Catatan Keempat: Serindi

Saepul Kamilah
Chapter #19

Penasihat Kanan Wu

“Selamat jalan, Kepala ….”

Hari berikutnya di pengujung Musim Panas 224 Shirena. 

Aku bertolak dari Kantor Muri Distrik Barat Ritie ‘tuk menuju Ibu Kota Serindi Raya sesuai rencana kemarin kemudian sampai ke tujuan satu bulan kemudian. Akan tetapi, beda dari apa yang kubilang pada semua orang, keretaku langsung ganti arah begitu tiba di depan gerbang Ibu Kota lalu lenyap dari pandangan.

Segera, kabar hilangnya keretaku saat menuju Ibu Kota tersebut pun menjadi perbincangan. 

Sebagian berpikir positif dengan bilang diriku mungkin mampir atau melakukan penyelidikan di suatu tempat guna mendukung kampanye tahun ini, sebagian lagi langsung buruk sangka rombonganku ditangkap lalu ditahan di Ibu Kota.

Banyak cerita beredar. 

Namun, satu hal sangat jelas, kepergianku kala itu menjadi penutup catatan di gulungan pemberian Guru Tua dan aku tidak melakukan apa yang dianggapkan orang-orang. 

Hingga hari ini ….

“Musim gugur?” 

Ketika hari kelulusanku datang. 

“Sekarang sudah musim gugur 224-kah, Empat?”

“Penutup musim gugur,” timpalku lantas berhenti di depan salah satu sel penjara bawah tanah bekas ibu kota militer Kerajaan Vu, Serindi Lama. “Lama tak bertemu, Guru ….”

*** 

“Rasanya baru kemarin kita berdua diborgol lalu dijebloskan ke ruang bawah tanah ini, siapa sangka bahwa lima tahun itu ternyata sangat singkat.”

Satu sudut bibirku naik mendengarkan Guru Tua.

Beliau yang lima tahun lalu kukira hanya seorang cendekiawan, rupanya lebih dari sekadar pemikir berat. Ahli falak dan geografi ulung, punya pengetahuan herba mendalam, tahu cara bermain siasat serta paham ilmu tata negara. Benar-benar di luar dugaan jika lihat penampilan sederhana sehari-harinya.

Tusuk konde ranting plum, jubah putih mulai lusuh, dan hampir tidak ada pernak-pernik atau tambahan apa-apa selain giok tanda kepala sekolah yang menggantung di pinggang kiri beliau—aku takkan melihatnya jika Guru Tua tidak berdiri barusan.

“Bagi murid, kata singkat tadi sudah lebih lama daripada selamanya.”

“Oh. Benarkah …, tapi bukankah dirimu tetap berhasil sampai ke hari ini juga, Empat?”

“Benar ….”

Kuisikan cangkir teh beliau lantas mendorongkannya melewati sela jeruji.

Lihat selengkapnya