Dulu, sebelum mendaftar ke sekolah.
Aku memang pernah dengar bila Guru Besar Wu atau kepala sekolah kami alias Guru Tua-ku punya segudang prestasi luar biasa di masa muda. Bahkan, kakekku secara tulus memuji bekas penasihat kanan tersebut dengan bilang beliau jenis orang yang diakui genius oleh para genius pada masanya—sewaktu membawaku kemari.
Namun, bidang yang kakekku sebut tempat berjaya beliau kala itu ialah falak atau astronomi dengan ilmu ukur ruang. Dua bidang yang setengah dekade ini terus kuserap dan kutekuni setengah mati dari Guru Tua.
Bukan alkimia klasik sama dunia obat-obatan ajaib macam ramuan keabadian.
Jadi aku kaget pas tahu beliau ‘diundang’ ke istana gegara ramuan terkutuk satu itu ….
“Penasihat Kanan Wu tibaaa ….”
***
Bulan berikutnya, aku dan saudara-saudaraku menginjakkan kaki di atas karpet istana buat pertama kali.
Sebagian dari kami memang punya niat ‘tuk mengabdi pada negara, tetapi siapa sangka apabila kesempatan itu ternyata datang jauh lebih cepat daripada dugaan semua orang. Aku, juga saudara-saudaraku, segera diperintah menyalin sekalian menerjemahkan banyak dokumen tua di Balai Pustaka Burung Api—tempat di mana diriku tidak sengaja menemukan catatan perjalanan semasa muda Guru Tua.
Kami diberi pangkat pustakawan sementara istana selama beberapa minggu sampai Guru Tua berhasil meramu ramuan ajaib tadi dan bebas memakai fasilitas Istana Kanan sesuka hati, hingga derajat dua dari ketiga saudaraku boleh mengganggu kegiatan di barak, keluar masuk gudang dengan lumbung, juga lalu-lalang sekitaran area-area sensitif lain guna memuluskan tugas tersebut.
“Kau belum selesai, Empat?”
“Menurut, El?”
Aku menjuling pas Saudara Ketiga menggangguku. Berkas di meja masih segunung, tapi dia dengan entengnya tanya apakah diriku sudah selesai apa belum padahal matanya sama sekali tidak rabun. Sebal.
“Aku cuma tanya,” dalihnya, lekas duduk sebelahku terus topang dagu memainkan batang pena dengan wadah tinta seperti biasa. “Gak usah melotot begitu.”
“Kak, kuyakin berkas yang kauurus di ruang sebelah juga masih bejibun bin segunung. Kenapa masih sempat-sempatnya buat main kemari terus menggangguku, sih?”
“Aku bosan.”
Ya. Bosan. Itulah andalan yang selalu kudengar satu minggu ini.
“Bosan? Aku juga bosan kau ganggu terus tiap hari, Kakaaak,” gemasku lantas coba abai pada kehadiran dirinya ketika itu, “huh. Buku-buku di sini sangat tua, aku lupa berapa kamus yang kupinjam ke sarjana di sebelah buat hasil rangkuman setipis di depanmu. Kak, daripada bengong, kenapa gak bantu adikmu ini—”
“Aku gak kemari buat pindah kerja, wei!” balas saudara ketigaku yang, kalian tahu, kala itu malah menggelayut ria di pinggiran meja, “cuma, Empat, biar kukasih kausaran sedikit sebagai orang yang lebih tua.”
“Apa?” Aku menoleh.
Saudara ketigaku kemudian berkata, “Terlalu bekerja keras begini juga gak bagus, santailah sedikit. Kita punya banyak waktu di sini. Jadi, salin saja semampumu dan jangan terbebani sama tugas Guru Tua. Kau paham?”