[POV: ARYO]
Pukul 23.45 WIB. Lokasi: "Mega Depo" Supermarket Bahan Bangunan, Jalan Panjang, Jakarta Barat.
Malam ini, Jakarta tidak lagi memiliki bintang. Hujan badai kembali turun dengan brutal, menghantam atap seng bergelombang dari gedung raksasa seluas dua hektar di atasku. Suara rintik hujan yang memekakkan telinga itu menenggelamkan semua suara dari dunia luar, menciptakan sebuah isolasi absolut.
Mega Depo. Sebuah supermarket raksasa yang menjual segala macam kebutuhan konstruksi, perkakas berat, bahan kimia industri, hingga material baja. Lorong-lorongnya membentang panjang dengan rak-rak besi setinggi dua belas meter yang dipenuhi ratusan ton barang. Di siang hari, tempat ini adalah surga bagi para kontraktor. Di malam hari, setelah lampu-lampu utama dimatikan dan hanya menyisakan lampu darurat yang redup, tempat ini menyerupai labirin raksasa dari besi dan beton.
Dan malam ini, tempat ini adalah arena eksekusi.
Aku duduk di atas tumpukan sak semen di lantai tiga (area mezanin), menghadap ke seluruh penjuru lorong lantai dasar. Kegelapan memelukku. Hawa dingin dari beton basah menusuk kulitku, namun aku tidak merasakan apa-apa. Rasa sakit dari memar di rusukku, hidungku yang patah, dan lukaku yang dijahit asal-asalan, telah menguap.
Di dalam kepalaku, hanya ada satu gambar yang terus berulang tanpa henti: Wajah Devi yang seputih kapas, dan sebuah pisau kunai hitam yang menancap di dadanya.
Manusia memiliki batas mekanisme pertahanan psikologis. Ketika kesedihan dan keputusasaan melewati ambang batas maksimal, otak akan mematikan semua saklar emosi untuk mencegah kegilaan. Itulah yang terjadi padaku. Aku tidak lagi merasa takut. Aku tidak lagi merasa ragu. Kemanusiaanku telah kutinggalkan di lantai ruang ICU itu.
Malam ini, aku bukan Aryo si Office Boy. Aku bukan pria ngenes yang memikirkan cicilan motor atau tagihan Paylater. Malam ini, aku adalah sang pengadil. Aku adalah Iblis yang akan menuntut nyawa.
Aku melirik arloji di pergelangan tanganku. Pukul 23.58 WIB. Dua menit lagi.
Di pangkuanku, terletak sebuah alat berat yang sangat mematikan di jarak dekat: Industrial Powder-Actuated Nail Gun (Pistol Paku Mesiu Industri). Alat bermerek Hilti yang biasanya digunakan untuk memaku pelat baja ke beton padat. Alat ini tidak menggunakan kompresor angin, melainkan menggunakan selongsong mesiu kaliber .27 untuk menembakkan paku baja sepanjang 10 sentimeter dengan kecepatan peluru. Senjata ini berat, kasar, dan tidak memiliki toleransi. Persis seperti apa yang akan kulakukan malam ini.
Selain itu, di sekeliling pinggangku, melingkar sebuah sabuk taktis buatan sendiri yang berisi detonator Bluetooth, baterai lithium yang dimodifikasi, dan beberapa botol cairan kimia.
KLIK. Suara sekecil apapun di gedung sebesar ini akan bergema. Suara itu berasal dari pintu loading dock (jalur bongkar muat barang) di ujung utara gedung. Pintu baja rolling door itu ditarik perlahan ke atas, menyisakan celah setinggi setengah meter.
Sesosok bayangan hitam meluncur masuk melewati celah itu tanpa mengeluarkan suara gesekan sedikitpun. Dia berdiri di dalam gedung, perlahan menegakkan tubuhnya.
Sang Ninja Assassin (Kuro) telah tiba.
Dia masih mengenakan jaket Techwear hitam legamnya, meskipun aku tahu modul elektroniknya sudah hancur. Wajahnya kembali ditutupi oleh respirator logam dan goggle taktis merah yang baru. Di tangannya, sebilah pedang Ninjato baja karbon lurus berkilat memantulkan cahaya lampu darurat.
Dari atas mezanin, aku mengamatinya melalui layar tablet yang terhubung dengan sistem CCTV gedung (yang sudah kuretas dan kuambil alih kontrolnya).
Ninja itu sangat berhati-hati. Dia tahu ini adalah kandangku. Dia memindai sekelilingnya, langkah kakinya tidak menyentuh lantai dengan tumit, melainkan dengan ujung jari kaki, menghilangkan suara pijakan. Dia bergerak menuju lorong tengah (Lorong A - Cat dan Bahan Kimia).
