“Apa Guru berhasil?”
Penghujung Musim Panas 219 Shirena—hari di mana semua masalah dimulai, kalau boleh kusebut di awal.
Dengar, jika pertemuan dengan si flamboyan sudah menyebalkan sampai aku harus menyewa kamar di sebuah penginapan dekat gerbang kota maka ini biangnya. Biangnya, bi-ang-nya. Argh!
“Guru Tua masih di ruang sebelah, tapi kurasa sebentar lagi kita semua akan tahu—ah, ya, Tiga! Kudengar kau kedatangan tamu penting kemarin ….”
Kakak Ketiga menoleh padaku sebelum merespons pertanyaan Kakak Kedua.
“Ini soal Penasihat Junior Kiri, ‘kan …?” bisiknya, balik tanya sebelum lanjut berkata, “kalau benar itu bukan kemarin, tapi bulan lalu. Kak, kau lebih tahu dia daripada siapa pun di antara kita. Beri tahu adikmu prospek kalau bekerja padanya.”
Saudara keduaku selanjutnya melongokku yang ikut mendengarkan mereka sebelah Kakak Ketiga, menoleh ke Kakak Pertama sebentar, lalu celingak-celinguk memeriksa sekitar sekilas baru kemudian menjawab.
“Orang ini sebanding sama Prama Trara tambah delapan adik-adiknya—”
“Masa?!” timpal Kakak Ketiga setengah memekik, menarik mata semua orang ke arah kami seketika.
Aku tahu ia sengaja. Sengaja ingin mengakhiri obrolan pelan tersebut ….
***
Ketika Guru Tua selesai dengan ramuan ajaib beliau, suasana di ruangan lekas berubah senyap. Tidak sekaligus memang, tapi jelas kurasakan bahwa tekanan di kamar pribadi Bate kala itu pelan-pelan mulai menegang.
Bahkan, kulihat ada orang telan ludah begitu dayang pembawa nampan dan botol ramuan Guru Tua di atasnya melintas ke hadapan kami. Bisa kalian bayangkan segenting apa situasi di sana, bukan?
“I-ni ramuan keabadian?”
Akh! Aku tepuk jidat. Pertanyaan Prama Trara barusan merusak suasana.
Aku, saudara-saudara seperguruanku, dengan semua orang yang kutahu bukan pejabat kelas teri di sana sedang harap-harap cemas mau lihat bagaimana ramuan ajaib penambah usia bekerja dan dia malah tanya hal remeh begitu—dengan muka polos tanpa dosa pula.
Argh! Kalau saja dirinya bukan putra mahkota Serindi ….
“Bawahan tidak berani mengakui ini ramuan abadi,” jawab Guru Tua, terdengar rendah hati. “Hanya herbal penambah vitalitas biasa, Trara.”
“Hem. Kukira Anda diundang untuk membuat ramuan keabadian.”
Sialan! Jelas itu ramuan keabadian, Oi, Trara! Guruku cuma merendah supaya gak dikira enggak punya sopan santun di depan kalian, elah—seandainya suara hatiku ini terdengar pada waktu itu.