Catatan Keempat: Serindi

Saepul Kamilah
Chapter #6

Ritie

“Kau yakin kita gak perlu mengirim delegasi lagi, Kak?”

Musim Gugur 220 Shirena. Masih mengikuti jalan cerita Kakak Pertama. Setelah setengah tahun sebelumnya sibuk merapikan sisi selatan ‘pagar’ pertahanan Serindi lewat putri-putri Bate—jangan kira hanya Yuyin Trira yang ia jadikan alat politik, selain putri sah ada belasan anak selir pada waktu itu. 

Ini kenapa dia bisa mengatur sekian kota sekaligus. Paham? 

Menggunakan banyak orang ….

“Orang yang kita utus sudah mereka penggal terus kepalanya dikirim kemari, ‘kan?”

“Tahu. Cuma, apa kau gak mau melakukan apa-apa, Kak?”

“Bukan wewenangku,” jawabnya dari kursi kepala ahli siasat di tenda komando tersebut, “tapi orang lain ….”

Dan, kalian tahu apa, benar-benar kebetulan yang pas—aku selalu ingin ketawa tiap ingat kejadian hari itu. 

Begitu dia bilang orang lain, seseorang betulan muncul dengan menyibak tirai tenda komando dari luar.

Siapa? Prama Trara. Yang, datang dengan muka merah padam. Kalau kalian masih ingat hari aku dan saudara-saudaraku dipanggil menghadap usai ‘tragedi obat abadi’ tahun lalu, begitulah wajahnya sekarang. Persis. 

“Apa-apaan ini?” tanya sang putra mahkota, ia menerobos sampai ke tengah-tengah tenda bak seekor banteng gila lekas cekak pinggang di hadapan kepala penyiasat, dan napasnya masih menderu walau dia sudah berhenti ketika itu. Jika boleh kukomentari, Trara saat ini melampaui kata murka serta siap mengayun pedang kapan saja seandainya jawaban kakakku tak memuaskan. “Kepala Penyiasat, aku membayarmu untuk menyelesaikan masalah, bukan malah sebalikanya!”

Semua sudah gemetar dengar kalimat beliau, kecuali satu orang.

“Yang kulakukan persis permintan Anda barusan, Trara,” jawab Kakak Pertama, tidak bergeming meski dalam tekanan tangan kanan penguasa sama seorang calon bate. “Bukankah situasi kita dengan Ritie sejak awal sudah sangat jelas, penyiasatmu ini hanya menyediakan apa yang paling Serindi butuhkan.”

“Maksudmu?!”

Jujur, Trara menyuarakan pikiranku pas menanyakan itu. Bukan cuma diriku, kuyakin semua orang juga sama belum paham maksud Kakak Pertama. Apa yang paling Serindi butuhkan?

“Seandainya segelondong kayu menghalangi jalan, apa yang akan Anda lakukan?” Kakak pertamaku bangkit lalu berdiri samping Trara hingga mereka kini tak saling berhadapan, pun tidak saling membelakangi. “Tentu saja menyuruh kusir ‘membersihkan’ mereka, bukan?”

“Kau gila!” sergah sang putra mahkota, menghujat Kakak Pertama dengan telunjuk mencuat. “A-ayahandaku memintamu untuk meredakan amarah Ritie, bu—”

Sayang, ia sontak berhenti tatkala mata kakakku balas menatap padanya—padahal dari balik penutup muka.

“Dengan apa?” tanyanya kemudian, “Anda ingin diriku meredakan amarah mereka yang sudah mengibarkan bendera perang ke arah kita, dengan apa?”

“Pi-pikirkan!”

Lihat selengkapnya