Musim Panas 224 Shirena.
Balik ke kesibukan di Ritie.
Ya. Aku kembali lagi ke kerajaan kecilnya Ambas Trara ini musim dingin tahun kemarin, dua bulan usai janji temu dengan Kakak Ketiga di Kota Kipi. Huh ….
“Penyiasat.” Sekarang, dirikulah penyiasat pertama di ‘taman bermain’ putra bungsu Mapu Serindi tersebut—paling tidak sampai hari kelulusanku musim gugur nanti. “Apa dirimu sudah dapat ide bagaimana kita akan mengalahkan Kak Prama dan Bekas Penasihat Runibi musim ini?”
Meladeni bocah belasan tahun dengan senyum semerekah ceri di musim mekar mereka.
“Pu.” Kuhela napas sebelum lanjut melengos ke meja kerja sambil bicara dengan nada lesu, “masih pakai cara lama. Anda takkan menang bersaing di kekuatan tempur, tentara kita langsung habis setelah disebar ke bekas wilayah Tzudi minggu kemarin ….”
Ah, ya! Tahun lalu sepertiga wilayah Tzudi jatuh ke tangan Serindi Raya dan hak prerogatif ‘tuk mengelolanya diberikan pada bocah yang kini duduk melihatku sembari senyum menunggu jawaban penuh harap dari bekas meja kerja Kakak Ketiga sebelah sana.
Ru-An, Manchu, dan Ra-Hwa. Tiga kota ini tambah delapan kota-kota kecil sekitarnya sekarang tercatat di dokumen administratif Ritie sejak akhir musim dingin serta efektif pada musim semi.
Yang mana, secara harfiah, itu berarti tumpukan tugas di meja kerjaku menggunung sepanjang musim sebelum ganti ke musim panas ini. Aku capek sekali, kalau kalian tanya. Hah!
“Kalau sekarang memaksakan diri melaksanakan titah Mapu,” tuturku pada sang kepala negara bagian mungil kita, “Anda harus siap untuk mengorbankan prajurit-prajurit dari ibu kota lagi.”
“Apa maksudmu?” tanyanya setengah naik ke atas meja, seperti biasa. “Kepala Penyiasat, bukankah Ayahanda mengirimi kita hadiah pasukan terbaik dari—”
“Enam ribu orang!” selaku lantas mengambil laporan tera lalu menyodorkannya kepada si raja wilayah alias pu termuda sepanjang sejarah Serindi itu, “benar. Anda boleh baca sendiri catatan ini, silakan.”
Ia cemberut padaku sebelum pasrah menerima kertas tersebut.
“Hanya kita berdua di ruangan ini,” sambungku, sengaja mengganggu konsentrasi anak itu supaya gak terlalu fokus. “Jika boleh jujur, bawahan lebih suka seandainya kita melakukan ‘pendekatan emosiaonal’ ke orang-orang di Ru-An, Manchu, dan Ra-Hwa macam Ritie di tahun pertama Anda dulu sebelum memanggil paksa mereka untuk berperang. Bagaimana?”
“Ya, dan setelah itu aku akan dicap ‘tak berbakti’ lagi macam kemarin.”
Sekadar informasi. Diriku sebetulnya malas bekerja ‘tuk Serindi Raya, termasuk membantu bocah sebelahku menangani urusan di taman bermain seluas tujuh belas mare yang ia namai Ritie ini. Apesnya, aku juga tidak bisa menghindar sebab masih memakai seragam sekolah.
Mau gak mau. Ya, ‘kan?