“Hem. Kepala Penyiasat?”
“Ya, Pu?”
“Sekarang apa …?”
Di bagian sebelum ini kubilang kepasifan Ritie ada kaitannya dengan rencanaku, bukan?
Nah, biar kujelaskan sebagian maksudnya sekarang. Kenapa Ambas Trara lebih baik bertahan ketimbang lanjut menekan Tzudi macam Pi sama Nare menekan Nadi dengan Azura di selatan dan utara.
Paling tidak sampai ayahandanya turun tahta.
“Kenapa di peta ini kotaku kaukelilingi pasukan Serindi …, Ayahanda, Kak Prama, Bekas Penasihat Runibi, dan kenapa juga senjata-senjata berat di sana itu malah kaubalikkan arahnya ke dalam me—mengincar gerbang kota. Oi, Kepala Penyiasat?!”
“Anda benar tidak tahu, atau hanya kura-kura dalam perahu?” tanyaku sebelum lanjut memanggil Tera Gong, “Tera, tolong kau duduk sebelah Pu. Benar, kita akan mulai simulasi macam kemarin lagi.”
“Apa simulasi? Simulasi apa? Kepala Penyiasat, kau masih belum menjawab pertanyaanku, ya!”
“Tolong sabar, Baginda. Kepala Penyiasat sebentar lagi akan menjelaskan kenapa kita melakukan simulasi pengepungan kota semacam ini sambil jalan.”
“Huh. Awas kalau penjelasanmu tidak memuskan ….”
Tentu, penjelasanku musim lalu itu memang tidak dan takkan pernah memuaskan sebab pembukanya saja sudah serbuan ke Ritie dari tiga arah serentak. Ibu Kota Serindi Raya di timur, Kauro di utara, dan Nare di selatan. Tiga wilayah yang selama hampir dua tahun menguras lumbung taman bermain milik si pu mungil.
“Apa-apaan ini?!”
“Ada yang salah, Pu?”
“Kepala Penyiasat, kenapa saat Tera Gong mendorog serdadu-serdaduku ke Tzudi kau malah mendorong meriam tempur Ayahanda kemari?”
“Seperti yang Anda lihat, kita ada di tengah-tengah—”
“Bukan!” Raja wilayah mungil kita melotot. “Kenapa Ayahanda menyerangku?”
Menjawabnya, mari mundur dua musim ke belakang.
“Anda lupa apa yang terjadi musim dingin tahun kemarin, Pu?” tanyaku sambil topang dagu, “ayahanda Anda mengirim lima puluh ribu orang ke wilayah Ritie.”
“Itu bantuan untukku di garis depan.”
“Luarnya, ya. Namun, bagaimana jika saat itu dua penasihat lain gagal menjepit Tzudi lalu Anda terkurung di antara timur Ding, selatan Nadi, dan utaranya Azura?”
“Kau mau bilang Ayahanda mau menggunakan pasukannya buat mengambil wilayahku, hah?”
‘Bagus, aku suka belalakan singkatnya.’
“Tunggu dulu!” Anak itu kini pegang dagu, berpikir. “Kalau Ayahanda mau wilayahku kenapa beliau tidak langsung mengeluarkan titah, lebih mu—”