Catatan merah Binar

Mentari sendja
Chapter #6

#6


"Udah bener nggak ada yang ketinggalan?" Tanya Danisah yang bersandar pada pintu kamar Binar.

Binar yang sedang mengemasi keperluan sekolahnya hanya melirik Ibunya sebentar. Lalu mengabsen satu per satu barang yang masuk ke dalam tasnya. Besok sepulang sekolah Binar akan melakukan remedial renang. Ia sudah konfirmasi dengan Pak Nata, beliau menjadwalkan pengambilan nilai untuk hari ini. Binar juga sudah meminta izin pada Ibunya. Ia sedikit lega melihat respon Ibunya yang tampak memaklumi hal ini. 

"Baju renangnya nggak mau pakai yang pendek aja? Biar lebih leluasa di air."

"Nggak Bu," jawab Binar lalu menutup resleting tasnya.

"Dulu di sekolah Ibu nggak ada pelajaran renang. Kalo mau berenang ya di sungai sama kakek."

Binar mendongak, ia menatap Ibunya yang tersenyum kecut. Danisah menghampiri putrinya lalu duduk disamping Binar.

"Ibu bisa berenang? Ibu nggak takut sama air?"

"Nggak, Ibu suka main air. Awalnya Ibu takut tapi karena ada kakek yang ngajarin dengan sabar, Ibu jadi percaya diri."

Binar mengangguk, Binar pun sama dengan Ibunya. Ia suka mandi berlama-lama. Hanya saja ia takut ketika berada di dasar air, takut sewaktu-waktu tenggelam.

"Sekarang Binar punya Ayah," Danisah tersenyum, ia mengusap surai putrinya. "Ayah Binar pandai dibidang olahraga. Binar lebih pandai dibidang akademik. Kalian bisa saling melengkapi. Binar bisa minta tolong Ayah buat ajarin Binar olahraga kayak renang. Nilai Binar biar lebih sempurna, nggak ada remedial lagi."

Binar tersenyum getir mendengar ucapan Ibunya. Binar paham betul maksud Ibunya. Didikan disiplin dan keras dari Ibunya jelas menginginkan anaknya tumbuh dengan sempurna. Seimbang dalam semua hal. Bagi Ibunya, kekurangan itu tidak ada. Binar bisa menutup celah itu dengan belajar menjadi lebih baik.

Dan, perihal peran seorang Ayah, bagi Binar itu adalah kekurangan Binar yang sebetulnya. Binar tumbuh tanpa sosok Ayah dalam hidupnya. Dan Ibu tumbuh dengan baik menjadi wanita dewasa yang Binar kagumi. Kakek dan Neneknya berhasil mendidik Ibunya. Sedangkan Binar, hanya tumbuh bersama sang Ibu tanpa peran Ayah. Sehingga sampai sekarang ia merasa bingung. 

"Jadi, Ibu berharap semester ini Binar bertahan di ranking satu ya. Jangan sampai turun hanya karena satu mata pelajaran, " ucap Danisah dengan lembut.

Danisah berdiri, mengusap kepala Binar dengan lembut. "Buat istirahat ya, biar besok nggak kecapekan."

Danisah meninggalkan kamar Binar. Menutup pintu dan mematikan lampu. Menyisakan ruang sunyi dan tatapan kosong Binar. Satu hal yang Binar ingat malam ini, ada harapan Ibu yang ingin diwujudkan oleh anaknya.


***


Binar menatap bangunan pemandian umum yang tampak kokoh meski sebagian cat temboknya sudah kusam. Kini ia berada di sebuah pemandian umum dekat sekolahnya untuk melakukan remedial. Terdapat taman kecil saat memasuki pintu masuk kolam renang. Tatapan Binar terkunci pada bunga gerbera yang mekar cantik di taman. Merah,kuning dan putih tampak memanjakan mata.

"Binar!"

Hampir saja Binar terjungkal, saat Rosa menarik tangannya. Ia menatap temannya dengan kesal. Untung saja Binar bisa menjaga keseimbangan sehingga tidak limbung.

"Kenapa Rosa?"

"Ganti baju dulu aja yuk!" 

"Udah dimulai? Kelas kita kan nunggu kelas sebelah selesai."

Rossa menggaruk tengkuknya, ia memamerkan deretan giginya. "Mmm...ganti baju dulu aja. Kita puas-puasin main air. Hitung-hitung latihan sebelum ambil penilaian."

Ide bagus, Binar tersenyum. Ia meninggalkan niatnya untuk memetik bunga gerbera. Bermain air sambil latihan berenang lebih menarik untuk saat ini. Rosa menarik tangan Binar agar bergegas cepat mengganti pakaiannya. Sesampainya disana toilet cukup ramai. 

"Ramai banget Rossa, kita nggak dapat bilik yang kosong," ujar Binar yang tampak kurang nyaman berada di tengah keramaian.

Lihat selengkapnya