Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #35

Pemburu Sang Valkyrie Part 5

[POV: NARATOR]

Pukul 05.15 WIB. Lokasi: Persembunyian Rahasia (Safehouse), Kawasan Industri Terbengkalai, Jakarta Utara.

Hujan badai yang mengguyur ibu kota semalaman akhirnya mereda, menyisakan gerimis tipis dan langit subuh yang berwarna kelabu pucat. Di lantai tiga sebuah ruko industri yang tampak kosong dari luar, lampu neon putih berkedip-kedip menyinari sebuah ruangan yang sangat kontras dengan fasad kumuhnya.

Ruangan itu adalah pusat komando mini. Server berpendingin cair berdengung pelan di sudut ruangan. Beberapa monitor menampilkan kode enkripsi dan rekaman CCTV dari berbagai sudut kota. Di atas sebuah meja logam panjang, tergeletak koper-koper berisi persenjataan presisi tinggi, paspor palsu dari berbagai negara, dan tumpukan uang tunai yang tidak berseri.

Pintu besi ruangan itu terbuka dengan bunyi klik elektronik. Sesosok figur berpakaian hitam legam masuk dengan langkah gontai. Dia berjalan tertatih-tatih, sebelah tangannya bertumpu pada dinding, meninggalkan noda darah segar di cat putih yang mengelupas.

Sang Ninja Assassin, yang di dunia bawah tanah dikenal dengan sandi Kuro, akhirnya kembali ke sarangnya.

Dia menekan tombol di pergelangan tangannya. Suara mendesis terdengar saat segel vakum dari topeng respirator logamnya terbuka. Dia menarik topeng itu dan goggle merahnya dengan kasar, lalu melemparnya ke atas meja.

Di balik topeng mengerikan itu, wajahnya tidak terlihat seperti iblis purba. Dia adalah seorang pria ras Kaukasia-Asia di awal usia tiga puluhan, dengan rahang tegas dan rambut cepak. Namun, wajah itu kini pucat pasi, dipenuhi memar biru keunguan dan luka gores yang dalam.

Kuro mengerang menahan sakit yang luar biasa saat dia mulai melepas jaket Techwear exoskeleton-nya. Modul elektronik di jaket itu hancur berantakan, hangus terbakar dari dalam.

Saat jaket itu terlepas, kerusakan brutal pada tubuhnya terekspos. Kuro, sang pembunuh elit yang tidak pernah tersentuh peluru selama satu dekade karirnya, kini terlihat seperti baru saja digiling oleh mesin penghancur sampah.

Di dada dan perutnya, terdapat luka bakar berbentuk akar pohon berwarna merah kehitaman (Lichtenberg figures) bukti nyata dari sengatan listrik 220 Volt bertegangan tinggi yang menembus genangan air amonia di basement. Bahu kirinya membengkak parah, tulang selangkanya retak akibat benturan G-Force ekstrem saat KRL berhenti mendadak. Dan yang paling parah, sebuah luka robek yang sangat lebar di pinggang kanannya akibat benturan dengan palang baja portal terowongan dalam kecepatan 100 km/jam.

"Arghh... Bangsat..." Kuro mengumpat dalam bahasa asalnya, napasnya tersengal saat dia duduk di atas kursi bedah portabel.

Dia membuka kotak medis taktisnya. Tanpa anestesi, dia menyemprotkan cairan Bio-Gel koagulan langsung ke atas luka terbuka di pinggangnya untuk menghentikan pendarahan, lalu menggunakan stapler bedah untuk menyatukan dagingnya yang robek. KLIK. KLIK. KLIK. Setiap kali stapler itu menembus kulitnya, otot rahang Kuro mengeras hingga giginya bergemeretak. Rasa sakit ini di luar batas toleransi manusia normal, namun bagi prajurit hasil modifikasi genetik dan pelatihan neraka sepertinya, ini adalah rutinitas bertahan hidup.

Setelah membalut seluruh tubuhnya dengan perban bertekanan, Kuro bersandar di kursinya dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi dahinya.

Dia menatap pantulan dirinya di cermin retak di seberang ruangan. Harga dirinya sebagai pembunuh nomor satu di Asia, hancur lebur malam ini.

Misinya sukses. Target utama sang Jenderal dan Sang Valkyrie putri dari pemilik Laras Group telah dia eksekusi. Pisau kunai-nya telah menembus jantung gadis itu di ruang ICU. Tidak ada manusia yang bisa selamat dari itu. Kliennya akan puas. Uang jutaan dolar akan mengalir ke rekeningnya.

Tapi kemenangan ini terasa seperti kekalahan yang paling memalukan. Kuro telah membantai Jenderal dan puluhan pasukan elit bersenjata lengkap hanya dalam waktu kurang dari lima menit, tanpa menerima satu goresan pun.

Namun, saat dia memburu gadis itu... dia dipecundangi. Bukan oleh agen rahasia. Bukan oleh prajurit militer. Melainkan oleh seorang pria berpenampilan sipil kucel. Seorang pria yang tidak memiliki teknik bela diri, tidak memiliki senjata api, dan gerakannya lambat seperti kura-kura.

"Siapa pria itu sebenarnya?" batin Kuro menggeram. Emosinya mendidih setiap kali mengingat wajah pria itu.

Pria itu tidak menggunakan otot. Dia menggunakan dunia di sekitarnya sebagai senjata. Pria itu mengubah pipa hidran menjadi perisai, mengubah lantai basement licin menjadi perangkap listrik, menggunakan inersia KRL seberat 200 ton sebagai godam, dan menjadikan portal jalanan sebagai pisau guillotine.

Itu adalah malam dengan korban terbanyak yang pernah Kuro ciptakan, namun sekaligus malam di mana dia menerima kerusakan fisik terparah sepanjang hidupnya. Dia nyaris mati tiga kali di tangan seorang pria yang bahkan tidak memegang senjata tajam.

Lihat selengkapnya