Catatan Keempat: Serindi

Saepul Kamilah
Chapter #7

Kauro

“Hem ….”

Pertengahan Musim Semi 221 Shirena. 

Ingat pas kubilang pengepungan Ritie berlangsung selama musim dingin tahun sebelumnya sampai pengujung musim semi ini? Nah, sekarang aku mau membahas soal itu.

Bukan kejadian persisnya, tetapi bagaimana dia bisa berakhir dan siapa tokoh yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Kenapa kutulis begini, sebab kunci keberhasilan kampanye militer pertama Serindi ini bukan lagi kakak pertamaku melainkan adik seperguruannya. Kakak Kedua.

“Kau serius dia sudah menjatuhkan Kauro, Kak?”

“Aku gak yakin,” aku Kakak Pertama, waktu ia menyuruhku buat pergi menemui kakak seperguruan tukang kibulku satu itu. “Makanya kau kusuruh ke Kauro, Empat. Kalau anak ini benar sudah berhasil mendapatkan Ibu Kota Perdagangan Vu itu, kampanye di sini akan segera selesai.”

Macam yang ia bilang, alasan Ritie bertahan begitu lama lantaran masih ada aliran suplai yang membuat mereka sanggup menghadapi musim dingin walau telah dikepung dari sisi timur dan selatan serta digerogoti dari dalam oleh ribuan pengungsi lapar.

“Kita semua tahu sejak dulu Kerajaan Vu memang terkenal sama tiga pilar negara yang disebut segitiga tombak dan tameng emas,” lanjut kakak pertamaku, “Ibu Kota Militer Serindi, Ibu Kota Perdagangan Kauro, lalu Ibu Kota Pemerintahan Ritie.”

“Kak, secara gak langsung barusan kaumau bilang Serindi Raya cuma bakal berhasil kalau dua ibu kota sisanya ini sudah benar-benar jatuh ke tangan kita. Ya, ‘kan?”

“Kau selalu lompat ke kesimpulan langsung, Empat, tapi itu memang benar ….”

*** 

Lupakan teori Kakak Pertama soal segitiga tombak dan tameng emas, sebab kalian gak bakal percaya apa yang kutemukan waktu datang ke Kauro. Serius. Kalau saja ada catatan kejahatan paling besar di benua pada zaman Shirena, maka ini masuk salah satunya.

Jika saudara pertamaku merupakan seorang utilitarian penyabar, Kakak Kedua itu cenderung oportunis walau masih punya aturan—Kakak Ketiga pernah menyinggung ini di bab pertama—serta sangat pragmatis. Cara kerjanya cepat, benar-benar praktis, dan dampaknya instan.

Kalian tahu apa yang dia lakukan? Kakak keduaku membant*i seisi kota ‘tuk menakuti kota-kota lain hingga mereka semua menyerah ….

“Buat apa kau kemari?”

“Kakak Pertama yang suruh,” kataku waktu menemui Kakak Kedua di Istana Bate Kauro, “tapi dia cuma mau aku memeriksa kabar kemarin benar apa salah, itu doang.”

“Kau gak mau komentar soal—”

“Pertama, ini perang!” timpalku yang lantas mencari kursi buat rebahan, “apa pun langkahmu tentu gak bakal kau lakukan tanpa pertimbangan matang, ‘kan, Kak? Kedua, pangkatku di sini cuma asisten penyiasat. Bukan Asisten Kepala Penyiasat.”

Sengaja kuberi penekanan di sana, perbedaan jabatan kami.

“Kau mau bilang murid Guru gak kompeten buat menilai mana yang benar dan salah?”

Lihat selengkapnya