Waktunya memulai pertunjukan.
Aku meraih mikrofon dari sistem Public Address (PA/Pengeras Suara) supermarket yang sudah kusambungkan ke posisiku. Aku menekan tombol bicara. Suaraku bergema dari puluhan speaker yang tergantung di langit-langit gedung raksasa itu. Berat, dingin, dan kosong.
"Selamat datang di nerakamu."
Kuro langsung membeku di tempatnya. Kepalanya mendongak ke atas, mencari sumber suara, namun gema dari speaker membuat suaraku seolah datang dari segala arah.
"Gue tahu lu orang yang perfeksionis," ucapku perlahan, membiarkan setiap kata meresap ke dalam egonya. "Lu datang ke sini buat ngebuktiin kalau lu adalah pembunuh terbaik. Lu mau ngiris daging gue pelan-pelan. Sayangnya... gue gak akan mati semudah Jenderal atau pasukan yang lu bantai semalam."
Kuro mendengus dari balik respiratornya. Suara mekanisnya menjawab tanpa rasa takut. "Kau bersembunyi di balik pengeras suara seperti tikus ketakutan. Keluarlah. Atau aku akan membakar tempat ini bersamamu di dalamnya."
"Silakan," balasku dingin. "Tapi sebelum lu bisa ngeliat gue, lu harus ngelewatin ujian fisika dasar gue dulu. Langkah pertama lu... menentukan sisa hidup lu."
Kuro memicingkan matanya di balik goggle. Dia mengabaikan ancamanku dan terus melangkah maju memasuki Lorong A. Lorong ini diapit oleh rak setinggi dua belas meter yang dipenuhi kaleng cat, thinner, dan pelarut kimia.
Sebagai seorang pembunuh elit, Kuro memiliki indera yang sangat tajam. Dia berhenti melangkah saat matanya yang terlatih menangkap sebuah kejanggalan di lantai. Terdapat sebuah kawat tipis tak kasat mata (tripwire) yang melintang di antara dua kaki rak, berjarak lima sentimeter dari lantai. Jika dia melangkah dan menyenggol kawat itu, sebuah mekanisme di atas rak pasti akan menjatuhkan sesuatu yang mematikan ke kepalanya.
Kuro tersenyum sinis di balik maskernya. Jebakan amatir. Gaya khas seorang sipil yang terlalu banyak menonton film Hollywood.
Dengan sangat elegan dan mudah, Kuro melangkahi kawat tipis itu, mengangkat kakinya melewatinya tanpa menyentuhnya sama sekali. Dia meletakkan kakinya kembali ke lantai keramik dengan aman. "Hanya ini kemampuanmu?" gumam Kuro meremehkan.
Dia salah. Kawat tripwire itu bukanlah pemicunya. Kawat itu hanyalah Decoy (Umpan).
Aku sudah mempelajari profil psikologisnya. Seorang profesional elit yang sombong pasti akan meremehkan jebakan pertama yang terlihat, dan akan secara otomatis melangkahinya. Aku tidak memasang jebakan pada kawat itu. Aku memasang pemicu tekanan Pressure Plate (lempengan sensor berat) tepat di titik pendaratan kakinya SETELAH dia melangkahi kawat tersebut. Dia menghindari jebakan palsu, dan mendarat tepat di jebakan yang asli.
KLIK. Keramik di bawah sepatunya amblas beberapa milimeter.
Mata Kuro terbelalak lebar. Dia sadar dia telah masuk ke dalam lapisan jebakan psikologis ganda. "Sial!!"
Sebelum dia sempat melompat mundur, mekanisme pegas di balik rak meledak. Bukan benda padat yang jatuh dari atas, melainkan dua buah selang industri dari kiri dan kanan rak yang langsung menyemprotkan cairan dengan tekanan 100 Psi tepat ke arah wajah dan dada Kuro.
Cairan itu adalah campuran Asam Klorida (HCl) pekat tingkat industri (pembersih kerak beton) dan cairan serbuk kaca.
SSSHHHHHHHH!!!! "AAAAARRRGHHHH!!!"
Kuro menjerit kesakitan dengan suara yang mengerikan. Asam pekat itu menghantam jaket dan topeng respiratornya. Bahan kimia itu bereaksi brutal, membakar kain, melelehkan karet respiratornya, dan menimbulkan asap berbau sangat menyengat.
Meski sebagian besar tubuhnya terlindungi pakaian taktis, cipratan asam itu berhasil mengenai bagian leher dan kulit di sekitar matanya yang tidak tertutup goggle. Kulitnya melepuh seketika. Paru-parunya dipaksa menghirup uap asam yang sangat mematikan, membuat kerongkongannya terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas.
