Tahun baru 222 Shirena.
Saatnya merangkum apa yang telah kakak ketigaku lakukan mulai tiga bulan ke belakang sampai musim semi tahun ini, atau persisnya siapa-siapa saja yang sudah berhasil ia kelabui selama kampanye formasi segitiga emas sejak musim sebelumnya berlangsung—catatan: aku aslinya malas membahas dua kota di tenggara sama timur laut, tapi bagaimanapun mereka masih bagian dari pekerjaan. Paling tidak sampai diriku lulus, kurasa.
Mulai dari blokade Tzudi terhadap Serindi di sisi barat Ritie dengan membentangnya tembok sepanjang utara hingga selatan, maksudku dari batas selatan Kerajaan Pi di utara sampai batas utara Nare di selatan.
“Utusan Tzudi datang buat mengembargo kita, Kak.”
“Ya, aku dengar. Telik sandi tadi membacakan laporan mereka.”
“Maksudku tembok yang mereka bangun musim dingin kemarin sudah jadi,” sambungku, menjuling gemas campur sedikit kesal pada respons acuh tak acuh kakak ketigaku di mejanya barusan. “Kalau embargo ta—”
“Itu bagus buat kita!” sambarnya, sudah balik merebah dan tumpang kaki. “Perang lawan Tzudi gak mungkin pecah selama putusan ini kita biarkan, terus orang-orang yang kusebar sampai perbatasan juga enggak perlu lagi takut diserang mendadak, ‘kan?”
Hem, terus terang aku tidak bisa menyangkal metodenya.
“Sikap santaimu benar-benar menakutiku, Kak.”
“Tetap tenang itu syarat seorang penyiasat, terus panik cuma gegara lawan ‘ngelempar pancing’ juga gak bikin dopamin kita meningkat.”
“Lempar pancing?”
“Mereka mau lihat reaksi kita,” jelas Kakak Ketiga, “apa yang bakal kau lakukan pas embargo ini keluar ….”
Berdasarkan apa yang kudengar darinya kala itu, taktik pertahanan Ritie ialah dengan membiarkan segala jenis provokasi lewat sampai derajat penambang sama para petani di perbatasan berhasil panen bijih dengan bahan-bahan pangan buat isi gudang. Hem.
Kedengaran mustahil memang, tapi itulah yang betulan terjadi hingga ia lulus tahun depan.
Hal lain, sementara Kakak Ketiga terus bermain dengan gaya santainya dua kakak seperguruanku tengah habis-habisan berusaha mencengkeram target kampanye mereka lewat berbagai cara.
“Kudengar Kak Rui berhasil bikin Aliansi Anti-Shorin pecah.”
“Dia bakal langsung menyerap mereka pas suami Yuyin Trira gugur. Empat, kalau kau niat melewati Kak Rui pahami bagaimana caranya menyusupkan anak-anak gadis Pu ke tiap kota di perang saudara ini sehabis berhasil memanas-manasi mereka dengan kabar pernikah—”
“Aku ada di sana pas Kak Rui menulis surat buat para bate itu, Kak.”
Siasat kakak pertama kami, bikin masalah buat diselesaikan sendiri—pernah kusinggung di bagian sebelum ini.
Siapa yang tidak tahu politik adu domba Kak Rui? Kakak Kedua bahkan berkomentar kegilaannya masih jauh lebih berbelaskasihan ketimbang siasat hasut sana sini tersebut. Satu sisi kusetuju. Walau pada praktiknya diriku juga menentang langkah-langkah yang ia ambil.