"Ayah kamu galak Bin?"
Binar tidak menyahut pertanyaan Lana, gadis itu berjalan sambil menendang-nendang kerikil. Banyak pertanyaan semacam ini yang Binar dapat dari teman-teman sekelasnya. Kadang jika terus-terusan didesak untuk menjawab, Binar menjawab seadanya. Walaupun terkadang jawaban yang ia berikan asal, sebab Binar belum benar-benar mengenal sosok ayah sambungnya itu. Kadang pula Binar menganggap angin lalu pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya itu.
Siang ini Binar dan ke-empat temannya bekerja kelompok. Mereka mendapatkan tugas kesenian untuk membuat karya seni terapan. Minggu lalu kelompok mereka sudah dibagi dan masing-masing kelompok sudah berdiskusi akan membuat karya seni apa nantinya.
Tepat didepan rumah Binar, mereka berhenti. Tampak ayah Binar tengah duduk santai di teras rumah dengan sebuah laptop di pangkuannya.
"Itu ayah kamu Bin?" Tanya salah satu teman Binar, Fiki.
Binar mengangguk, "Assalamualaikum."
"Assalamualaikum," ucap mereka kompak mengucap salam.
Ayah Binar tampak melepas kacamatanya. Beliau bangkit dan menghampiri Binar beserta teman-temannya. Bola mata mereka kompak mengikuti pergerakan Alan yang menghampiri mereka di pintu gerbang rumah.
"Teman-temannya Binar?" Tanya Alan dengan ramah.
"Fiki om," sapa Fiki lalu mencium tangan Alan lalu diikuti oleh Lana dan Rosa tak terkecuali Binar.
Tak lama setelah dipersilakan untuk masuk, Ibu Binar pulang. Beliau baru selesai mengajar di Sekolah dasar yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Dengan wajah lelahnya Ibunya tetap menyambut teman-teman Binar dengan ramah. Beliau menyapa teman-teman Binar tak lama itu pamit masuk ke rumah untuk membersihkan diri.
Ibu Binar merupakan seorang guru sekolah dasar. Beliau sudah mengajar selama sepuluh tahun di sekolah dasar tersebut. Hari ini Ibu Binar telat pulang, semalam beliau mengatakan bahwa hari ini akan menghadiri rapat komite sekolah. Biasanya Ibu Binar pulang sekitar jam satu siang. Kecuali jika hari Jumat beliau akan pulang lebih awal.
Setelah berdiskusi minggu lalu, Binar dan teman kelompoknya memutuskan untuk membuat vas bunga dengan menggunakan stik kayu. Mereka diberi waktu selama dua kali pertemuan untuk menyelesaikan karya seni rupa tersebut. Yang kemudian minggu depan masing-masing kelompok diharuskan untuk mempresentasikan hasil karya seni yang telah mereka buat.
Satu per satu stik kayu tersebut diberi lem pada bagian satu sisinya kemudian dilekatkan satu persatu menjadi bagian dari vas yang ingin mereka buat. Ayah Binar membantu mereka dengan mengarahkan supaya hasil karya yang mereka buat sesuai dengan fungsi dan keindahan.