Kuro merobek respirator logamnya yang mulai meleleh dan membuangnya ke lantai. Dia terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Paru-parunya terbakar. Visi matanya terganggu oleh rasa perih yang luar biasa.
"Itu untuk dada wanitaku yang lu tusuk," suaraku kembali bergema dari speaker, tanpa sedikitpun nada simpati. "Itu baru permulaan, Bajingan. Masih ada sepuluh ribu meter persegi di gedung ini."
Kuro menggeram seperti binatang buas yang terluka parah. Matanya memerah menyala oleh amarah murni. Ketenangannya hancur lebur. Dia kini tidak lagi berburu sebagai seorang profesional. Dia berburu untuk mencabik-cabikku.
Dia menendang rak cat di sebelahnya hingga penyok, lalu berlari menerobos lorong dengan kecepatan gila, mengabaikan rasa sakit di kulitnya. Kecepatannya masih sangat mengerikan, meskipun kakinya sedikit pincang.
Aku menekan layar tabletku, melacak pergerakan suhu tubuhnya melalui kamera termal yang sudah kupasang di beberapa titik rak. "Lorong C. Area Perkayuan dan Alat Potong," gumamku pelan.
Aku berdiri dari tumpukan semen di lantai tiga. Aku menuruni tangga besi darurat dengan sangat pelan, menuju ke lantai dua (area furnitur) yang menghadap langsung ke Lorong C.
Kuro berlari di Lorong C. Napasnya terengah-engah, pedangnya terhunus erat di tangannya. Matanya memindai setiap celah rak kayu balok, mencari bayanganku.
Tiba-tiba, dia mendengar suara derit logam dari ujung lorong. Di sana, berdiri sebuah Forklift industri berwarna kuning. Mesinnya tiba-tiba menyala sendiri, dan lampu depannya yang menyilaukan menyorot lurus ke arah Kuro. BROOOM!
Forklift itu melaju kencang ke arah Kuro, dioperasikan secara remote (jarak jauh) melalui modul radio RC yang sudah kusambungkan ke sistem gas dan kemudinya. Garpu besinya diturunkan setinggi pinggang, siap membelah tubuh Kuro menjadi dua.
Kuro tidak panik. Egonya mengatakan dia bisa mengatasi mesin bodoh ini. Dia menunggu hingga Forklift itu berjarak lima meter darinya. Dengan kecepatan kilat, dia melompat ke udara (seperti yang kulakukan di terowongan), berniat melompati garpu Forklift itu, mendarat di atapnya, dan membelah mesin kontrolnya.
Namun, dia lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan pria yang memuja hukum fisika. Aku telah memprediksi dia akan melompat. Aku sengaja menggunakan Forklift itu bukan untuk menabraknya, melainkan untuk memaksanya melompat ke zona udara tertentu.
Tepat saat Kuro berada di titik tertinggi lompatannya di udara (titik di mana dia tidak memiliki pijakan dan tidak bisa mengubah arah gravitasi), aku menekan tombol detonator di sabukku.
BAM! BAM! BAM! Tiga ledakan kecil meletus di langit-langit tepat di atas posisi Kuro. Bukan bom. Itu adalah peledak pemutus kabel penahan.
Sebuah jaring kargo raksasa yang berisi ratusan kilogram rantai baja kapal berkarat, paku beton, dan gir mesin yang selama ini digantung di langit-langit kegelapan, jatuh bebas menimpa area udara tempat Kuro melompat.
Hukum Gravitasi tidak bisa dilawan oleh kelincahan. Saat kau berada di udara tanpa pijakan, kau adalah benda mati.
Ratusan kilogram baja itu menghantam Kuro telak di udara. CRASSSHH! KRAAAAKK!
"ARRRGHHH!!!" Tulang bahu kanan dan tulang rusuk kiri Kuro hancur berderak tertimpa bongkahan gir besi dan rantai raksasa. Tubuhnya terhempas ke lantai beton dengan kekuatan yang membuat lantai bergetar. Hantaman itu begitu brutal hingga dia memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Pedang Ninjato-nya terlempar jauh dari genggamannya, bergemerincing masuk ke bawah rak kayu.
Forklift yang melaju di bawahnya menabrak tumpukan balok kayu dan berhenti total.
Hening. Hanya terdengar suara napas yang bergelembung darah dari balik tumpukan rantai baja. Kuro terkapar di lantai, tubuhnya setengah terkubur oleh puluhan kilogram rantai berkarat. Dia mencoba mengangkat rantai itu dengan tangan kirinya yang masih berfungsi, namun tenaganya mulai habis.
