“Anak selir ….”
Awal Musim Panas 221 Shirena.
Dua kakak seperguruanku harusnya senang lantaran kampanye militer pertama mereka sukses besar, satu orang berhasil menerobos tembok Ritie setelah sabar selama setengah tahun sedang seorang lagi mencaplok Kauro meski dengan jalan menipu. Berkat usaha keduanya, Serindi kini benar-benar menelan Kerajaan Vu.
Pencapaian nan luar biasa, harus kuakui, meskipun masih kalah menarik sama lelaki gemulai yang lagi melintas di karpet merah Istana Bate Kauro dan mau kuceritakan sekarang. Penasihat Junior Kiri Runibi.
“Aku gak percaya Bate membiarkan putranya melambai begini, Kak.”
“Pelankan suaramu, Empat. Begitu-begitu dia saingan terberatnya Prama Trara di perebutan tahta nanti, terus fraksi ibu tirinya yang paling royal sama kita. Aku tahu kau sebal, tapi jaga nada bicaramu di depan mereka.”
Ini! Kalian dengar omongan kakak keduaku barusan?
Kesetiaannya pada fraksi Selir Bonena didasari materi. Sangat murah. Sialnya, meski gak setuju, aku mengerti cara kerja semacam itu di dunia yang menjunjung kuasa dan kekayaan semu ini.
Kuyakin ia akan berbelot kalau ada yang lebih royal daripada mereka ….
***
“Mendahului fraksi kanan membuat nama di hadapan Bate dan menjadikan pencapaian mereka efek domino dari pekerjaanmu di sini. Kepala Penyiasat, kau memang pantas menjadi ujung tombak kerajaan kita.”
“Anda terlalu memuji, Nyonya. Yang kulakukan hanya pekerjaan seorang bawahan, semua takkan ada apa-apanya tanpa kebaikan Penasihat Junior Kiri.”
Cih! Dia kerja sendiri, tapi orang lain yang panen pujian.
Terus terang, aku gak suka basa-basi busuk di balai pertemuan Istana Bate Kauro ketika itu. Selain culas sama penuh kepura-puraan, hedonisme yang mereka bawa benar-benar bikin sesak.
Sayang pekerjaanku di sana masih jauh dari kata selesai ….
“Kak, soal relokasi pen—”
“Eh, ya!” Kakak keduaku lekas berdiri. “Nyonya, hadirin sekalian, mumpung ingat. Aku ingin membicarakan langkah kita selanjutnya.”
“Kepala Penyiasat, bukankah kisa sekarang masih dalam suasana pesta?” timpal Penasihat Junior Kiri samping Selir Bonena, “selain memberi fraksi ibundaku basis operasi di sini, kemenanganmu juga telah mengamankan jalanku menuju tahta. Kenapa mesti terburu-buru?”
“Ah, Anda benar, Penasihat. Akan tetapi, saudara tuaku juga berhasil menduduki Ritie yang kini sudah jadi basis fraksi Prama Trara. Menimbang jasanya sewaktu menarik putra-putra Nare agar memihak kepada Serindi tahun lalu, bukankah kita masih ketinggalan jauh?”
“Hem.” Gaya si flamboyan waktu melipat tangan dan menarik telunjuk ke bibir benar-benar geli. “Aku tidak bisa menampik pencapaian kakak tuamu dari segi itu. Kepala Penyiasat, lantas apa saranmu untuk langkah kita ke depannya?”
“Penasihat, Nyonya. Hematku ….”