Catatan merah Binar

Mentari sendja
Chapter #8

#8


"Nah kalau konjungsi subordinatif yaitu kata penghubung yang menghubungkan," kalimat Bu Iin terhenti.

Guru berkacamata bulat itu menatap Binar yang duduk di samping jendela. Menyadari kalimat Bu Iin berhenti, para murid pun mengikuti arah pandang Bu Iin. Binar sedang melamun. Itu yang menjadi penyebab Bu Iin menjeda kalimatnya.

"Binar?" panggil Bu Iin dengan halus.

Binar tidak menoleh. Ia tetap hanyut dalam lamunannya. Rosa yang duduk di samping Binar berusaha menyenggol kaki Binar agar teman sebangkunya itu tersadar.

"Binar Ayu!"

Suara lantang Bu Iin, dan kaki yang disenggol Rosa, membuat Binar tersadar dari lamunannya. Ia gugup menatap Bu Iin yang tampak marah. Binar meremas roknya.

"Iya, Bu?"

"Kenapa tidak mendengarkan? Sudah merasa pandai kamu?" cecar Bu Iin pada Binar. "Berdiri! Berikan contoh konjungsi subordinatif."

Binar menelan ludah. Ia berdiri. Tanpa menoleh pun ia tahu, semua mata teman-temannya tertuju padanya. Binar menunduk. Ia malu.

"Tiga contoh. Sebutkan."

"Jika... karena..." Binar meremas roknya semakin kuat. "Jika... karena..."

"Stop!" potong Bu Iin dengan gestur tangan yang menunjuk pintu kelas. 

"Keluar. Bawa buku kamu. Kalau kamu sudah paham bab konjungsi, setor macam-macam konjungsi beserta pengertian dan contohnya. Sepulang sekolah saya tunggu kamu di ruang guru."

Wajah Binar memanas. Ia menahan malu. Binar mengambil bukunya. Ia menunduk, melangkah cepat keluar dari kelas. Binar berlari-lari kecil di sepanjang koridor. 


Di ujung anak tangga, Binar menangis. Ia memeluk lututnya. Binar marah pada dirinya sendiri. Ini pertama kalinya ia dihukum oleh guru. 

Binar tidak bermaksud menyepelekan ataupun tidak menghormati gurunya yang sedang mengajar. Hanya saja, ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia sulit untuk fokus. Pikirannya melayang entah ke mana.

Binar tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini ia sering melamun. Beberapa kali Rosa menegurnya, begitu pun teman-temannya yang lain. 

Kadang ia juga bingung. Mengapa tiba-tiba ia sudah berada di rumah, padahal ia merasa belum pulang. Ia tidak ingat kapan ia berjalan menuju rumahnya. Daya ingatnya seperti turun. Mungkin karena hampir tiap malam Binar terjaga.

"Baru pertama kali ya ngerasain dihukum?"

Binar berjengit kaget. Ia mengusap air matanya sebelum menoleh. Berjarak dua anak tangga, Fiki duduk di belakangnya. Laki-laki itu duduk sambil memainkan rubik.

"Ngapain?"

Fiki mengerjapkan matanya. Ia tersenyum polos. "Dikeluarin juga dari kelas."

"Kenapa? Berantem sama Lana?"

Fiki mengedikkan bahunya. "Gue bilang bosen di kelas. Yaudah Bu Iin nyuruh buat nemenin lo."

Binar menggelengkan kepalanya. Ia kembali meluruskan badannya. Membuka buku Bahasa Indonesia dan mencari bab konjungsi. Dikeluarkan dari kelas bukan berarti Binar bisa bebas. Ia harus membaca seluruh bab, dan memahami keseluruhannya sebelum menemui Bu Iin sepulang sekolah nanti.

Merasa diabaikan oleh Binar, Fiki menuruni anak tangga agar posisinya sejajar dengan Binar. Merasa tidak siap dengan apa yang dilakukan Fiki, Binar bergidik. Tubuhnya tersentak, bergetar dengan tiba-tiba.

"Eh maaf, Bin," ujar Fiki yang juga menatap Binar kebingungan.

Fiki kembali menaiki dua anak tangga. Ia duduk di belakang Binar lagi. Punggungnya disandarkan pada tembok, kaki jenjangnya ia luruskan. Binar tampak salah tingkah. Fiki melihatnya. Ia merasa tidak enak hati pada Binar. Ia pun memejamkan mata, berusaha menikmati tiupan angin yang sejuk.

"Kalau mau masuk ke kelas, bangunin ya, Bin."

Lima belas menit berlalu. Binar selesai membaca dan mencoba menjawab soal yang ada di buku mengenai bab konjungsi. Binar menutup bukunya, melirik jam tangannya. Masih tersisa empat puluh menit sebelum mata pelajaran Bahasa Indonesia berakhir. 

Binar menoleh ke belakang. Ia baru ingat tadi Fiki duduk di belakangnya. Fiki benar-benar tertidur. Cowok itu tampak pulas dengan angin yang meniup rambutnya.

Binar mengerucutkan bibirnya. Ia bingung harus melakukan apa di sisa waktu empat puluh menit ini. Binar mengeluarkan buku catatan yang ia selipkan di buku besar. Diam-diam ia mengeluarkannya, agar tidak ketahuan oleh Fiki. Binar mencari lembar yang masih kosong. Ia mulai menulis, mengisi baris-baris kosong dengan penanya.


***



Binar berdiri di depan ruang guru. Ia sendiri. Rosa tidak jadi menemaninya karena Ibu Rosa sudah menunggu di depan sekolah. Rosa sudah menawarkan untuk tetap menemani Binar, namun Binar menolak. Ia merasa tidak enak hati jika harus merepotkan orang lain. 

Binar mengintip dari jendela ruang guru yang besar. Tampak di dalam ruangan tersebut masih ada beberapa guru yang bergerombol membicarakan sesuatu.

Binar mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Ia malu jika harus masuk ke ruangan itu ketika para guru tengah berkumpul. Di sisi lain, Binar takut jika ternyata Bu Iin sudah menunggunya.

"Mau cari siapa?"

Binar menoleh. Ia menggeser tubuhnya ketika melihat Pak Nata yang berdiri di sampingnya. Rambut guru olahraga itu sedikit basah di bagian depan.

"Oh, Binar. Cari siapa, Bin?"

Binar mengangguk kaku. Ia tersenyum. "Ada perlu dengan Bu Iin, Pak."

"Silakan, masuk saja. Bu Iin ada di dalam."

Benar saja. Setelah mengatakan itu, Pak Nata membuka pintu. Tampak Bu Iin yang tengah duduk menatapnya. Guru itu membenarkan letak kacamatanya lalu menyuruh Binar untuk masuk.

Binar memegang kenop pintu. Ia bersiap untuk masuk ke ruang guru. Namun niatnya ia urungkan ketika merasakan kepalanya diketuk oleh seseorang. 

"Semangat, Bin!"

Binar menoleh. Fiki berdiri di sampingnya dengan memamerkan deretan giginya yang rapi. 

"Makasih. Kamu mau ketemu Bu Iin juga?"

Fiki mengangguk. "Lo duluan, abis itu gue."

Lihat selengkapnya