari tabrakan KRL seberat 200 ton. Monster ini menolak mati.
Panik meledak di dadaku. Aku menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban mobil botak itu berdecit keras bergesekan dengan aspal basah, menghasilkan asap putih sebelum akhirnya mobil melesat maju membelah hujan.
"Mati kau, Iblis," desisku, menggigit bibir. Aku memacu sedan tua itu dengan kecepatan 80 km/jam di jalanan kota yang licin. Wiper kaca depan bergerak putus asa menyapu hujan deras.
Aku melirik spion lagi. Jalanan di belakangku kosong. Sosok itu menghilang. Tapi aku tahu, iblis tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya berganti cara.
Benar saja. Tiga menit kemudian, saat aku berbelok memasuki jalan protokol yang lebih lebar menuju Rumah Sakit Pusat, terdengar suara raungan mesin ber-cc tinggi yang membelah tirai hujan. Suaranya melengking tajam, seperti jeritan banshee.
Aku melihat ke spion samping. Sebuah Superbike (motor sport balap) berwarna hitam legam, kemungkinan besar hasil rampasan, sedang melesat membelah jalan raya dengan kecepatan di atas 150 km/jam. Ban motor itu menyibak genangan air seperti speedboat. Dan yang mengendarainya adalah Sang Ninja.
Jaket Techwear-nya berkibar diterpa angin kencang. Tubuhnya merunduk sempurna di atas tangki motor, menyatu dengan mesin. Dia tidak lagi memegang pedang. Tangan kirinya memegang stang motor, sementara tangan kanannya...
Tangan kanannya mengangkat sebuah pistol taktis berwarna hitam dengan Suppressor (peredam suara) dan Laser Sight.
TZZZAP! Sebuah peluru menembus kaca belakang mobilku, melesat hanya beberapa sentimeter dari kepala Devi yang terbaring di jok belakang, dan menghancurkan kaca depan mobil hingga retak seribu. Serpihan kaca berhamburan ke wajahku.
"SIALAN!" teriakku, refleks menunduk.
Aku membanting setir ke kiri dan ke kanan, mengendarai mobil secara zig-zag (evasive maneuvers) melintasi jalur busway dan jalur reguler. Aku menerobos lampu merah, membunyikan klakson panjang, membuat mobil-mobil lain membanting setir dan menabrak trotoar.
Tapi Sang Ninja adalah malaikat maut di atas dua roda. Keterampilan berkendaranya di luar nalar. Dia meliuk-liuk di antara mobil dengan kemiringan yang hampir menyentuh aspal, tidak peduli jalanan sedang licin. Dia terus memangkas jarak.
TZZZAP! TZZZAP! Dua peluru lagi menghantam body belakang mobilku. Satu peluru menembus jok penumpang depan, merobek sandaran kepala persis di sebelah kiri telingaku. Dia penembak jitu. Sambil mengendarai motor berkecepatan tinggi, akurasinya tetap mematikan. Kalau aku mengemudi lurus lebih dari tiga detik, peluru berikutnya pasti akan bersarang di otakku.
Aku melihat papan penunjuk jalan: RUMAH SAKIT PUSAT - 2 KM.
Dua kilometer lagi! Sedikit lagi! Aku menginjak gas hingga mentok. RPM mesin tua itu menjerit meraung-raung di angka 6000. Kecepatan mencapai 120 km/jam.
Tiba-tiba, suara raungan motor Superbike itu terdengar berada tepat di samping kananku. Sang Ninja sudah mensejajarkan posisinya dengan pintu pengemudiku. Aku menoleh. Aku bisa melihat mata merah dari balik goggle-nya menatapku tanpa emosi. Dia mengarahkan pistolnya lurus ke kepalaku dari balik kaca jendela.
Tidak ada waktu untuk berpikir. Hukum Fisika Kedua: Massa yang lebih besar akan menang. Aku membanting setir ke arah kanan sekuat tenaga, berniat menabrak dan meremukkan motornya ke pembatas jalan beton.
Tapi Ninja itu sudah memprediksinya. Sebelum mobilku menyentuh motornya, dia melakukan manuver gila. Dia mengerem depan dengan keras, membuat ban belakang motornya terangkat (Stoppie), lalu menggunakan momentum itu untuk MELOMPAT dari jok motornya.