Sesuatu yang menyentuh kakinya malam-malam.
Sesuatu yang menyentuh lehernya malam-malam.
Sepasang kaki yang hampir tiap malam berdiri di balik pintu kamarnya.
Lensa kamera yang diam-diam memotret dirinya tanpa aba-aba.
Sepasang mata yang mengawasinya di kamar bilas pemandian umum.
Tangis Binar pecah, amarahnya meledak-ledak. Dadanya seperti dijatuhi sebuah batu besar. Remuk, Binar hancur. Seorang kekasih, lelaki yang dipilih Ibunya untuk melindungi keluarga. Lelaki yang sangat dihormati oleh Ibunya. Mengawasi, menyentuh, merusak seorang anak perempuan yang belum mengerti dunia orang dewasa.
Dunia Binar seperti runtuh. Ia benci, marah. Ia tidak ingin melihat orang itu. Tidak ada tempat aman. Binar memeluk dirinya sendiri.
Binar menatap pantulan dirinya di kaca. Berantakan. Jejak-jejak air mata membekas di pipinya. Rambutnya tidak tertata, bahkan rontokannya berserakan di lantai. Seprai dan bantal tergeletak tak berdaya di lantai.
Kaca lemari yang retak, memantulkan bayangan dirinya. Binar menatap kedua matanya sendiri. Tidak ada masa depan di sana. Sorot matanya turun, menatap lehernya. Ia tidak sudi seseorang menyentuhnya di sana. Lalu turun, air matanya luber. Ia menggigit bibirnya. Tidak ada isakan. Ia membungkam dirinya sendiri.
Lensa kamera yang menyorot tubuh telanjangnya dengan kurang ajar. Sepasang mata seorang bajingan yang menikmati lekuk tubuhnya. Sungguh ia tidak sudi untuk semua itu. Tidak ada kerelaan sedikit pun.
Binar mengurung diri. Rasa takut, malu, marah ia simpan di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat. Tidak ada rasa aman. Tidak ada rasa percaya. Ibu mengira Binar gila, karena mengumpat pada kekasih yang Ibu dambakan.
Dua hari Binar mengurung diri. Setelah ia pulang dari pemandian ia bertengkar hebat dengan Ibunya. Ia tidak marah dengan Ibunya, tapi Ia kecewa atas pilihan Ibunya.
Saat tiba di rumah Binar menaham amarahnya. Niat hati ia ingin berbicara empat mata dengan Ibunya, dengan cara yang terbaik menurut Binar. Namun tak berselang lama Binar pulang, Alan datang. Dengan memasang wajah memelas, lelaki berengsek itu berbohong pada Ibunya.
"Kok pulangnya nggak bareng? Ayah jemput Binar kan?" Tanya Danisah pada Alan ketika memasuki rumah.
"Binar udah pulang? Ayah tadi ke pemandian untuk jemput Binar. Tapi Binar bilang mau pulang sama temannya."
Binar yang sedang duduk di kamarnya, tersulut. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarah Binar memuncak, dadanya naik turun. Binar meraih kotak tisu, lalu membawanya keluar dari kamar.
"Bajingan! Pembohong!" Teriak Binar lalu melempar kotak tisu pada Alan.
Meleset, kotak tisu itu tidak mengenai kepala Alan. Laki-laki itu tersenyum samar seperti mengejeknya. Danisah membalikkan badannya, menatap Binar dengan nyalang.
"Binar!"
Binar tersentak, Ibu membentaknya. Darah Binar terasa semakin mendidih. Binar takut, Binar marah tapi takut melukai Ibunya. Tatapan Binar melembut. Ia berharap sebuah keajaiban datang. Barangkali tiba-tiba Ibu bisa mendengar suara hatinya. Ia malu. Menatap tubuhnya sendiri pun ia merasa jijik.
"Ibu nggak pernah mengajari kamu seperti itu. Kenapa kamu kasar pada ayahmu sendiri?"
Binar mengatupkan rahangnya. Gigi-giginya gemeletuk. Mungkin jika digambarkan di sebuah film, bola matanya menyala merah. Di atas kepalanya mengepul asap. Di belakang Ibu, Alan pasti bersorak. Ibu memasang tameng di depan Alan. Laki-laki itu menyunggingkan senyum samar. Senyum yang tidak Ibu lihat.
"Ibu tanya sama bajingan itu."
Plak!
Binar memejamkan matanya. Tamparan tangan Ibunya mendarat di pipinya. Pipinya panas. Tamparan Ibu tidak keras. Hatinya tercabik-cabik, sakitnya berkali lipat. Ia menyentuh pipinya, menatap Ibunya dengan air mata yang mengalir. Seorang ibu memukul darah dagingnya demi melindungi laki-laki yang ia pilih.
"Ibu, tahan."
Alan melangkah maju tepat di samping Danisah. Mengusap bahu Danisah dengan lembut. Danisah menatap Binar, sebuah tatapan yang tidak Binar mengerti artinya.
"Binar, masuk kamar, Nak. Jangan membuat Ibu makin marah," ucap Alan dengan lembut.
Binar semakin mengepalkan tangannya. Ia menatap Alan dengan nyalang, seperti harimau yang siap menerkam mangsanya. Ingin rasanya Binar memukul Alan, membuat wajah bajingan itu babak belur.
Binar menahannya. Bekas tamparan Ibunya baru terasa nyeri. Binar mendengus. Ia meninggalkan Ibu dengan Alan, membanting pintu kamar, dan menutupnya rapat-rapat. Diraihnya botol parfum yang tergeletak di meja nakas. Ia melemparkannya dengan keras, membentur kaca lemarinya hingga pecah.
"Aku minta maaf buat sikap Binar ya, Mas. Maaf banget. Aku kaget Binar bisa kasar kayak tadi."
"Iya nggak apa-apa. Aku paham kok. Kamu tenangin diri dulu ya."
Samar-samar Binar mendengar percakapan Ibu dengan Alan. Binar meringkuk. Tangisnya pecah. Meraung dengan keras, tidak peduli tangisannya berisik.
Binar meringkuk. Tangisnya pecah. Meraung dengan keras, tidak peduli tangisannya berisik.
***
Tok! Tok!