Catatan Keempat: Serindi

Saepul Kamilah
Chapter #5

Shorin

220 Shirena. Setengah tahun sejak ramuan keabadian Guru Tua terkenal dan—orang-orang juga sudah mulai lupa sepertinya, tapi ini malah menjadi bahan—pembuka keluhan atas beban-beban moralku bersama saudara-saudara seperguruan selama bekerja di istana. Ketika orang sudah tidak lagi membicarakan dosa lama kami. 

Sebab di tahun itu Bate Serindi mengambil langkah ekstrem dengan memerdekakan kotannya lalu menyebar berita ‘tuk membuka jalan invasi ke selatan, mendeklarasikan perang ke kota-kota terdekat, lantas menyeretku bersama saudara-saudara seperguruan sebagai perencana mereka.

Ya. Aku dan orang-orang sekolahku dipaksa jadi ahli strategi sama si durjana. Sebal, kami gak bisa protes sebab konon ini demi menolong Guru Tua. Cek! 

“Hah.” Biar kuhela napas sebelum lanjut cerita. “Kukira kita cuma akan berakhir di Balai Pustaka Burung Api macam pas Guru Tua meramu herbal. Aaargh ….”

Kenapa diriku harus menemani Kakak Pertama ke Kerajaan Nare? Ini sebetulnya alasanku meradang di kereta pada waktu itu. Aku tidak memasalahkan kemerdekaan Serindi atau keputusan Bate yang memaksaku dengan saudara-saudara seperguruanku jadi ‘pejabat sementara’ mereka—toh, berkat ‘ultimatum’ saat aku dan semua orang perguruan dipenjarakan itu pulalah kini diriku tahu kapan hari kelulusan tiba. Meskipun dampak lainnya kami juga jadi kehilangan setengah kebebasan buat sementara ….

“Trara sudah bilang dia gak bakal percaya ramuan keabadian lagi, Empat.”

“Tahu, kok, Kak. Cuma,’kan ….” Kujulingi orang di seberangku sejenak. “Aku gak mau membantu mereka menguasai dunia. Guru—”

“Guru Tua bilang menolong penjahat menjadi tiran cuma mendatangkan kemalangan, ‘kan?” sambung Kakak Pertama, mendengkus remeh di depanku. “Kau masih menganggap mereka musuh?”

“Bukan cuma masih, aku berat hati iniii ….”

“Hahaha.” Ia terbahak, lalu bersandar ke dinding gerbong. “Aku paham bagaimana perasaanmu. Bekerja pada orang yang jelas-jelas sudah menjebak kita memang berat, tapi baik kau ataupun aku juga saudara-saudara kita sama-sama belum punya daya tawar buat keluar dari situasi sekarang. Bersabarlah sedikit.”

“Kau enak tahun depan lulus,” celetukku, memalingkan muka ke luar jendela. “Aku yang paling lama, Kak.”

*** 

Ngomong-ngomong, aku tadi bilang membuka jalan invasi ke selatan. Bate tidak secara langsung mengatakan itu sebetulnya, dia hanya menyuruh para ahli strategi buat memikirkan cara ‘tuk menggaet dukungan orang-orang Kerajaan Nare—tempat yang sedang kutuju bersama Kakak Pertama.

Aku yang menduga ini salah satu langkah menuju invasi, kalau boleh jujur.

Kenapa? Karena dua setengah sampai tiga tahun lagi Kerajaan Nare beserta seluruh wilayahnya akan masuk ke peta Serindi begitu siasat kakak pertamaku berhasil. Kok, bisa? Mungkin itulah pertanyaan kalian, ‘kan?

Lihat selengkapnya