Catatan Keempat: Serindi

Saepul Kamilah
Chapter #9

Terabaaas!

Musim Gugur 221 Shirena.

Tajuk bahasan kali ini, ingin berbakti meski tak dipahami. Kini giliranku mengikuti jalan cerita Kakak Ketiga, setelah ia berhasil menghimpun ‘kekuatan’ sekolah kami ‘tuk menyelamatkan Guru Tua—jadi jangan tanya kenapa tiba-tiba kukasih tajuk padahal belum ada apa-apa.

“Sekarang, aku harus mulai dari mana?”

“Kau bisa cerita dari pas ikut Kak Rui ke Nare,” ujar orang yang mau kukisahkan, menentukan topik diskusi sebelum kami membahas langkah-langkah politik Ritie. “Aku penasaran cara saudara tua kita satu itu menjaga Shorin dari para penyerang kemarin, Empat.”

Pilihan yang, tentu saja, sontak membuatku menjuling ke kiri.

“Kau serius mau dengar soal cara Kak Rui menyuruh mereka putar balik waktu mau menyerbu Shorin, Kak?”

“Kenapa kau melihatku begitu, memang bagaimana cara dia menghalau mereka?”

“Hah.” Aku hela napas. “Baiklah, tapi jangan kaget ….”

Kudekatkan mulut ke kupingnya dan ….

“Serius! Aku baru tahu.”

“Prinsipnya bikin masalah sendiri buat diselesaikan sendiri, teknik pencitraan yang pernah dibahas Guru Do.”

“Aku tahu metodologinya, Empat. Cuma, kukira kita berempat pernah sama-sama sepakat buat jangan sampai memakai cara-cara kotor atau meni—”

“Kau belum dengar aksi Kakak Kedua di Kauro, ya, Kak?”

“Soal dia membant*i seisi kota buat menakuti kota-kota lain itu?”

Aku mengangguk sekalian mendelik, curiga bahwa saudara seperguruan sebelahku ini cuma lagi menggodaku dan pura-pura gak tahu apa-apa doang—sebetulnya. Hem.

*** 

Alasan Kakak Ketiga penasaran pada metode Kak Rui, yang memang gak semua orang tahu, kala itu mungkin gegara tugas yang ia emban selepas pengangkatan Bate Ritie. Ambas Trara.

“Kau mau menyurati orang-orang Tzudi biar mereka gak menyerang kita dulu, Kak?”

“Tadinya,” aku saudara ketigaku, topang dagu di meja kerjanya, Kantor Muri Distrik Barat Ritie. “Cuma pas tahu Kak Rui sekongkol sama orang-orang Nare aku jadi ragu, soalnya kita kadung jadi penjahat gegara ulah Kakak Kedua di Kauro.”

Paham. Serindi kini memang musuh bersama satu benua, permusuhan terhadap kami kali ini bukan lagi pura-pura macam serbuan orang-orang Nare ke Shorin setahun sebelumnya. Cek! Dan terima kasih ‘tuk taktik gila kakak keduaku, berkat dirinya kami saat itu sudah menjelma jadi momok nomor wahid.

Lihat selengkapnya