“Hoaaam ….”
Selain Balai Pustaka Burung Api di Istana Bate Kanan, area jelajahku selama Guru Tua menyiapkan ramuan keabadian untuk Bate meliputi seluruh distrik di Ibu Kota—termasuk sekian mil tanah lapang di luar tembok-temboknya. Keleluasaan yang sangat besar sebetulnya.
Akan tetapi, ke mana pun diriku pergi, gangguan mata kadang selalu berhasil membuntuti.
“Kau murid keempat Penasihat Kanan Wu, bukan?”
Model laki-laki berjubah gebyar dengan tambahan pretelan-pretalan lain yang tidak kalah mengilap ini, tiba-tiba saja muncul sehabis mulutku menguap. Sang Penasihat Militer Junior Kiri, Runibi. Alasanku menjauhkan diri dari lingkungan istana di luar jam kerja ….
“Siapa sangka dari empat murid beliau, dirimulah yang mewarisi kesederhanaan Guru Besar Wu ….”
***
Dua minggu sebelumnya ….
“Inikah murid-murid Penasihat Kanan Wu yang sangat terkenal itu?”
Ketika aku dan saudara-saudaraku pertama kali bertemu dengan Penasihat Junior Kiri di halaman Istana Bate Tengah, sewaktu ia bersama orang-orangnya baru saja kembali seusai menghadiri pertemuan di Astaka Puncak Naga—balai agungnya Istana Bate, tempat sang raja kota menjalankan fungsi kekuasaan.
“Diriku merasa terhormat. Kalian orang-orang beruntung yang membuat semua orang iri …,” ujarnya begitu menyapa kami, “sebab dapat berguru kepada empunya empu, dan tak seorang pun di Serindi ini belum pernah mendengar nama besar Penasihat Wu di masa jaya beliau.”
Benar-benar manis.
Sanjungan dengan puji-pujiannya terhadap Guru Tua sungguh sangat membuai. Seandainya saja saat itu diriku bukan jenis yang muak pada penjilat, mungkin aku pun bakal tergoda buat menjadikan orang ini karib.
Apalagi ‘kemurahan hati’ berupa ajakan bergabung yang ia ucapkan terang-terangan besama ambisi besar fraksi Selir Bonena terhadap Serindi Raya di masa depan pada perjumpaan tersebut nyatanya juga merupakan alasan dua saudara seperguruanku mati-matian membela dirinya saat konflik kekuasaan istana di kemudian hari.
Sedih, tetapi itulah yang terjadi.
“Tolong jangan bandingkan masakan koki di sini dengan hidangan istana ….” Sekarang, aku lebih penasaran kenapa lelaki flamboyan satu di depanku mau repot-repot berkunjung kemari. “Barang kali selera Anda takkan terpuaskan di tempatku, Penasihat Kiri.”
“Penasihat Kiri?”
Aku tersenyum.
Senyuman yang, kalian tahu, tidak punya maksud apa-apa sebetulnya. Akan tetapi, barang kali, telah diartikan lain oleh si pentolan Selir Bonena karena sebelumnya diriku malah memanggil dia dengan jabatan satu tingkat di atas jabatannya pada saat itu.