Catatan Keempat: Serindi

Saepul Kamilah
Chapter #10

Mimpi di Siang Bolong

“Empaaat!”

Aku bergidik dengar jeritan Kakak Kedua waktu ia tiba-tiba mendatangi tempat kerjaku, Kantor Muri Distrik Barat Ritie, bulan ketiga Ambas Trara duduk di singgasana bate kota bekas ibu kota pemerintahan Kerajaan Vu tersebut. Sebab sebelum dirinya, hari yang sama, Kak Rui juga meneriakiku mencari Kakak Ketiga.

“Mana si Tiga, hah?”

Aku menoleh lesu, kemudian kutunjuk ruangan tempat kakak dan adik seperguruannya lagi bicara serius.

“Di sana dia rupanya ….”

Alasan dua orang itu datang jauh-jauh ke Ritie sudah pada kita semua tahu, aliran dua pertiga populasi Serindi ke bekas ibu kota pemerintahan Kerajaan Vu ini. Ya, soal massa yang tetiba berbondong-bondong mengungsi kemari sejak setengah bulan sebelumnya. Begitu.

“Ah! Bagus kalian keluar. Tiga, jela—”

“Dia sengaja menarik massa ke Ritie buat membantu kampanye kita di Serindi sama Kauro,” timpal Kak Rui, pasang badan buat saudara ketigaku sekalian menggeser Kakak Kedua supaya jangan menghalangi jalan. “Kau harusnya senang sebab lumbung kita bakal lebih hemat musim dingin nanti.”

“Apa?!” Saudara keduaku melongo dengar keterangan tersebut, tangan dan mulutnya sama-sama terbuka terus kedua matanya pun setengah terbelalak. “Ba-bagaimana ceritanya penduduk kotaku berkurang, tapi aku kudu senang gegara kau bilang lumbungku bakal hemat di musim dingin besok yang belum tentu benar, hah?”

Kak Rui dan Kakak Ketiga kompak menoleh ke Kakak Kedua.

“Tiga, kau jelaskan sendiri padanya,” pinta saudara seperguruan tua kami pada adik keduanya, “kalau dia itu ternyata bebal, biarkan saja.”

Dalih kakak ketigaku pada dua saudara seperguruannya sederhana. Jika penduduk dua kota di timur laut dan tenggara Ritie berkurang, maka keduanya bisa mengalokasikan sisa lumbung mereka buat melanjutkan agenda kampanye masing-masing tanpa takut biaya pengeluaran sama tidak ada pemasukan selama musim dingin.

Dan, dengan alasan ini pula Kakak Ketiga juga meminta dua kakak seperguruannya supaya membantu dirinya meyakinkan atasan mereka kalau semua kebijakan berani yang ia ambil setengah musim gugur terakhir masih berada di koridor kepentingan Serindi Raya.

Meskipun jelas tampak tidak memihak kepada penguasa ….

*** 

Lihat selengkapnya