Dari balik kegelapan lorong di depannya, aku melangkah keluar.
Aku berjalan perlahan, santai, tanpa terburu-buru. Sepatu bot kerjaku berderap ritmis di atas lantai beton. Pistol paku Hilti menggantung berat di tangan kananku.
Kuro mendongak. Mata merahnya menatapku penuh kebencian yang menyala-nyala.
"Lu emang cepet, Bang," ucapku dengan suara datar, jarak kami kini hanya tersisa tiga meter. "Tapi lu terlalu percaya diri. Lu pikir kecepatan lu bisa ngalahin gravitasi? Di arena gue, kecepatan lu itu cuma angka yang masuk ke dalam rumus beban."
"Keparat..." Kuro meludah darah, giginya bergemeretak. "Mendekatlah... Aku masih bisa mematahkan lehermu dengan satu tangan..."
"Gue percaya lu bisa," balasku dingin.
Aku tahu, meskipun dia tertimpa rantai dan tulang rusuknya hancur, dia masih seorang Ninja Assassin. Kecepatan refleks tangannya di jarak dekat masih sangat mematikan. Jika aku mendekat ke jangkauan lengannya, dia bisa menarik pisau tersembunyi dan memotong leherku dalam satu kedipan.
"Makanya, gue gak mau main-main di jarak dekat lu."
Aku tidak melangkah lebih dekat. Aku mengangkat lengan kiriku, menunjukkan sebuah remote kontrol kecil dengan satu tombol merah. Remote kontrol derek (Winch) overhead crane yang biasa digunakan untuk mengangkat material berat di langit-langit Supermarket ini.
Aku menekan tombol itu.
WUUUSSSHHHH! Sebuah balok kayu jati solid berukuran 40x40 sentimeter dengan panjang tiga meter, yang sudah ku-gantung secara horizontal di langit-langit seperti bandul raksasa (Pendulum), berayun turun dari kegelapan di belakang Kuro.
Kuro tidak bisa menoleh ke belakang karena tubuhnya tertindih rantai. Dia hanya mendengar suara angin yang dibelah oleh massa yang sangat berat.
BAMMMMM!!!!!
Balok kayu seberat seratus kilogram itu menghantam punggung dan tulang belakang Kuro dengan kekuatan luar biasa. Suara patahan tulang punggung (Vertebrae) terdengar sangat jelas, kering, dan mengerikan.
Tubuh Kuro terlempar ke depan, merobek lantai beton, terbebas dari tumpukan rantai, namun harga yang harus dibayar adalah kelumpuhan total. Sistem saraf pusatnya terputus. Dari pinggang ke bawah, dia tidak bisa lagi merasakannya. Sang pembunuh tercepat di Asia itu, kini bahkan tidak bisa menggerakkan kakinya.
Dia terkapar tengkurap. Darah mengalir deras dari mulut dan hidungnya, membentuk genangan merah pekat di lantai. Jari-jari tangan kirinya mengais-ngais lantai beton dengan putus asa, mencoba merangkak ke arahku. Jika dia dalam kondisi prima, mungkin dia masih bisa bangkit dengan segala kehancuran ditubuhnya, tapi sisa-sisa luka kemarin terakumulasi dengan kehancuran malam ini. Matanya yang dulu penuh keangkuhan, kini memancarkan rasa sakit dan ketidakberdayaan yang absolut.
Aku berjalan mendekatinya. Kali ini, aku tidak ragu untuk masuk ke jarak dekatnya. Dia sudah tidak berbahaya. Dia hanyalah cangkang daging yang menunggu maut.
Aku berjongkok di sampingnya. Menggenggam kerah jaket Techwear-nya yang hancur, dan membalikkan tubuhnya secara kasar hingga dia telentang menghadap langit-langit gedung.
Dia mengerang parau. Matanya menatapku dengan kebencian, tapi napasnya sudah putus-putus. Kematian sedang menjemputnya.
Tapi aku tidak akan membiarkannya mati semudah itu. Kematian perlahan karena kehabisan darah terlalu mewah untuk iblis yang telah mencabut nyawa Devi.
"Gue nanya sekali lagi," suaraku sangat pelan, namun mengiris udara dingin di sekitar kami. "Siapa nama klien lu? Siapa yang nyuruh lu?"
Kuro tertawa, tawa yang bercampur dengan gelembung darah. "Kau pikir... aku akan bicara pada... Office Boy sepertimu? Kau... akan hidup dalam... ketakutan seumur hidupmu... Klienku... akan mengirim lebih banyak hantu... untuk memburu semua orang... yang kau kenal."