Catatan Keempat: Serindi

Saepul Kamilah
Chapter #13

Kampanye Nadi

“Seraaang!”

Musim Semi 223 Shirena.

Pekik orang-orang Serindi membuka hariku diikuti denting dengan letupan-letupan senapan lawan mereka, tentara Kerajaan Nadi. Sekian ribu serdadu seketika gugur, tetapi tidak menciutkan nyali prajurit-prajurit lain yang datang menerjang kemudian. 

Suasana gaduh yang membuatku sangat muak—jujur saja.

“Kasim Oh.”

“Kepala Penyiasat?”

“Kudengar tadi malam kakakku mengirim seseorang, siapa dia?”

Kasim Oh, suruhan Kakak Ketiga dan Pertama buat mengawasiku yang kini sudah ganti majikan, tepuk tangan dua kali. Prok-Prok! Isyarat pada prajurit di belakangnya agar membawakan ‘penyusup’ yang kumaksud.

“Wanita?”

Sang kasim toleh kanan kiri.

“Ya, ya, baiklah,” kataku sembari mengibaskan tangan dan tumpang kaki di kursi kepala penyiasat depan tenda komando, “aku gak tahu pasti alasan kakakku mengirim seorang wanita buat menyusup kemari, tapi kuyakin itu gegara para prajurit Ritie benar-benar sudah diserap sama Pu. Benar, ‘kan, Nona?”

Delikan gadis itu membuatku tersenyum.

“Aku suka caramu melihatku, beringas dan menantang. Sayang kau masih sekutu—Kasim Oh! Tolong ambil gulungan di meja siasat kita terus kasih ke gadis ini. Kau akan mengirim pesanku pada Kakak Ketiga ….”

Selain kampanye Kak Cu di utara, tahun tersebut juga jadi panggung kakak ketigaku bersama bate bonekanya di kerajaan kecil mereka: Ritie buat unjuk gigi—terutama Kakak Ketiga. 

Kenapa? Sebab pasca-dua saudara seperguruan kami menukar tanda jasa dengan pangkat dari kekaisaran serta terang-terangan saling menunjukkan permusuhan, dialah satu-satunya harapan sekolahku ‘tuk membebaskan Guru Tua dari jerat eksekusi dua tahun mendatang.

Jangan tanya soal diriku ….

*** 

“Lapooor! Kepala Penyiasat, Penasihat Kiri memanggil Anda ….”

Hari-hariku musim semi tahun lalu itu tidak terlalu monoton sebetulnya, kegiatanku juga tidak segabut musim dingin sebelumnya. Namun, sikapku yang tidak pernah mau bekerja sama dan kadang ‘menghalang-halangi’ kampanye Kakak Kedua memang betulan menyebalkan. Aku sadar.

Apalagi sekian minggu berlalu dan perang melawan Nadi sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda bahwa akan ada kemajuan ….

“Katanya kau mencariku, kak?”

“Ya—sini-sini!” Kak Cu buru-buru menarik lenganku agar bergabung bersama para bura di tendanya. “Aku sama orang-orangku sedang menghadapi masalah serius. Lihat formasi pasukan kita, Empat.”

Lihat selengkapnya