Masih di 222 Shirena.
Awal musim gugur. Ini cerita pas saudara seperguruan keduaku melepas caping sama penutup wajah, atau kata lainnya lulus. Ya, catatan tentang hari kelulusan si tukang kibul.
Ketika pencapaian kampanye besarnya di utara tiba-tiba ‘disalip’ oleh prestasi Kak Rui di selatan ….
“Apa kau bilang tadi, Empat?’
“Kak Rui kirim surat, isinya laporan kalau Nare sudah menyerah.”
“Ma-maksudnya menyerah ….” Saudara seperguruan, kakak juga adik tingkat, guru-guru sekolah, dan semua orang yang hendak menghadiri acara Kakak Kedua sontak silih toleh dengar kabar yang kubawa. “Kau eggak lagi bercanda, ‘kan?”
Mereka meragukan kabar tersebut.
Spontan, karena dapat reaksi begitu ditambah malas ngomong panjang lebar, gak pakai pikir kuasongkan surat telik sandiku pada mereka. Salinan laporan Kak Rui yang waktu itu dokumen aslinya tengah diantar ke istana.
Tahu apa reaksi Guru Do setelah baca isinya?
“Kita harus ke Nare—sekaraaang!”
Semua orang, bukan hanya Guru Do dengan orang-orang sekolahku saja, bereaksi serupa. Lekas ambil kuda ‘tuk kemudian berbondong-bondong menemui Kakak Pertama dan batal menghadiri acara Kakak Kedua ….
***
“Cuma kalian berdua?”
“Kak—”
Dampaknya, perselisihan antara dua saudara seperguruanku itu pun kian tajam.
Di bab-bab awal aku pernah bilang saudara-saudara seperguruanku akan terlibat konflik di istana, ‘kan? Nah, ini pembukanya. Kakak Kedua dan Pertama menjadi makin berseberangan meskipun mereka memihak orang yang sama usai ‘insiden’ tersebut ….
“Gak usah bilang apa-apa. Tiga, Empat, cuma kalian saudara-saudara seperguruanku. Dan cuma kalian berdua yang benar-benar kuanggap saudara ….”
Semenjak hari itu ambisi Kakak Kedua pun makin tidak terbendung, dan kalian tahu, rasa kecewa pada semua orang ini lanjut mendorongnya ‘tuk segera meratakan sisa wilayah Pi kemudian bersiap di perbatasan Nadi—pelampiasan yang terlampau ekstrem, apalagi setelah langkah-langkah nekatnya barusan ia juga jadi semakin menjauhkan diri dari kami. Cek!
Dua bulan kemudian, pengujung musim gugur, aku dan Kakak Ketiga sepakat buat bagi tugas demi menarik saudara seperguruan tukang kibul kami agar mau kembali. Maksudnya balik membela kepentingan bersama serta tidak mendahulukan ego. Tak masalah beda pilihan sama Kak Rui, tapi tetap memihak pada ‘kebenaran’ juga bersedia menukar tanda jasa yang memang sejak awal kami kumpulkan guna menyelamatkan Guru Tua.
Namun, kalian tahu apa respons yang kami berdua terima?
“Aku sekarang sudah jadi penasihat kanan, Empat.” Dia malah mengeraskan hati dan menukar tanda jasanya dengan mengambil posisi yang ditawarkan partai oposisi. “Sekolah gak perlu mengkhawatirkan diriku lagi.”
Sialnya, walau sudah dengar jawaban si tukang kibul aku juga tidak bisa lekas pulang.
“Kenapa kau masih di sini?” tanyanya, sehari pascaputusannya ‘tuk jadi ujung tombak fraksi Selir Bonena dan tangan kanan Bate Runibi bulat. “Kukira ka—”