“Selamat datang ….”
Masih di perjalanan menuju Ibu Kota Perdagangan Tzudi, akhir Musim Panas 223 Shirena.
“Selamat datang, Pelanggan.” Ketika rombongan ekspedisi tiba ke sebuah kota yang terletak tepat di tengah-tengah antara Ling dan tujuan kami, Kipi. “Penginapan ini adalah satu dari sekian terbaik di Puse, Anda boleh pesan apa saja di tempat kami tanpa takut apa-apa—termasuk ….”
Pelayan yang menyambutku mendekatkan diri sebelum lanjut berbisik.
“Layanan kamar spesial bersama wanita-wanita terbaik dari Rumah Bordil Sepuluh Mawar, Tuan.”
“Cuma itu?” tanggapku atas tawaran tersebut, betulan tak tertarik. “Apa dandananku receh sampai kau tawari hal remeh begitu, hah?”
“Pe-pelanggan, bu-bukan maksud—”
“Ada apa ini?!” sela seseorang, wanita, tidak muda pun tidak kelihatan tua, tipikal perempuan dewasa dengan pembawaan anggun meski tanpa busana mencolok, muncul dan tiba-tiba menengahi kami.
Pelayan tadi segera sembunyi ke belakangnya. “Bos, pelanggan ini—”
“Hum?!” Hebat, delikannya langsung membuat si pelayan ciut. “Diriku bersalah karena gagal mendisiplinkan pegawai,” ujar si wanita sambil memberi hormat, “tapi Anda juga berlebihan sebab berpura-pura sebagai jelata di tengah hari bolong. Mohon jangan mempersulit tempat sederhana kami, Tuan Pelanggan.”
Menarik, aku suka kesan yang ia tinggalkan.
“Kenapa kau berpikir diriku seorang pejabat, Nyonya?” tanyaku kala itu.
Yang, kalian tahu, mendatangkan salah paham dan masih kusesali sampai sekarang. Perempuan satu di depanku tak pernah menyebut kata pejabat, tapi karena kecenderunganku yang tinggal lama di istana aku jadi langsung berpikir ke sana. Dan, ini masalah.
Wanita itu membalas, “A … kukira tadi mulutku hanya bilang pura-pura sebagai jelata. Masalah Anda ternyata seorang pejabat yang menyamar, pemilik beserta para pelayan di penginapan sederhana ini akan berusaha tutup mulut serapat mungkin. Anda tidak perlu cemas.”
Mampus! Aku langsung kikuk. Tidak tahu harus bersikap bagaimana di pengalaman pertamaku itu.
Bagiku berusaha menjelaskan hanya akan membuat semua orang curiga dan makin memegang prasangka kuat-kuat, tetapi bila kubiarkan pun itu juga bisa jadi masalah tak terduga di kemudian hari. Pikirku.
Apa yang akan kalian pilih jika di posisiku? Menjelaskan diri atau biarkan saja ….
“Tolong jangan dipikirkan, Tuan.”
Beruntung. Si pemilik penginapan ternyata pengertian, meski senyum anehnya tampak bak seringai di mataku yang terhalang kain penutup wajah ini. Hem.
“Terima kasih,” balasku berusaha jaga wibawa, “kami datang dari Ling, tolong atur akomodasi buat ….”
***
Alasanku singgah di Puse pengujung musim panas tahun lalu bukan hanya perjalanan yang masih separuh, tapi juga peristiwa sejarah yang memang sedang kucermati ketika itu.
Langkah Kakak Ketiga ….
“Kalian sudah dengar kabar, pasukan ketiga Serindi sudah bergerak dari timur.”