Musim Gugur 224 Shirena.
Ingat baik-baik tanggal ini, sebab dia akan jadi tanda bila kisah yang hendak kutuliskan pada gulungan bambu pemberian guru sekarang telah sampai atau mendekati puncak sekaligus pemungkasnya.
Awal kejatuhan Serindi Raya, negara baru yang berani menantang benua, usai menghantam titik balik ketika mapu pertama mereka mengembuskan napas terakhir lalu pengganti-pengganti dirinya berebut tahta.
Juga cerita tentang bagaimana diriku bersama saudara-saudaraku melambungkan nama kami di sisi mereka ….
***
“Empaaat!”
Lima tahun lalu, 219 Shirena.
Aku masih seorang murid di satu sekolah yang—oleh tradisi, menjadi—terlarang ‘tuk kusebutkan apa namanya hingga hari kelulusan tiba. Bahkan, berkat adat itu pula, nama beserta penampilan asliku juga ikut dikaburkan sementara ketika berada di muka umum.
Merepotkan memang, tapi mau bagaimana? Beginilah pembuka kisahku bersama saudara-saudara seperguruan di sekolah sebagai bakal saksi hidup atas kelahiran beserta kehancuran suatu negara sejak tahun tersebut ….
“Empat, kau malas-malasan lagi, hah?!”
Empat, merujuk pada urutan lulus saat ujian masuk sekolah ini setengah dekade silam, yang siapa sangka juga akan jadi panggilan abadiku selama di sini hingga hari kelulusan nanti. Semua orang tahu itu.
Karena aku nomor empat, tentu ada tiga lagi murid Guru yang punya gaya berpenampilan mirip bahkan boleh dibilang sama persis. Membawa caping bambu dan tali ke mana-mana, mengenakan kain penutup wajah, terus selalu memakai mantel khas. Serupa seragam, pendeknya begitu.
Apa lagi yang belum kuberi tahu?
“Saudara-saudaramu sudah pada sibuk di ruang baca. Selalu rajin, disiplin, pekerja keras dan berdedikasi tinggi dalam menuntut ilmu untuk bekal masa depan. Kau tidak ingin belajar dari mereka, Empat?”
Ah! Sekolahku kebilang ketat, benar-benar ketat.
Seketat apa? Nanti kita bahas lebih jauh ….
***
Hal lain, di samping status tidak biasa dengan sekolah ketat, pada tahun tersebut ada satu peristiwa yang secara teknis mengarahkanku dengan saudara-saudara seperguruan di sekolah serta turut andil dalam merancang akan seperti apa kami ketika lulus nanti. Kejadian yang, juga ingin kuakui pada bagian pembuka ini, telah mengubah caraku melihat guru sekaligus kepala sekolah kami di kemudian hari.
“Kau mau bolos lagi, Empat?”