“Kasim Oh.”
“Kepala Penyiasat?”
“Berapa uang yang kita bawa?”
Akhir Musim Semi 223 Shirena.
Lupakan bagaimana sibuknya saudara-saudara seperguruanku mengatur ‘kota-kota’ mereka di selatan dan aksi kakak gilaku yang makin brutal di perbatasan Nadi, sebab mulai dari sini aku ingin menceritakan diri sendiri.
Bagaimana aku, Kepala Penyiasat Kedua Kekaisaran Serindi Raya pada tahun keempatnya tersebut, mondar-mandir di halaman kerajaan lain. Menganggur dan tidak punya kesibukan.
Maksudku hari kelulusan Kakak Ketiga tinggal menghitung hari sampai musim gugur tahun ini, dan aku sudah tidak punya apa-apa lagi buat diceritakan tentang mereka. Kak Rui masih akan sibuk di Nare beberapa bulan ke depan terus Kak Cu sama pasukannya juga bakal lanjut menyeruduk perbatasan Nadi.
Apa lagi yang mau kubahas? Tidak ada.
“Isi gudang Penasihat Kiri Cu semua di gerobak kita, Kepala.” Tentu saja, selain apa-apa yang mau kulakukan bareng Kasim Oh bersama unit spesial kemarin sebelum bertemu Kakak Ketiga di kantor kongsi dagang Kota Kipi Kerajaan Tzudi musim gugur nanti. “Sesuai kata Anda ….”
***
Kak Cu pernah bilang dia mau aku memetakan formasi musuh. Jadi, inilah responsku atas permintaan si tukang kibul. Mengosongkan isi lumbung lalu membawa unit khususku pergi ke barat daya.
Aku tahu kalian heran kenapa kami bukan pergi ke barat atau barat laut saja, ya, ‘kan? Toh, di peta pangkalan lawan perang Serindi dan saudara seperguruan keduaku saat ini memang ada di dua titik tersebut. Betul.
Namun, ini bagian dari rencana. Jadi tolong simpan penasaran kalian itu untuk nanti ….
“Kasim Oh.”
“Kepala Penyiasat?”
“Aku yakin Kak Cu akan langsung memburu kita pas berita soal lumbungnya yang sekarang kosong tersebar, menurutmu berapa lama dia akan mengirim pasukan buat menyusul kemari?”
Kasim Oh toleh kanan kiri sebelum lanjut mendekat.
“Kepala …,” bisiknya yang setelah itu juga malah tanya tentang hal lain, “Anda yakin rombongan kita benar-benar akan bisa lolos pemeriksaan di sini?”
Cih! Aku bisa maklum, tapi tetap sebal dengar pertanyaan Kasim Oh barusan.
Penjaga yang sedang memeriksa gerobak kami sekarang, tentara-tentara di perbatasan tenggara Nadi dan timur laut Tzudi ini, memang kelihatan garang sama bukan tipe yang mudah diajak bicara. Jika orang tua sebelahku takut kami dicurigai gegara seragam tentara Serindi di gerobak belakang, diriku tidak bisa bilang apa-apa.