Catatan merah Binar

Mentari sendja
Chapter #4

#4

"Emmh..."

Binar melenguh dalam tidurnya. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap. Binar terbangun ketika merasakan kakinya seperti disentuh sesuatu. Ia menyalakan lampu kamarnya, lalu mengedarkan pandangan. Mencari serangga yang menyentuh kakinya. Barangkali itu hanya Serangga yang hinggap.

"Tapi kalau nyamuk nggak mungkin," guman Binar.

Binar menyibakkan selimutnya. Ia melempar asal bantal dan gulingnya. Mencari serangga yang mengganggu tidurnya sejak kemarin. Binar lupa. Mungkin ini malam keempat ia terbangun. Kemarin ia juga terbangun karena merasakan sesuatu menyentuh ceruk lehernya. Ia mencari di sekitar kasur. Barangkali ada serangga yang bersembunyi dibawah bantal. Namun ia tak menemukan apa-apa.

Sempat ia berpikir positif. Mungkin kalungnya yang membuat tidurnya tidak nyaman. Tapi keesokan harinya Binar sadar, ia tidak mengenakan kalung itu. Kalung itu ia Simpan didalam lemari. Dan Binar sudah memastikannya. 

"Nggak mungkin kan ada hantu?"

Binar mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Ia duduk ditepi kasurnya sambil menepuk-nepuk bantalnya. Memastikan kembali tidak ada serangga yang bersembunyi dibawah bantal maupun selimut. 

Jam menunjukkan pukul dua malam. Rasa kantuk kembali menyerang Binar. Tanpa mematikan lampu kamarnya, Binar menarik selimut dan melanjutkan tidurnya. 

 

***

"Binar dasinya sudah dipakai belum?" 

"Masih dicari Bu," sahut Binar dari kamar.

Danisah menghela napas. Sudah lebih dari sepuluh menit Binar mencari dasi, tapi anak itu tak kunjung menemukannya. Danisah menyusul Binar ke kamarnya. Tampak gadis itu sedang menggeledah tasnya. Danisah hanya menggelengkan kepala melihat Binar yang tampak buru-buru mengeluarkan isi tasnya. 

Setiap malam Danisah selalu mengingatkan Binar untuk menyiapkan keperluan sekolah untuk esok hari. Tujuannya agar Binar tidak buru-buru saat pagi tiba.

Namun semalam Binar tampak tidak menghiraukan ucapannya. Gadis itu berdalih bisa menyiapkan keperluan sekolahnya sebelum tidur. Katanya tugas sekolahnya banyak. Danisah sudah mengingatkan Binar untuk menyiapkan keperluan sekolah. Namun tampaknya anak gadisnya itu lupa.

"Nggak ada Bu," gerutu Binar.

Seingat Binar, kemarin sepulang sekolah ia menyimpan dasinya di dalam tas. Jadi ia merasa tidak perlu menyiapkannya lagi. Kalau sudah begini, Binar hanya bisa terus mencari dasinya sambil merutuki dirinya. Meminta bantuan Ibunya sudah pasti akan dibantu. Tapi pasti dibarengi omelan yang sudah bisa ia tebak.

"Tuh dasinya liatin kamu," ujar Danisah sambil menatap lurus ke belakang Binar. Di sana, di rak gantung, dasinya tergantung.

Binar menoleh ke belakang. Ia melihat dasi yang tampak seperti melambai-lambai mengejeknya. Binar berdecak kesal, lalu mengambil dasi tersebut.

Lihat selengkapnya