Catatan merah Binar

Mentari sendja
Chapter #5

#5

Tik tak. Tik tak. 

Suara jarum dari detik meramu menit membawa Binar pada malam yang semakin larut. Kesunyian seperti menguasai Binar. Gadis itu tak bergerak. Alisnya menukik tajam, wajahnya menengadah. Menatap plafon kamarnya yang tampak membosankan.

Ramai. Kepala Binar dihantui rasa penasaran. Seperti sedang mencari kepingan puzzle. Tentang sesuatu yang tak sengaja ia lihat diatas plafon kamar mandi. Dan tentang sesuatu yang menyentuh kakinya malam itu. Apakah keduanya saling berhubungan?

Binar tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Perasaan takut dan penasaran mendominasi kepalanya malam ini. Binar ingin mencari jawaban, tapi nyalinya tidak cukup berani. Dan malam ini Binar tidak menantang. Lagi pula Binar tidak penasaran dengan wujud mahluk menyeramkan yang menganggunya. Ia hanya penasaran, apakah benar dugaannya?

Matanya terasa panas. Binar mencoba memejamkan mata selama beberapa menit. Namun otaknya sedang tidak mau diajak beristirahat. Binar frustasi, ini pertama kalinya ia tahu rasanya sulit tidur. Selama ini, ia tidak percaya jika ada orang yang mengatakan sulit tidur.

Lelah. Binar tidak bisa menahan matanya yang semakin panas. Ia menarik selimutnya, menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam selimut.


***

"Binar, bangun nak."

Binar melenguh. Tangan halus Ibu menyentuh dahinya. Kepalanya berdenyut. Semalaman ia tidak tidur. Cahaya matahari dari jendela membuatnya menyipit.

Dari celah mata, Binar menatap Danisah. "Jam berapa, Bu?"

"Jam enam. Kamu demam. Istirahat di rumah saja."

"Mmm..."

Binar tetap telentang. Menikmati usapan di kepalanya. Otaknya menimbang. Rugi kalau tidak masuk, bisa tertinggal. Tapi seingatnya, hari ini tidak ada tugas. Ia sudah memastikannya semalam.

"Ibu nggak ngajar hari ini?"

"Ibu tetap berangkat. Pulang seperti biasa. Kalau mau izin, Ibu pulang pas jam istirahat."

"Boleh gitu, Bu?"

"Kalau nggak bisa, nanti Ibu minta Ayah menemani Binar."

Binar diam. Matanya melirik ke setiap sudut kamar. Dulu dia berani ditinggal sendiri. Kadang Nenek mampir sebentar. Tapi setelah kejadian akhir-akhir ini, ia merasa tidak siap.

"Binar takut sendirian Bu, banyak hantu," Binar memelankan bicaranya, ia takut jika mahluk-mahluk itu mendengar ucapannya.

Ibunya berdiri menatap Binar dengan jengah. Kedua tangannya menyilang didepan dada. Binar tidak berani menatap Ibunya yang tampak marah. Binar tidak suka jika Ibu marah, walaupun memang Ibunya jarang sekali marah, lebih sering diam jika merasa tidak suka. Namun pernah Ibunya marah meledak-ledak, dan Binar hanya bisa menyesal dan meminta maaf.

"Binar, hantu itu tidak ada," ucap Ibunya dengan menekan setiap kata pada kalimatnya.

Suhu kamar Binar mendadak dingin, ia sudah menduga Ibunya akan bereaksi seperti ini. "Tapi-"

 "Bangun dan mandi kalau ingin tetap berangkat sekolah."

Binar menatap punggung Ibunya yang keluar dari kamarnya. Binar kecewa atas sikap Ibunya. Ibunya sendiri yang mengajarkan untuk tidak memotong pembicaraan orang lain. Binar mendengus, ia menepis pikiran buruknya terhadap Ibunya. Mungkin saja Ibunya sedang lelah dan menjadi lebih sensitif.

***

Binar tersenyum kerika angin menerpa wajahnya. Segar. Ia sendirian diatas komidi putar. Entah dimana. Tapi rasanya ringan. Lepas. Lalu tiba-tiba langit mendung. Kilat menyambar.

Tap. Tap.

Suara langkah memelan. Binar yakin ada yang berlari. Angin menghantam ayunan sampai hampir terbalik. Bayangan hitam melesat dari balik pohon. Memutar komidi putarnya. Semakin kencang. Binar berteriak, telapak kaki Binar terasa seperti dialiri listrik.

Lihat selengkapnya